Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 14


__ADS_3

"Mbak maya, terima kasih ya uangnya. Aku menerima pembayarannya, walaupun cara Mbak bayar tidak sopan seperti ini. Mbak memberikan uang dengan cara dilempar, tidak seperti pada saat peminjaman dulu. Lagian, Mbak, kenapa bayarnya tidak dari tadi pagi saja, waktu aku datang ke rumah? Tapi ya sudahlah, yang penting Mbak bayar dan aku bisa bayar sayur . Pokoknya aku tunggu pembayaran sisanya, yang katanya Mbak mau bayar nanti sore. Jangan cuma omong doang ya Mbak, aku tunggu pembayarannya!" Aku berterima kasih kepada Mbak Widi, serta tidak lupa mengingatkannya.


"Ih ... Bu Euis, kok tidak punya sopan santun banget ya. Nagih utang kok di depan umum begini," celetuk seorang Ibu dari belakangku, walaupun mereka berbisik, tetapi tetap masih bisa aku dengar.


"Iya ya, jahat banget dia, kaya nggak bakal butuh dengan bantuan orang lain saja. Padahal dia itu kan masih susah, hidup juga masih ngontrak lho," sahut yang lain.


Aku pun segera memberikan uang seratus ribu tersebut, kepada tukang sayur dan menerima kembaliannya. Setelah itu aku segera pamit pulang, aku tidak menunggu sampai yang lainnya selesai membayar. Sebab aku sudah malas mendengarkan ocehan orang, yang malah menyalahkan aku dalam hal ini.


"Mbak Selfi, aku pulang duluan ya, soalnya aku mau ada keperluan lain," pamit ku kepada tukang sayur yang bernama Selfi.


"Iya, Bu, silakan," sahut Mbak Selfi.

__ADS_1


"Euis, kenapa kamu malah mau pulang duluan sih? Orang belum selesai semuanya kok, sok sibuk banget sih kamu," tanya Bu Lili ketus.


Sepertinya Bu Lili tidak menyukai, saat aku memutuskan untuk pulang lebih dulu.


"Aku bukan sok sibuk kok, Bu Lili. Tapi aku memang mau ada keperluan," jawabku.


"Iya, Bu Lili, nggak apa-apa kok. Biarin saja Bu Lili pulang duluan," timpal Mbak Selfi.


Hanya Mbak Selfi yang menjawab salamku, sedangkan Ibu-ibu yang lain malah dalih berbisik, berpura-pura tidak mendengar ucapan salamku. Aku pun segera pergi dari pinggir jalan tempat menunggu tukang sayur menuju rumahku, tapi sebelum pulang aku mampir dulu ke warung untuk membeli beras dan camilan.


Sayuran yang Bu Euis beli Bu Euis hanya membeli satu ikat bayam sama dua potong tempe, serta bumbu-bumbu. Aku memang tidak sepenuhnya berbohong kepada orang-orang tadi, kalau aku ada keperluan lain. Keperluanku itu yaitu, aku belum beli beras dan memasak untuk keluargaku karena di rumah memang sudah tidak punya apa-apa.

__ADS_1


Makanya tadi pagi Bu Euis memaksakan diri untuk menagih uang kepada Mbak Maya. Karena memang uang simpananku buat belanja sudah tidak ada lagi. Beruntung sekarang Mbak Maya membayar hutangnya, walau baru dua ratus ribu. Semoga saja nanti sore ia bayar lagi, sesuai dengan ucapan dia tadi.


"Bu siwi, berapa total beras dan camilan" ucap ku


"semua jadi 30 ribu Bu Euis" gegas aku menyerahkan uang sesuai nominal yang di ucapkan Bu siwi.


saat di jalan pulang Bu Euis melihat Winda berlari seraya mengucapkan kata Hamdallah, tingkat kepo yang tinggi membuat Bu Euis, Mengintip di balik pohon Mangga. dekat dengan bangku bangku tempat. para karyawan istirahat.


"wah hebat juga si Winda, jadi selama ini dia menulis novel aku pikir ngepet ya" batin Bu Euis


bersambung

__ADS_1


__ADS_2