
Sudah 2 minggu Ami masih berada di RS ,dr.Anton tidak mengizinkan Ami untuk keluar dari ruangannya, dan Eza menambah agar AmI tidak turun dari tempat tidurnya, kecuali ke toliet saja.
"Kak, aku bosan.!" Kata Ami menatap Eza yang sedang menyiapkan makan siang untuk Ami
"Buka leptopmu, aku sudah mengisinya dengan film bergenre action kesukaanmu.!" Eza masih sibuk menuangkan air putih hangat
"Aku sudah pernah melihatnya semua, kak ajak aku jalan jalan pakek mobilmu dong.!" Kata Ami dengan menunjukkan mata berbinar bak kucing yang lapar
"Kalok kau mau berobat ke Jepang, aku akan mengajakmu jalan jalan, aku akan mengantarmu kesekolah setiap hari, dan aku akan menjemputmu juga, bagaimana mau kesana ?" Tawar Eza menyondorkan sendok berisi bubur hangat pada Ami
"Aku ingin ikut ujian dulu kak, sayang sekali tinggal beberapa bulan aku akan lulus." Kata Ami setelah menelan bubur yang disondorkan padanya tadi
"Kenapa selama itu, aku ingin lusa kau berangkat." Kata Eza masih setia menyuapi Ami
"Apa eyang sudah tau.?" Tanya Ami menghentikan kunyahannya matanya membulat
Eza hanya mengelengkan kepalanya, sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi, kak Edo yang akan bilang pada Eyang.!" Kata Eza meringis
__ADS_1
"Habiskan makananmu, aku akan membawakanmu monopoli kita bisa main agar kita tidak bosan." Kata Eza setelah membereskan makanan Ami
Eza pun bergegas keluar ruangan ruangan setelah pamit pada Ami, jika dia akan pergi mengambil papan monopoli dan beberapa permainan lainnya, yang ia beli bersama Ami saat mereka berbelanja bersama.
Sepergian Eza, Ami berfikir bagaimana nantinya jika eyang marah ke kakak nya juga ke papa nya, Ami pun mengambil ponsel nya yang tergeletak dimeja
Ia melihat, banyak panggilan tak terjawab dari Candra, pesan singkat juga banyak dia kirimkan, seketika hati Ami berdesir merasa sakit, matanya terpejam dan tangannya mencengkram dadanya.
"Ah ,itai (sakit)!" Kata Ami meringis saat sebuah jarum merobek kulit mulusnya
Ia pun langsung menelfon eyang nya, dadanya langsung berdegup saat menunggu sang Eyang mengangkat panggilannya,
Tuttt ... tut ... tut.... ,cekrek "moshi-moshi (hallo untuk panggilan telefon)." Eyang menerima panggilan itu
"Sayang eyang, sedang apa kau sayang ?" Tanya Eyang penuh kasih
"Ami sedang duduk duduk saja eyang, Ami rindu Eyang.!" Kata Ami
Eyang Ami pun terdiam ,tidak ada jawaban dari sebrang, Ami merasa takut dan was was dengan apa yang dilakukan sang eyang disebrang sana.
__ADS_1
"Eyang," panggil Ami
"Iya, Ami eyang sudah tau semuanya, Ami pulang ke sini nak, ayo kita berjuang bersama sama ,biar Ami sembuh sayang.!" Kata Eyang ,terdengar jelas jika eyang menangis
"Eyang, maafkan Ami ,Eyang jangan marah sama papa ya, jangan pukul papa" kata Ami ketakutan
"Ini memang salah papamu, dia tidak bisa menjagamu dengan baik, pulanglah sayang ,biar eyang yang menjagamu.!" Kata Eyang, suaranya terdengar marah namun masih lembut
"Eyang, Ami sayang sama papa ,yang Ami punya cuma papa ,Ami tidak mau yang lain lagi eyang, Ami akan menunggu disini sampai Papa mau menerima Ami, mau memaafkan Ami, sampai papa mau memelukku, Ami hanya ingin itu Eyang, Ami yakin papa pasti mau menerimaku walaupun saat itu adalah waktu terakhir Ami menghirup udara.!" Kata Ami ,tubuhnya mulai bergetar lagi, airmatanya kembali mengalir
"Tidak, tidak ,jangan bilang seperti itu, aku hidup selama ini hanya agar bisa menjaga dan melihatmu Ami, jika kau pergi dahulu daripada eyang ,apa gunanya eyang hidup selama ini, lebih baik eyang pergi saja sekarang.!" Kata Eyang Ami , suaranya terbata bata karena tangisannya pecah
"Jagan begitu eyang, " Ami menangis sesengukan, tangisannya pecah ,ia tak sanggup lagi untuk berbicara,
Disaat itulah Eza datang dari persembunyiannya, ia daritadi berdiri diluar kamar rawat Ami, ia ikut menangis mendengar perkataan Ami
"Eyang, istirahat lah , Ami juga akan beristirahat ,Eza akan pastikan Ami baik baik saja.!" Kata Eza menyahut ponsel Ami
Eza langsung memeluk Ami dengan erat, Eza hanya bisa membelai lebut rambut pendek Ami, seakan Eza memberikan suatu energi untuk menyuatkan sang Adik,
__ADS_1
"Jadi hal kecil ini yang diinginkan Ami, akuvakab berbicara pada papa, agar papa mau menerima Ami." Kata Eza dalam hati
Eza pun memeluk Ami dengan erat ,dan mengecup puncak kepala Ami dengan lembut, dan mengusap pipi Ami yang basah karena air mata .