Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 8


__ADS_3

Lihatlah, tangan, enam jari, sampai leher dililit emas. Sudah seperti toko Mas berjalan. Bukan bagus dipandang, malah terkesan norak.


"Kamu nyindir?"


"Hehehe, maaf Mbak, aku lagi curhat, bukan nyindir."


Mbak Maya manyun. Bibirnya semakin monyong saja. Lucu sekali jika dia marah. Aku memilih cuek, malas menanggapi. Fokus membersihkan kulkas.


Resiko tinggal di kampung memang seperti ini setiap salah satu tetangga membeli barang baru pasti yang lainnya. ikut kepo bahkan ada yang Rela berhutang hanya untuk mengikuti yang lain memiliki barang mewah.


ke esok harinya, perihal kulkas yang ku beli lewat aplikasi Oren, tersebar luas di kampungku, hingga Sampai ke kampung tetangga. Karena tadi pagi Saat aku menemani ibu berbelanja sayur, ayam serta ikan dan bumbu lainnya, Tak sengaja aku bertemu dengan Dini di parkiran sahabatku, menceritakan apa yang dia dengar, sungguh lucu menang hidup di kampung. andai bapak dan ibu mau aku boyong ke kota sudah pasti aku membawa mereka, namun bapak dan ibu selalu berkata sayang dengan kampung kelahirannya.


"Winda, kamu terkenal ya di kampung" ucap Dini dengan Ter kekeh


"maksudnya apa Dini" balas Winda dengan kebingungan.


"itu loh, soal kamu beli kulkas secara Online sudah tersebar di kampungku, dan yang parahnya lagi banyak yang bilang kamu itu berhutang online" ucap Dini dengan semangat


"hah serius kamu, tau dari siapa?" tanya Winda


"aku tau dari ibuku, ibu tau dari Melinda sahabat Maya tetangga mu itu" jelas Dini


"hahahaha, mungkin dia mau membalas ucapanku kemarin," terang Winda


"memangnya kenapa?" kata Dini


Setelah itu Winda menceritakan semua obrolan nya, dengan Maya. saat tau apa yang aku ucapkan Dini tak berhenti tertawa, sebuah tepukan di bahunya yang membuat nya tertawa, ternyata ibu Ela yang menepuk Dini. Hingga Dini kaget.


"sudah ngobrolnya nanti juga bisa ke rumah Winda," ucap Bu Ela

__ADS_1


"iya Bu," balas Dini


"Winda, aku duluan ya" pamit Dini kepadaku.


Dini, mengendarai Roda dua menuju arah barat, karena Ibunya meminta untuk berhenti di tukang bubur langganan, bubur untuk ayah Dini yang sudah menunggu di rumah.


Bu Ela, mengenal baik Winda, yang merupakan Sahabat dari anaknya itu. ketika ia mendengar gosip jika Winda, berhutang di aplikasi online Bu Ela, tak percaya begitu saja dengan bijak dan Sabar ia mengatakan kepada Andini anaknya. jika sedang ada berita yang Heboh bahkan membuat Tetangga yang lain menggunjingkan nama baik Sahabat anaknya itu.


Sungguh Ibu yang bijak, berbeda dengan Ibu autor guys... (curhat dikit 😂)


Di tempat Lain


Sambil menunggu Ibu berbelanja ku iseng buka aplikasi berlogo biru, ternyata sudah ada postingan Mbak Maya. dengan bermacam gaya bahkan ada gaya menjulurkan Lidah, seperti kucing menunggu ikan Asin.


Winda, menaruh kembali handphone ke dalam tas selempang yang ia kenakan. ia yang mengetahui perihal nama baiknya sudah tercoreng, perihal kulkas yang di beli secara Online di keranjang Oren. membuat Winda semakin merasa jika memang mulut Tetangga harus di Tampar oleh ke suksesnya. Di saat Winda Asik berkecamuk dengan pikirannya Sendiri. ternyata Ibu Ningsih, sudah selesai untuk berbelanja untuk kebutuhan warung nasinya.


Semua belanjaan sudah di antar Oleh bentor (becak motor) alat transportasi menuju kampungnya. angkutan umum pun Ada namun hanya sampai di doang Gang Utama, tak masuk ke dalam kampung Winda, karena jalan yang kecil. terkadang ada satu dua yang masuk, namun akses jalan yang susah untuk Roda Empat membuat para supir jarang masuk ke dalam kampung.


Saat tiba di depan rumah, Rupanya mba Maya , sudah duduk cantik di bawah pohon mangga yang terdapat beberapa bangku, dan meja untuk Istirahat para karyawan pabrik.


Winda, tak mempedulikannya dia terus saja masuk ke dalam warung. membawa belanjaan yang baru saja di turunkan dari Bentor (becak motor)


"bang total bayar jasanya berapa" Tanya Winda kepada tukang ojek bentor (becak motor)


"biasa mba, dua puluh ribu ucap bapak itu" seraya tersenyum dengan tulus


Winda menyodorkan uang pecahan dua puluh ribu, dan sepuluhan ribu seraya berkata


"ini bang aku kasih lebih buat beli minum" balas Winda dengan tersenyum sopan

__ADS_1


ternyata semua yang di lakukan Winda tak lepas dari penglihatan Maya, dengan duduk dan memakaikan gadgetnya dia terus saja menggerakkan bibirnya ke kiri dan ke kanan. seolah mengikuti ucapan Winda.


dengan Sigap Winda membersihkan ayam daging, ikan serta yang lainnya. untuk bahan yang akan di gunakan besok Winda menaruhnya ke dalam wadah dengan tutup yang kedap udara, jadi sampai besok tidak akan berbau.


Setelah membatu Ibunya, membuat beberapa menu pesanan ada beberapa karyawan yang memesan menu soto, dengan Sigap Bu Ningsih membuat Soto untuk 50 porsi karena yang makan di warungnya cukup banyak. terkadang ada warga sekitar yang sengaja membeli lauk.


Bu ningsih yang di bantu oleh Adiknya, membuat soto resep rahasia keluarganya.


Menjelang pukul sepuluh, semua masakan Yang di jual di warung ibu Sudah matang, tetangga mulai berdatangan. untuk membeli aku mempersilahkan para pembeli untuk mengantri seraya menunggu pesanan Selesai. Tepat pukul 10.30 para pembeli sudah berkurang. Ibu Dan yang lainnya bisa beristirahat, seraya menunggu pembeli yang lainnya.


Sedangkan Winda, setelah membantu Bu ningsih, ia Bergegas membuka toko buketnya memajang beberapa hasil karyanya semalam. Winda, yang sekang sudah memiliki langganan tetap, seperti siang ini ada janji dengan Orang. yang akan mengambil buket berisikan camilan serta uang. untuk santunan anak yatim sebanyak 70 buket dengan mengambil harga jasa per buket sebesar 60.000 Ribu jika di kalikan dari hasil langganan tetap nya Winda sudah mendapatkan uang sebesar 4 juta lebih.


Sambil menunggu orang yang akan datang untuk mengambil pesanannya. Winda, kembali membuka aplikasi novel berbasis online, dia kembali melanjutkan novel yang sempat tertunda. beberapa hari yang lalu dengan Judul Tetangga Oh Tetangga (tetangga julit). ada beberapa event lomba dengan semangat Winda mendaftarkan Hasil


menulisnya untuk mengikuti lomba, dengan keterangan juara 1 mendapatkan $4000 dan di undang dalam acara web winner. juara dua mendapatkan $3000. dan untuk juara tiga mendapatkan $2000.


Winda tidak berharap untuk menang dia hanya ingin mengasah kembali kemampuannya dalam menulis novel.


tak lama orang yang di tunggu tunggu telah datang, ternyata sekarang dia sendiri yang mengambil biasanya hanya melalui asistennya,


"mbak Winda," ya ucap seorang ibu dengan pakaian yang terlihat mewah namun elegan


"ibu, pasti ibu Lia," tanya balik Winda


"iya betul" Bu Lia Wanita yang ber usia sekitar 36 tahun namun tepat cantik dan terawat. pembawaannya yang ramah dan supel membuat Winda merasa sedang mengobrol dengan Sahabatnya.


"silahkan duduk Bu" ucap Winda mempersilahkan pemilik salah satu Pabrik yang berada di dekat rumah Winda.


"iya terimakasih, nak saya mau mengambil buket" ucap Bu Lia

__ADS_1


bersambung


__ADS_2