Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
tetangga emang gitu


__ADS_3

"Halah,, ya harus Rajinlah masa mau dapet suami ganteng baik hati, mapan pula, dia cuman duduk manis aja, nanti kasian nak Fauzy, udah keluarin uang banyak untuk ini eh dapet istri pemalas" ucap bu Romlah dengan nyinyir.


"haduh mulai dah panas hatinya mungkin Karen Yuni anaknya tak menikah dengan lelaki kaya" pikir Bu Euis


"iya ya Bu, lagian masa konglomerat nikah sama orang melarat" ucap Maya serta menekan kata melarat.


Obrolan mereka terus aja berlaku jika tidak di berhentikan oleh mamang pedagang sayur.


💙💙💙💙


Akhirnya waktu yang di tunggu tunggu telah tiba, hari ini acara pernikahan sekaligus pesta akan di gelar. Sejak pagi, Andini berada di kamarku. Membantuku bersiap dan menuangkan keahilannya di wajahku, menyapukan make up dengan cekatan. Selain aku, kedua adik dan kedua orang tua ku pun kini tengah bersiap. Ada dua orang lagi yang mamah mertua tugaskan untuk membantu mereka bersiap. Sejak kemarin di rumah ini banyak orang berdatangan, beberapa orang di antaranya adalah sewaan mamah mertua. Untuk acara seperti ini mamah memang sering kali membayar orang orang profesional. Gaun dan jas mahal sengaja mamah pesan sejak sebulan lalu, dan hari ini kami akan memakainya. Mamah bahkan memilihkan pakaian terbaik untukku yang harganya melebihi pakaiannya sendiri, mamah bilang beliau ingin semua orang dan media menyorotku. Karena biasanya mamahlah yang akan menjadi sorotan, namun kali ini mamah ingin khalayak ramai mengenal sosok wanita lain dalam keluarganya. Dan itu adalah aku, .


"Sempurna" ucap Andini membuyarkan lamunanku.


"Bagaimana Winda . Apa Winda puas?


Jika ada yang kurang beri tahu aku, aku akan segera memperbaikinya." Kata Andini dengan jari telunjuk mengarah ke cermin.


Aku mengangguk, memandang takjub pantulan diriku di cermin, ku akui kehebatan yang bahkan mampu membuatku merasa panling pada wajahku sendiri.


"Winda cantik banget, tapi sayang enggak boleh mengambil foto Winda ." Kata Andini memujiku.


"Hmmm aku cantik gini karena kalian yang mendandaniku. By the way, boleh kok mengambil fotoku. Tapi ingat, jangan mengumbarnya." Aku sengaja mengizinkan mereka mengambil foto selfi bersamaku sebagai tanda terimakasih.


"Beneran?" Tanya Andini dengan mata berbinar. Aku menganggukan kepala, membuat Andini berjingkrak kegirangan.


Setelah mengambil beberapa foto, sekali lagi mereka memastikan penampilanku. Begitu juga dengan diriku, berdiri di depan cermin berukuran besar. Kemudian berputar memastikan penampilanku, gaun mewah yang mamah mertua pilihkan membalut tubuhku dengan indahnya.


Santi dan Sinta menggandeng tanganku menuju tempat ijab qobul ada calon suamiku bersama kedua orang tuanya. Mereka tersenyum ketika melihatku berjalan' menghampiri mereka.

__ADS_1


Pak penghulu, serta dua orang saksi dan bapak sebagai wali nikahku sudah siap, kami melangsungkan pernikahan di rumah, namun akan mengadakan pesta di gedung yang biasa orang orang menyewa ya untuk acara pesta atau pertemuan.


Sahh...


sah..


ucap para saksi


Alhamdulillah, ucap keluarga ku yang menyaksikan acara ijab qobul


Acara berlangsung dengan hikmatnya.


Selesai ijab qobul dengan gaun kebaya berwarna putih, kini aku kembali mengganti pakaian dengan gaun pesta pernikahan.


"Wah sayang, kamu cantik banget.


"Mamah, terimakasih banyak. Mamah juga cantik banget" Ku peluk erat tubuh wanita paruh baya yang begitu menyayangiku. Kali ini penampilan mamah lebih simpel namun tetap berkelas, aku tau mamah ingin perhatian semua orang tertuju padaku. Itulah sebabnya beliau membuat penampilanku lebih menonjol.


"Iya mah, Farel juga harus berterimakasih karena mamah telah membuat Winda terlihat seperti bidadari." Aku tersipu mendengar ucapan suamiku.


"Kamu ini mau berterimakasih sama mamah apa mau muji Winda hmmm?" Mas Farel terlihat menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.


"Sudah sudah, ayo kita berangkat sekarang." Ucap papah mertua.


Akhirnya kami semua berangkat dengan menggunakan mobil mewah yang di supiri mang Ujang. Sama seperti kami, supir yang sudah lama mengabdi pada keluarga ini pun hari ini terlihat berbeda. Penampilan jauh lebih rapi dengan pakaian yang sudah di sipakan oleh mertua ku.


Dari kejauhan terlihat tempat acara yang sudah terlihat sangat ramai, di sepanjang perjalanan menuju acara terlihat para pedagang kaki lima dengan beraneka ragam jenis barang dagangan. Acara pernikahan kali ini memang jauh berbeda dengan acara biasanya yang ada di kota, walaupun mamah mertua ingin semuanya terlihat mewah dan lebih formal. Tapi papah mertua mengutamakan kemeriahan, beliau ingin acara ini bukan hanya mendatangkan kebahagiaan bagi kami tapi juga bagi warga setempat. Itulah sebabnya mas farel mengizinkan para pedangang kecil untuk berjualan, asalkan jaraknya sedikit jauh dari tempat acara.


Ketika sampai di parkiran khusus, Joni asisten mas Farel sudah menunggu. Beliau menyambut kami, lalu mengajak kami menuju tempat khusus yang memang di peruntungan untuk pengantin .

__ADS_1


"Joni, berapa lama lagi menuju puncak acara?" Tanya mamah mertua tidak sabar.


"Sebentar lagi nyonya, akan ada penampilan para santri sebagai pembuka acara yang di tunggu tunggu." Mamah hanya mengangguk.


"Penampilan adek adek santri?" Tanyaku meyakinkan


"Iya nyonya, nyonya bisa menyaksikannya dari sini." Kata Joni seolah mengerti keinginanku.


"Sayang, kamu mau lihat lebih dekat?


Ayo" mas farel menggenggam tanganku dan mengajakku melihat lebih dekat.


Lantunan sholawat terdengar merdu dan menggetarkan hati, mataku terasa memanas. Ada cairan bening yang berjejalan ingin keluar, namun dengan cepat ku taruh ujung tisu ke ujung mata agar bisa menyerap air mata yang siap tumpah. Ku tatap lekat wajah suamiku, bersamaan dengan itu, entah mengapa ada keinginan untuk berhijrah, melihat anak anak pondok berpakaian tertutup membuatku ingin melakukan hal yang sama, tapi entah mamah mertua akan setuju atau tidak. Hal itu membuatku bimbang, bagaimana jika mamah tidak setuju dengan pilihanku?


Hati masih berkompromi dengan fikiran, ketika tiba tiba mas farel menarik tanganku. Ternyata para santri sudah selesai dengan penampilannya, itu artinya kami harus segera kembali ke tempat tadi.


Dua orang MC membuka suara, mengucapkan banyak hal sebagai pembuka. Sampai akhirnya, puncak acara pun tiba. Tiba tiba suasana menjadi hening ketika salah satu pembawa acara memanggil nama mas farel dan juga namaku, mamah mertua tersenyum dan mengangguk. Aku dan mas dari melangkah bersamaan, kami bergandengan tangan seperti sepasang pengantin pada umumnya yang menuju pelaminan.


Saat tiba di podium, semua orang bertepuk tangan. Tiba tiba suara memekik terdengar nyaring, dari atas sini bisa ku lihat para tetanggaku tengah syok menatap kami.


"Allahuakbar" pekik Bu Neni begitu nyaring dengan mata melotot, seakan bola mata akan copot dari tempatnya.


Maya, telihat memegangi dadanya dengan mulut menganga, begitupun dengan Bu Romlah. Wanita yang kemarin tengah menghinaku itu terlihat gemetar, make up tebal dan bibir menor tidak bisa menutupi wajah pucatnya. Seketika tubuhnya ambruk, di susul dengan beberapa ibu ibu lainnya yang juga pernah menghinaku dan mas Farel. Seketika suara riuh terdengar di satu titik, yaitu lokasi tempat para tetanggaku yang kini tubuhnya terkulai. Beberapa orang mengangkat tubuh mereka dan memindahkannya ke tempat yang sudah di sediakan, di ikuti oleh keluarganya yang terlihat panik.


Di sisi lain, terlihat bidan Rini dan Bu RT tersenyum bersama ustadzah yang merupakan perwakilan pondok. Mereka menggeleng gelengkan kepala, ketika tubuh para tetanggaku di angkat dan melewati mereka.


💙💙💙


hello maaf ya baru sempet up lagi

__ADS_1


__ADS_2