Terukir Dalam Waktu

Terukir Dalam Waktu
Getaran Hati kakak untuk adik


__ADS_3

Setelah dirawat selama 2 hari, Ami memutuskan untuk pulang. Orang rumah tidak ada yang tau jika Ami masuk RS ,dia tidak mau merepotkan kakak kesayangannya atau kakek tercintanya. Ia berkata pada dokter jika hasil lab nya akan Ami sendiri yang mengambil jika sudah keluar hasilnya. Dijalan Ami hanya diam saya dan memegangi perutnya, menahan gejolak aneh diperut , rasanya ingin muntah ,perih ,tapi lapar dan tidak tau lagi bagaimana mengambarkan rasa sakitnya.


"Kalok masih sakit , mending tinggal lebih lama saja non di RS." Kata Johan asisten baru Ami, masih muda dan juga perhatian.


"Nggak lah, aku nggak mau kalok sampe kakek sama kak Edo tau aku dirawat di Rs" kata Ami membuang muka


Johan yang melihat Ami pun iba rasanya, ia semakin kurus dan bibirnya pecah pecah, tapi yang ia suka dari Ami adalah ,rasa tanggung jawab dan pemikiran dewasanya, ia juga murah senyum sebenarnya.


Sesampainya di halaman, Ami segera turun dan menenteng tas nya. Ia melihat Eza menyusul dari belakang ,


"Kak." Panggil Ami


"Kenapa.!" Jawabnya ketus


"Ami mau tidur, nanti bangunin Ami pas makan siang ya kak." Kata Ami perlahan menaiki tangga ,


Eza yang melihat kondisi adiknya malah bingung, kenapa dia tampak lemas dan tak bertenaga. Ah sial kata Eza dalam hati, dia dirumah sendiri papa dan Edo sedang ada perjalanan bisnis keluar kota dalam waktu 1 minggu. Eza mengutuk hari yang sial ini


Beberapa saat kemudian, Eza hendak turun untuk makan siang ,ia hanya melewati kamar Ami begitu saja ,tanpa mengajaknya makan bersama, "masa bodo" gumam Eza sambil duduk mengambil nasi dan lauk dimeja

__ADS_1


Dikamar Ami sudah bermandikan keringat dingin, hendak bangun pun tak sanggup ,bibirnya terus saja bergumam memanggil nama Edo dan kakek.


Setelah selesai makan ,Eza pergi untuk nongkrong bersama teman temannya, ia sangat menikmati malam itu ,sangat asyik hingga lupa untuk pulang. Kira kira jam 9 malam Eza baru pulang dan melihat bi Inah sedang membereskan makanan dimeja makan yang masih rapi tak tersentuh.


"Bik, Ami nggak makan.?" Tanya Eza


"Non Ami nggak turun den sejak tadi siang." Kata bi Inah nampak cemas, walaupun Ami anak yang jarang makan ,tapi ia sama sekali tidak pernah melewatkan makan malamnya jika sedang dirumah.


"Yaudah biarin aja bik, kalok laper juga makan dia.!" Kata Eza menaiki tangga


"Den Eza,!" Bi Inah memanggil Eza


"Nanti Eza cek, bibik pulang aja udah malem.!" Kata Eza melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Eza pun berhenti didepan kamar Ami, ia memegang knop pintu Ami ,dan ragu ragu untuk membukanya ,ia melihat bayangan ibunya jika melihat Ami, lebih memeilih melahirkan adiknya daripada menjaga nya dan kakak nya.


Ia urungkan niatnya untuk membuka pintu Ami, ia malah masuk kekamarnya dan membuka pintu nya berjaga jaga ia akan memergoki Ami saat keluar kamar.


7 menit kemudian, ia mendengar pintu kamar Ami terbuka, ia pun berjinjit melihat Ami dari balik tembok kamarnya, Eza begitu terkejut melihat Ami yang tengah menyeret tubuhnya untuk keluar dari kamar,

__ADS_1


Darah..


Gumam Eza, ia melihat mulut dan baju Ami penuh darah, Ami menangis tanpa suara ,ia menyeret tubuhnya tak kuat untuk berjalan ,sesekali ia menyeka air matanya yang menetes, hari Eza tampak sakit melihat kondisi Ami saat ini.


"Uhuk uhuk .." Ami batuk dan mengeluarkan darah, ia tampak benar benar lemah tak berdaya. Air mata Ami terus saja menetes tanpa permisi, ia sanggup menahan sakitnya ,ia sanggup ..


"Ami," akhirnya Eza mendekati Ami yang tengah menyandar di dinding dekat pintu kamarnya


"Jangan liat kak, nanti kakak jijik.!" Kata Ami berusaha mengelap darah ditangan nya


Tanpa jawaban, Eza langsung mengangkat tubuh kurus Ami , "Ringan sekali" dalam hati Eza berkata, adik perempuan yang sering ia pukul itu sangat lah ringan.


"Kak" panggil Ami lemah ,"kak jangan ke Rs nanti kakek tau dan ayah akan dimarahi lagi.!" Kata Ami lemas dipelukan Eza yang menuruni tangga ,setelah memikirkan apa yang dikatakan Ami ,ada benarnya juga, akan timbul masalah baru antara kakek dan ayah ,tentunya Ami.


"Ami laper kak," kata Ami lemah ,kepalanya bersandar didada kakak nya dengan lemah ,berharap kakak nya akan membantunya.


"Kita ke kamar dulu, ganti bajumu.!" Kata Eza kembali menaiki tangga ,tentu saja raut hawatir dan takut tergambar jelas diwajah Eza, ia hanya dirumah bersama Ami, dan Ami dengan kondisi memperihatinkan sepertiini. Dia pun langsung memanggil dokter Anton agar cepat cepat kerumah ,sedangkan dia membantu Ami untuk menganti banju (mengambilkan baju) dan mengelap darah yang mengering di pipi Ami


Mohon dukungannya ya gaes, lewat like dan comen dibawah,

__ADS_1


Domoarigatougozaimasu😘


__ADS_2