
Eyang terus berada disamping Ami, sesekali mengelus kepala itu, mencium kening nya pula.
"A.. bangun sayang, cucu Eyang kan kuat, mari kita pulang.!" Kata eyang Ami siang itu
"Eyang, sekarang Eyang istirahat ya, biar Candra yang gantian jagain Ami." Kata Candra sambil mengelus pundak pria tua itu
"Aku akan menjaganya sampai dia bangun.!" Kata Eyang Ami tak bergeming
"Eyang, paling tidak Eyang kakung harus makan dan istirahat sebentar, setidaknya jaga dulu kesehatan eyang , baru eyang jaga Ami." Kata Candra dengan suara lembutnya
"Kau benar, nanti kalau aku sakit , siapa yang akan sayang padanya.!" Kata Eyang langsung berdiri dan keluar untuk makan dan istirahat
"Kak Edo, juga makan dulu ,kakak belum makan kan dari semalam.!" Kata Candra duduk disebelah Ami
"Kau ini lucu, kau saja juga belum makan dari kemarin." Kata Edo sedikit terkekeh
Candra hanya tersenyum, mendengar jawaban Edo
"Aku akan makan dulu sambil temenin eyang, kamu jaga Ami dulu ya, kalok ada apa apa, bilang." Kata Edo keluar menyusul sang kakek
"Mi, ayo bangun" kata Candra memegang tengan Ami, ia gengam dengan lembut tangan mungil itu, ia tarik dan cium punggung tangan nya.
__ADS_1
Tiba tiba Candra merasa jemari Ami bergerak, dengan cepat ia turunkan tangan Ami dan melihat mata Ami.
"Can, ngapain lo disini.!" Kata Ami setelah matanya benar benar terbuka,
"Ami, bagaimana keadaanmu, mana yang sakit.?" Kata Candra panik dan langsung menekan tombol darurat di belakang tempat tidur Ami
"Aku pusing , kaki ku juga sakit.!" Kata Ami meringis dan melepas alat bantu oksigen nya
"Jangan banyak gerak, tunggu dokter.!" Kata Candra membelai kepala Ami dengan lembut
"Apaan sih, jangan sok manis gitu ah, aku nggak papa.!" Kata Ami menepis tangan Candra
"Aku seneng banget kamu dah bangun.!" Kata Candra. Tak beberapa lama dokter, eyang Ami dan Edo masuk keruangan.
"Ami, apa ini masih sakit ?" Tanya dokter saat menekan kaki Ami
"Awoo,.. iya sakit.!" Kata Ami meringis
"Tunggu tapi kenapa kaki ku di gips.!" Kata Ami berfikir
"Maaf , tapi kaki kamu patah, jadi kami pen.!" Kata Dokter tersenyum, namun senyuman sang dokter muda itu tak disambut baik oleh Ami.
__ADS_1
"Ahahah, jangan bercanda gitu.!" Kata Ami meninju pelan dada dokter muda itu. Semua terdiam semua takut Ami mengamuk, mengingat dia tak akan terima dengan kondisi nya saat ini
"Ami, mau makan.?" Tanya Edo memecahkan suasana
"Kenapa pada diem, kaki ku kenapa.!" Kata Ami , suaranya meninggi, matanya melotot dan memerah, nafas nya mulai naik turun, jemarinya mengepal sempurna, buliran bening mulai meluncur meninggalkan ujung mata gadis itu.
"Ami harus tenang, jangan begitu.!" Kata dokter Anton
"Bagaimana bisa dia patah hanya karna batu kecil, dokter jangan bercanda . Minggu depan aku akan lomba lari kau jangan bercanda seperti ini.!!!" Kata Ami lagi sekarang emosinya benar benar naik dia menarik kerah jas dokter milik Anton, matanya tak berhenti melotot
"Ami, jangan begitu, sabar nak.!" Kata Eyang Kakung, omongan pria paruh baya itu tak digubris Ami. Hendak memisah tetapi tubuh tuanya tak sanggup melawan kekuatan gadis kecil yang sangat kuat terebut.
"Perbaiki kakiku, aku tidak mau seperti ini.!" Kata Ami terus menarik kerah baju dokter muda itu, adegan terik menarik pun tak terkendali hinggak Candra dan Edo membantu belepas cengkraman kuat tangan Ami. Setelah terlepas dengan sigap Candra langsung memeluk Ami, seorang perawat langsung menyuntikkan cairan penenang di lengan Ami.
"Jangan marah marah begitu.!" Kata Candra sambil mengusap punggung sahabat nya itu,Pelukan blasan Ami mulai mengendor di pinggang Candra karena efek obat penenang itu.
"Kaki ku..!" Kata Ami sesenggukan karena menangis dan mengamuk, nafasnya mulai sesak , perlahan Ami lemas bagai tak bertulang, Candra kembali menidurkan Ami di bet nya,
"Hiks.. kaki ku, .. hiks hiks.." suara Ami melemah , bibirnya tak berhenti menangisi kaki kirinya, matanya terus saja melepaskan butiran bening air matanya itu, sesekali Candra mengelap ujung mata Ami menggunakan tisu.
Eyang Ami hanya menatap pilu cucu perempuannya, duplikat anak perempuannya itu, hatinya meraung tak tega menahan kesakitan sang cucu, ditinggal ibu saat bayi, tak dianggap oleh ayahnya, dan sekarang impiannya harus hilang karena kecelakaan.
__ADS_1
"Sungguh, malang nasibmu nak.!" Gumang Eyang sambil keluar ruangan diikuti Edo, mereka pergi untuk berkonsultasi pada Dokter Anton dan meminta maaf atas sikap Ami barusan.
Terimakasih untuk yang selalu setia membaca, arigatougozaimasu ππ