
Sesampainya di RS Ami langsung dibawa ke ICU ,kondisinya sangat buruk ,lagi lagi kabel dan jarum melukai tubuh mungil Ami.
Geo langsung menelfon Eza dan Edo ,juga Ayah Ami mengingat sekarang hubungan mereka sudah sangat baik jadi Geo berfikir jika Ayah Ami berhak dan berkewajiban mengetahui kondisi Ami .
30 menit kemudian Edo dan Ayah Ami telah tiba, sedangkan Eza sudah sejak tadi frustasi didepan pintu ICU.
Tak lama kemudian Dr.Anton keluar dan menyuruh mereka keruangan nya.
"Ami harus segera dirawat di Jepang, aku tidak mau mengambil resiko.!" Kata Dr.Anton setelah masuk keruangannya
"Baik, aku akan menelfon Eyang, untuk menyiapkan semuanya.!" Kata Eza langsung keluar ruangan dan menelfon sang eyang untuk memberitau kondisi terkini Ami.
"Apa Ami akan baik baik saja.?" Tanya Ayah Ami hawatir
"Aku akan berusaha keras, aku juga akan mengandeng beberapa dokter berpengalaman disana, secara aku adalah dokter pribadi keluarga besar Akabane, aku akan ikut ke Jepang dan membantu proses penyembuhan Ami." Kata Dr.Anton serius
__ADS_1
Setelah selesai bercakap cakap, Edo langsung membagi tugas ,yaitu Eza akan mengurus semua yang berkaitan dengan Ami untuk kejeoang nanti ,seperti seorang perawat, asisten pribadi ,dan lainnya . Tugas Geo adalah terus mengamati dan mengatur acara pesta ulang tahun Ami ,walaupun kemungkinan besar Ami tidak akan diperbolehkan keluar RS ,sedangkan Edo akan mengurus semua dokumen dokumen keluar dari Airi High School ,serta semua yang berkaitan dengan Sekolah Ami.
Sedangkan Ayah Ami, ia bertugas menjaga Ami di ICU VIP RS.
Ia merasa sungguh menyesal telah menyia nyiakan Ami waktu sehat, ia harusnya bisa menyenangkan anak gadis satu satunya, seperti menemaninya belanja, mencicipi masakannya, atau membelikan pembalut saat menstruasi pertamanya. Tapi momen momen memalukan sekaligus bahagia sepertiitu tidak pernah ia lakukan bersama putri kecilnya.
"Sayang, maafkan papa ,papa memang tak berguna ,papa gagal jadi seorang ayah. Nak bertahanlah ,sembuhlah maka papa akan memenuhi tanggung jawab papa yang papa sia siakan dulu.!" Kata Ayah Ami sambil mengelus puncak kepala Ami
"Papa nggak mau kehillangan untuk kedua kalinya, papa sayang Ami jadi cepatlah bangun dan bangkit lagi, berikan senyuman lepasmu pada papa nak.!" Kata papa Ami lagi sambil menangis
"Papa.hu hu hu ,... " Ami akhirnya membuka matanya yang sudah basah karena menangis
Ayah Ami yang mendengar Ami memanggil namanya pun langsung menghapus air matanya,
"Sayang papa ,sudah bangun nak.?" Ayah Ami langsung mengusap kepala Ami dengan Lembut
__ADS_1
"Papa, Sakit.!" Keluh Ami ,kapan lagi ia bisa mengeluh dan bermanja manja dengan sang Ayah
"Sakit, dimana yang sakit.?" Kata Ayah Ami langsung berdiri panik
"Disini" menunjuk perutnya "Disini" menunjuk tengorokannya, sakit karena sering muntah jadi lecet, "Disisni." Menunjuk kepalanya dan terahir, "disini.!" Menunjuk dadanya
"Disini yang paling sakit papa.!" Kata Ami menunjuk dadanya beberapa kali
"Sakit sekali, saat aku melihat papa menangis.!" Kata Ami ,suaranya begitu lemah ,dan tangannya dipenuhi alat alat medis yang menyakitkan
"Papa, wajah papa semakin lama semakin tidak jelas, Ami sangat takut saat semuanya menjadi gelap dan hilang" kata Ami menangis
"Ami, dengar papa nak, papa sayang sama Ami, kak Edo kak Eza semua sayang sama Ami, Ami harus bisa melawan ini ya nak, papa percaya Ami kan Anak yang kuat.!" Kata papa Ami sambil menangis Bawang.
Ia benar benar merasa sakit dilubuk hatinya, rasa menyesal, rasa takut ,rasa sedih semua bercampur memenuhi hati nya
__ADS_1
Pria yang sudah berusia sekitar 49 tahun, harus siap dengan segala resiko ,dari dibenci sang mertua ,ditinggal sang Anak, hingga bisa saja ia mati karena putus asa dan mati karena takut kegilangan untuk kedua kalinya ,apa lagi Ami adalah duplikat sang istri yang sudah tiada.