
2 hari Ami belum siuman, kata dokter cidera kepalanya cukup dalam dan berpengaruh disalah satu syaraf nya, itu yang membuat Ami belum bangun juga.
"Cucu Eyang, bangun yuk kita pulang.!" Kata Eyang Kakung sambil membelai sayang kepala Ami yang terbungkus perban.
Ya beliau tau dari penjaga Rahasia Ami, dia melapor pada Eyang Kakung Ami, segera beliau terbang mengungakan helikopter pribadi nya langsung ke RS. Beliau menelfon Ayah Ami ya seperti biasa tongkat yang selalu dibawa Eyang Ami pasti mendarat dipunggung Ayah Ami.
~~
"Dimana kau!" Suara Eyang Ami ditelfon
"Sedang dikantor, ada apa pah.?" Jawab Ayah Ami
"Datang ke RS Airi sekarang, Aku beri waktu 10 menit.!" Katanya Tegas dan langsung menutup telfonnya
"Anak macam apa dia itu, bagaimana bisa Hana mendapat suami macam dia.!" Kata eyang sambil menghentakkan tongkat nya geram, Edo, Eza , Candra dan ayahnya hanya diam suasananya benar benar mencekam, tak ada yang bersuara sama sekali. 15 menit mereka menunggu akhirnya yang ditunggu tiba, Ayah Ami datang dengan nafas yang sedikit tersengkal sengkal.
__ADS_1
"Kenapa ayah disini.!" Kata ayah Ami setelah masuk keruangan derektur utama di RS
"Ayah macam apa kau ini.!" Kata Eyang Ami masih dengan posisi duduk
"Memang ada apa.?" Tanya nya bingung
"Anakmu masuk RS kamu tidak tau, kau ini benar benar.!" Kata Eyang mulai geram dan menghentakkn tongkat nya lagi
"Siapa yang masuk RS," kata Ayah Ami "apa kalian sakit.?" Kata ayah Ami melihat Edo dan Eza yang berdiri di sampingnya, mereka pun mengeleng
"Anak perempuanmu, masuk RS dia jatuh dilubang pemburu dan kaki nya patah, syarafnya ada yang bermasalah, dan kau tidak tau.?!" Kata Eyang berdiri
"Bugg.." tongkat itu benar benar melayang dipunggung pria paruh baya yang usianya kira kira 55th itu
"Jaga bicaramu, disana mengalir darahmu, tak habis pikir aku memiliki menantu sepertimu.!" Kata Eyang berbalik hendak pergi namun langkah nya terhenti karena ucapan ayah Ami
__ADS_1
"Dia yang membunuh istriku, dia membunuh ibunya sendiri, dia membunuh anakmu ayah, bagaimana kau bisa memukulku untuk seorang pembunuh, aku sudah bilang pada Hana untuk melepaskannya , tetapi dia tetap mempertahankan iblis kecil itu.!" Kata Ayah Ami penuh emosi kalimatnya membuat tercengang semua orang yang ada di ruangan itu, termasuk Candra .
"Plakk, buk... bukk." Suara tamparan dan pukulan tongkat terus menghantam tubuh renta itu,
"Eyang, hentikan" suara Edo paru sedih melihat ayahnya dipukul, juga sedih mendengar perkataan Ayah nya yang sangat membenci adik perempuannya.
"Tak tau diri kau, aku akan membawa Ami pulang ke Jepang, aku akan mengurusnya, aku masih sanggup mengurus nya.!" Kata eyang penuh emosi dan duduk karena kesadarannya mulai goyah
Tak ada pembicaraan siang itu, semuanya bungkam setelah kejadian itu, airmata eyang Ami tak berhanti menetes, dia begitu kalut dalam perasaannya, mengingat anak perempuannya mati dan mewariskan kecantikannya pada cucunya tapi semua usaha dan harapan anak nya tak dihargai menantunya. Benar benar membuat orang terluka.
Akhirnya Eyang kembali keruang perawatan Ami, dibantu Edo dan Candra yang menemani, meninggalkan ayah Ami , Papa Candra dan Eza , mereka mengobati memar dipunggung ayah Ami karena pukulan tongkat tangan Eyang Ami.
"Kau akan menyesal karena membekukan hatimu pada anakmu.!" Kata Eyang sebelum benar benar hilang dibalik pintu.
Mohon dukungannya teman teman, agar saya terus semangat menyelesaikan cerita ini.
__ADS_1
Domoarigatou Gozaimasu
ππππ