Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Bab 34


__ADS_3

Menyebalkan.


Sebenarnya aku heran dengan tetangga baruku itu, bukan tanpa alasan aku untuk heran dengan tetangga baruku itu yang sering disebut dengan panggilan mama Ragil.


Sebab, aku merasa seperti dipantau olehnya, dia sepertinya tau ketika aku membuka pintu atau ketika aku baru pulang dari luar semisal belanja sayur atau apapun itu.


Sejak kejadian mbok Nah yang memberitahukan bahwa dia bilang ga belanja sayur karena sering aku kasih masakan, aku sering mengunci pintu rumahku setelah suami ku pergi bekerja.


Tapi ya itu, ketika aku membuka pintu atau ketika aku baru pulang, mama Ragil sudah berada didepan rumahku.


Ada saja alasannya dari mulai Ragil yang pengen main, minta daun salam, numpang nonton kartun untuk Ragil, minta garam dan lain sebagainya.


Sepertinya mama Ragil akan menggunakan segala cara untuk bisa masuk kedalam rumahku.


Sebenarnya aku tidak melulu mengiyakan permintaan dia, pernah suatu ketika dia minta daun salam misalnya, aku jawab kalau aku tidak punya sambil tetap berdiri didepan pintu dan memegangi handle pintu rumahku.


“Ga ada ya mba Andini, coba mba Andini saya lihat, mba Andini adanya bumbu apa?” ujarnya sambil setengah memaksa untuk masuk ke dalam rumah.


Kedua tangan yang ia miliki, satu tangan ia gunakan untuk menggendong Ragil sedang tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk mendorong pintu rumahku.


Sebenarnya tanganku sudah pasti lebih bertenaga daripada mama Ragil tapi cara dia menggendong Ragil membuat aku kuatir Ragil akan merosot dari gendongannya, akhirnya terpaksa aku bukakan pintu.


Dia akan terus menerobos masuk ke dalam rumah dan tentu dapur menjadi tujuan utama kedatangannya ke rumahku.


“Mba Andini belum masak, ya?”


Mama Ragil ini kalau bertanya tak hanya mulutnya yang bergerak saja tapi tangannya juga dengan sigapnya bergerak membuka tudung saji diatas meja makan.


“Iya, kenapa?”


“Ga apa-apa.” Ucapnya, lalu tatapan matanya beralih ke arah kulkas.


“Eh di kulkas mba Andini ada makanan apa saja?”

__ADS_1


“Ini sebenarnya mama Ragil ke sini hanya untuk mengecek saya punya daun salam atau bukankan, jadi ga usah buka kulkas saya.”


Aku langsung saja menutup pintu kulkas yang hampir dia buka itu, dan menahannya dengan badanku yang berdiri tegap didepan pintu kulkas.


“Hehe iya sih mama Ayu, hanya saja saya penasaran sama isi kulkas mama Ayu.”


Ya ampun ini orang, padahal posisi badanku yang masih berdiri tegap didepan kulkas seharusnya sudah menjadi tanda untuknya bahwa ia tak boleh membuka kulkas milikku, tapi saat itu dia masih saja bertahan berdiri didepan pintu kulkasku.


“Biasa saja mama ragil, ga ada yang istimewa. Mama Ragil dirumah juga ada kulkas kan? Kulkasnya malah besar, ada empat pintu.” Ucapku saat itu.


Aku sengaja menekankan ucapanku saat aku bilang dia punya kulkas empat pintu, iya itu pengakuannya saat dulu ia menceritakan tentang kulkasnya itu, sekalian biar dia sadar bahwa kulkas yang ga ada apa-apanya dengan kulkas miliknya tentu tak ada hal yang menarik.


“Ya barangkali saja ada makanan yang unik gitu mba Andini, secara mba Andini kan suka ada keponakan yang main, biasanya makanannya macam-macam jenisnya.”


Setelah ia mengatakan itu, gegas aku tarik tangannya untuk menjauh dari kulkas milikku dan kubawa dirinya menuju rak dimana aku biasa menyimpan bumbu dapur milikku.


“Nih mama Ragil rak bumbunya, mama Ragil sudah tahukan kebiasaan saya menyimpan bumbu.” Ucapku sambil menunjuk rak tersebut.


Eh dia malah nyengir-nyengir ga jelas gitu saat aku tunjukan tempat aku menyimpan bumbu dapur, fix ada yang salah dengan dirinya.


“Hehe iya ya ga ada, ya udah deh saya minta ini saja ya.”


Tahukah apa yang diambil mama Ragil, dia mengambil kencur milikku yang aku beli dengan susah payah.


Kenapa susah payah, karena kencur itu salah satu bumbu dapur yang sulit didapat, begitu penjelasan mbok Nah tukang sayur padaku saat aku sedang mencari kencur diwarung mbok Nah.


Ah sudahlah yang penting dia segera pulang saja.


“Ya sudah mama Ragil ambil saja, maaf ya mama Ragil silahkan pulang ya, karena saya mau berbenah.”


“Nanti saja deh pulangnya, Ragil kayaknya masih mau main, biasanya juga saya main disini, terus mba Andini masih bisa berbenah.”


“Tapi saya saat ini lagi mau mengepel, jadi saya ga bisa kalau lagi ngepel ada orang yang bakal wara-wiri.”

__ADS_1


Karena sepertinya mama Ragil ini orang yang ngeyel alias susah dibilangin, ya sudah terpaksa aku tarik lagi pergelangan tangannya sampai kedepan pintu rumahku.


“Mba andini, masa mau main sebentar saja ga boleh sih.”


“Maaf ya mama Ragil.” Gegas aku bukakan pintu untuknya dan dengan sedikit memaksa aku mendorong tubuh mama Ragil pelan sampai kedua kakinya berada diluar pintu rumahku.


Kuberikan senyum termanis yang aku miliki dan gegas aku tutup pintuku dan tak lupa aku kunci dahulu pintuku sebelum aku melangkah menuju dapur.


Baru saja kakiku ingin melangkah keluar, aku dengar suara Melly memanggil mama Ragil, ku urungkan langkah kakiku, membalikkan badan dan mengintip dari balik hordeng jendela rumahku.


“Dari mana mama Ragil?”


“Ini dari rumah mba Andini, rencananya mau main tapi ga boleh sama mba Andini, pelit banget dia.”


Tuh kan udah dikasih ati eh malah ngelunjak gitu, aku dibilang pelit, emang dasar ya mama Ragil.


“Masa sih, mba Andini biasanya baik loh dia ga pernah pelit begitu.”


“Yah kalau mba mely ga percaya ibu kesana saja pasti dia ga akan bukakan pintu untuk ibu.”


“Malas ah saya, saya kalau sama orang pelit bawaannya langsung ga respect lagi.”


Bisa langsung nyebar nih berita kalau aku pelit ga ngasih tetangga main, soalnya yang sekarang sedang diajak ngobrol sama mama Ragil itu orang nomer satu dalam penyebar berita, baik berita benar ataupun hoax.


“Iya betul mba Melly, saya juga jadi malas sama mba Andini, pasti kasihan yang jadi anaknya.”


“Maksudnya apa mama Ragil?”


“Tadi saya sempet lihat ditudung sajinya itu tidak ada apa-apa. Mungkin suaminya setiap hari dimasakin mie sama mamanya.”


“Iya ya mama Ragil, bisa jadi sih seperti itu, karena orang pelit biasanya malas untuk belanja masakan.”


“Ya kan bener apa kata saya, jadi kasihan sama suaminya.”

__ADS_1


Ah sudahlah dia mau bilang apa tentang aku, toh apa yang dikatakan sama mama Ragil itu ga benar.


Aku langsung melangkah menuju dapur, kubuka pintu kulkasku dan aku tersenyum karena aku berhasil menyelamatkan ice cream milik Ayu dan cake coklat milik Aida kakaknya Ayu. jika tidak pasti kedua keponakan cantikku akan merajuk, karena sore nanti akan berkunjung ke sini bersama keluarga besar suamiku.


__ADS_2