
Gegas Winda dan ibunya menaiki sepeda motornya memakan waktu 30 menit untuk sampai ke rumahnya.
kata motivasi dari calon mertua Andini, membuat Winda, semakin percaya diri setelah tiba di rumah gegas Winda melaksanakan shalat isya, lalu berlanjut untuk tidur karena jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
begitu juga dengan ibu Winda, Selesai melaksanakan shalat bergegas pergi tidur, sebelum memejamkan mata Ibu Ningsih, memastikan si kembar Santi dan Sinta sudah tertidur.
# di Rumah Andini.
Sudah terlihat sepi keluarga Anto, sudah pulang hanya tinggal keluarga Andini, yang memutuskan untuk menginap. Ruang tengah tempat bertunangan sudah di rapihkan kembali. beberapa orang yang menginap tidur ber alaskan karpet bulu.
__ADS_1
semuanya sudah terlelap karena Lelah, jam 4 menjelang subuh saudara Andini kebanyakan sudah bangun, merapihkan sisa acara semalam mencuci perkakas, yang belum sempat di cuci memasak air panas dan menyiapkan singkong rebus serta beberapa camilan lainnya untuk sarapan bersama. sebelum nanti kembali pulang ke rumah masing masing.
suara azan di musola, terdengar hiruk pikuk kehidupan kembali ada, pagi ini waktunya panen padi. kedua orang tua Andini, sudah bersiap selesai Melaksanakan salat subuh berjamaah bersama keluarga.
ibu Ela, melanjutkan menanak nasi, membuat sambal terasi, oseng kangkung. lengkap dengan goreng tahu dan tempe. setelah semua masakan ya selesai, bergegas menyusul suaminya ke sawah.
di rumah Winda.
Saat semua orang sedang sibuk di dapur, ternyata dari kejauhan sudah ada Bu Euis dan Maya, yang sedang sibuk ghibah seraya menunggu tukang sayur lewat.
__ADS_1
karena ada bumbu yang kurang kebetulan, tukang sayur sudah mangkal di dekat para ibu ibu, gegas aku membeli Garam serta penyedap rasa, dan cabe serta bawang. Namum tak sengaja kupingku mendengar obrolan dari Bu Euis dan Mbak Maya.
"Mbak maya, kamu itu ingat nggak sih? Waktu itu Mbak Maya bilang kepadaku, kalau Mbak maya akan membayarnya saat cicilan hari ini. Tapi mana? Aku datang ke rumah Mbak juga bilangnya belum dikirim oleh suaminya, tapi nyatanya Mbak Maya bisa kok, membayar arisan yang satu bulan satu juta rupiah. Bahkan membayar dobel buat bulan depannya juga, tapi untuk bayar hutang kepadaku bilangnya tidak ada. Terus sekarang saat aku diomeli petugas, kamu seenaknya saja menyalahkan dan juga menghinaku. Kamu itu manusia macam apa sih, Mbak," ucap Bu Euis penuh emosi
Orang-orang yang ada di tukang sayur pun bengong mendengar penuturan Bu Euis yang penuh emosi ini. Wajah Mbak Maya memerah, entah ia merasa malu atau marah pada Bu Euis. Tapi Bu Euis seperti tidak peduli, mau ia marah ataupun malu. Karena ia juga tidak memikirkan perasaanku saat berbicara.
"Bu Euis, kok kamu berani sekali sih, berkata seperti itu sama Mbak maya? Apa kamu nggak takut apa konsekuensinya," tanya Mbak Ita.
"Kenapa aku mesti takut, Mbak, bukankah kebenaran memang perlu diungkapkan ya? Aku selama ini diam, bukan berarti aku takut. Tapi saat itu aku masih bisa menahan emosiku. Namun, jika sekiranya emosiku sudah tidak terbendung, ya buat apa di tahan? Yang ada malah membuat penyakit saja untuk kita. Kalau aku lebih baik diungkapkan, biar hati merasa lega," jawab Bu Euis panjang lebar.
__ADS_1
Winda, yang mendengar perdebatan mereka gegas membayar apa yang sudah ai ambil dari gerobak sayur dan bergegas pulang.
bersambung