Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Marah !


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 3 sore, Candra masih setia menemani Ami , dan sekarang Candra membantu Ami untuk belajar, gadis baik walaupun sakit dia masih saja belajar dengan giat agar tidak tertinggal dari belajarnya.


"Ami, aku pergi keluar dulu ya." Kata Candra


"Mau ngapain,?" Tanya Ami


"Beli kopi, kamu mau?" Tanya Candra


"Kalau kau lelah, tak perlu menungguku toh 3 hari lagi aku pulang." Kata Ami membuang muka


"Apa yang kau katakan, aku tak lelah.!" Kata Candra membelai ujung kepala Ami dan pergi


"Kenapa dia selalu saja menyentuh ujung kepalaku, mengesalkan.!" Gumam Ami tanpa expresi.


Tiba tiba pintu terbuka,


"Ayah" kata Ami lirih ,antara senang ,takut juga terharu. Ayah Ami mendekat dengan tatapan dan raut wajah yang tidak menyenangkan. Matanya melotot rahang nya mengeras, dan


"Plakk.!" Suara tamparan mengema diruangan, ya tamparan itu mendarat dipipi tirus Ami , sangat keras hingga ia tersungkur di kasur, Ami memenganga tak percaya dengan apa yang terjadi, pertama kalinya ayahnya menghampirinya tapi malah tampatan tang ia dapat. Ia mengettakkan rahangnya kuat kuat, Ami tak menangis sama sekali, tidak setetespun.


"Tidak bisa kah kau hidup tanpa membuat masalah untuk hidupku, tak cukup kamu membunuh ibumu, apa kau juga ingin aku mati, tak cukup aku habiskan uang dan memberikan namaku untukmu, kenapa kau selalu bertingkah seperti ini.!!" Kata ayah Ami penuh emosi , sambil mengangkat telunjuknya dan desekali telunjuk nya itu mendorong kepala Ami dengan keras.

__ADS_1


Ami hanya diam dengan perkataan ayahnya, tak ada jawaban atau balasan darinya, hanya diam dan pastah dengan kekerasan dan kekasaran sang ayah.


"Dengar , sekali ini lagi saja eyang memukulu karena kau, jika kedepannya dia memukulku hanya untuk membelamu, aku kan membuatmu benar benar menderita ingat itu!" Kata ayah Ami sambil mendorong kepala Ami lagi dengan telunjuknya "dan satu lagi, jangan Mau jika diajak keJepang, awas saja kalau kau mau.!" Kata ayah Ami pergi ,saat membuka pintu ayah Ami terkejut karena ada seorang gadis berdiri diluar pintu dengan wajah tak percaya. Ayah Ami hanya mendengus dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan kesal.


Gadis itu adalah Lia, Lia mendekati Ami dengan rasa iba.


"Ami." Panggil Lia pelan


"Apalagi yang kau inginkan.!" Kata Ami dingin dan menunduk


"Aku-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya ,lengan Lia sudah dicengkram keras oleh Ami


"Kau salah faham, tidak aku yang salah . Aku ingin minta maaf.!" Kata Lia berusaha melepas cengkraman tangan Ami dari lengannya.


"Maaf,?! tadinya aku sudah ingin berdamai denganmu, tapi melihatmu picik sepertiini aku menjadi muak dengan pemikiranku." Kata Ami menurunkan kakinya menepis rasa sakit dikaki kirinya.


"Jangan turun dari bet mu, Ami kau salah paham, maafkan aku.!" Kata Lia lagi


Tapi omongan Lia tak digubris oleh Ami,


"Dasar rendahan.!" Kata Ami menarik rambut Lia, dengan reflek Lia mundur menarik kepalanya, namun naas Ami malah ikut ketarik dan dia jatuh dari bet

__ADS_1


"Ah,.. sakit ...!" Pekik Ami saat kaki kirinya jatuh terlebih dahulu


Lia berusaha membantu Ami, namun dengan cepat tangannya ditepis Candra yang tiba tiba sudah diruangan itu bersama Anza dan Vebri


"Sakit.!" Kata Ami akhirnya menangis histeris


"Tolong tombol daruratnya.!" Kata Candra mengangkat Ami kembali ke betnya


"Maaf, aku tidak sengaja.!" Kata Lia takut


"Kau senang kan aku begini, kau puas kan, apa lagi yang ingin kau perbuat, kalian senang kan aku begini.! Agar dia bisa masuk ke AVATAR~" Candra langsung memeluk Ami menengelamkan wajahnya di perutnya ,agar makiannya berhenti . Dokter Anton pun langsung masuk keruangan ,dan mengecek kaki Ami ya gips Ami retak dan mengeluarkan darah,


"Kalian melihat apa, apa yang kalian lihat.!" Teriak Ami sambil melempari buku pelajaran di dekatnya kesegala arah hingga mengenai Seorang perawat , Ami juga menarik taplak meja diatas nakas hingga membuat benda bebda yang ada di atas meja jatuh dan pecah dilantai


"Kalian keluar.!" Bentak Candra dengan nada tinggi


Dokter pun memberi Ami obat penenang. Dan langsung menghubungi Eyang Kakung untuk memberi tau pada beliau tentang kondisi Ami saat ini.


Untuk pembaca, terimakasih semoga hari kalian menyenangkan, jangan lupa like dan komen, agar saya terus bersemangat menyelesaikan novel ini.


Untuk pembaca, Domoarigatougozaimasu πŸ™πŸ’ž

__ADS_1


__ADS_2