Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 35


__ADS_3

Pagi ini Mas Anto, libur kerja dan kedua iparku akan datang ke rumah, untung saja aku sudah menyiapkan camilan untuk keponakanku. Ada ayu serta bilqis yang sudah pasti senang jika di rumah sudah banyak aneka camilan dan jajanan.


Mas anto, sengaja melarang kedua keponakannya jajan di warung sekitar tempatku tinggal. Karena pernah waktu itu, ayu dan bilqis di Tanya oleh mbak melly, dengan pertanyaan yang menurutku tidak pantas di tanyakan kepada anak kecil.


Sebelum iparku datang, ku sempatkan diri untuk menelpon Winda, memesan makanan untuk menjamu tamu.


Tutt


Tuut


Tut


Tanda panggilan masih belum di jawab,


{assalamualaikum } tak lama terdengar ucapan salam oleh Winda


{waalaikumsalam, akhirnya di angkat juga}” balasku


{ada apa?} Tanya winda kepada ku


{begini winda, aku mau pesan ayam bakar 3 porsi opor ayam dua porsi serta lalapan dan sambal untuk ayam bakar satu ga pedes seperti biasa.} ucapku


{oke, seperti biasa ya aku antar sekitar dua pulih menit lagi karena ayam bakan sedang di panggang sebentar lagi matang} balas Winda


{iya, totalnya berapa ?} Tanya Andini


{seperti biasa totalnya seratus enam puluh ribu, nanti yang antar keponakanku ya?} ucap Winda.


{Oke}


Tut


Tuut


Tanda telpon berakhir.

__ADS_1


Mas Anto, sibuk membersihkan halaman rumah mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar pekarangan rumah, karena perihal mamah Ragil yang sering datang meminta makana beberapa hari yang lalu, mas Anto berinisiatif, membuat pagar sementara dari bambu,


Kiri kanan halaman rumah ku sudah di pagar bata, hanya tinggal membuat gerbang depan saja, karena tukang langgananku sedang sibuk jadi belum sempat membuat pagar, sekalian aku ingin membuat ruangan kusus menjemur pakaian di samping kanan rumah, menyatu dengan ruang tengah.


Rumah yang aku bangun memang belum seratus persen jadi karena masih banyak yang harus di perbaiki.


Bukan karena tak mampu namun karena mas Anto dan bapak masih sibuk bekerja belum bisa memantau tukang, lagian aku sudah srek dengan pekerjaan pak Maman, namun pak Maman masih sibuk dia selesai bekerja di rumah orang lain sekitar satu minggu lagi bertepatan dengan bapak yang sudah tak sibuk di kebun jadi aku putuskan satu minggu lagi akan kembali membangun rumah. Karena mas Anto, hari ini libur ia putuskan untuk datang ke toko bangunan koh aang, menitipkan uang untuk bahan material biar nanti aku hanya tinggal membayar kekuranganku saja, untuk makan siang tukang sudah tau ku putuskan memesan catering kepada ibunya Winda, karena aku sedang mengandung.


suamiku tak mengizinkan akun untuk terlalu lelah,


Dua puluh menit berlalu rupanya Winda, sendiri yang datang mengantarkan makanan karena keponakannya sedang sibuk mengantar ke tempat lain. Aku beruntung punya sahabat seperti Winda, walau sudah sukses ia tak malu untuk turun tangan jika karyawannya sibuk, bahkan usaha buketnya sudah menyatu dengan usaha baju thrift shop di kota kecamatan semua stok buket dan snack tower serta luch box dan kerajinan lainnya selalu habis dalam 3 hari, barang yang selalu baru dan model yang berbeda serta harga yang terjangkau membuat usahanya laku keras.


“Assalamualaikum bumil” teriak Winda di halaman


Padahal aku sedang duduk di teras, memang kelakuannya tak pernah berubah dari aman sekolah selalu usil terhadapku


“waalaikumsalam buk owner” balasku tak kalah teriak


Mas Anto, yang melihat kelakuan kita berdua hanya tertawa dari halam rumah, selesai membersihkan rumput rupanya dia sedang memasang pagar pintu dari bambu,


“makasih buk owner” ucapku seraya mengambil plastic dan membayarnya.


“ tumben order banyak bgt mau ada acara?” Tanya winda


“biasa pasukan kecil mau datang, kamu kalau ga sibuk di sini saja” pintaku


“ oke aku akan di sini menemanimu, karena sebentar lagi pasti akan ada tetangga julit yang datang” ucap Winda kepadaku.


Benar saja, apa yang di katakana Winda, setelah aku menyimpan makan di dalam kamar, tak lama mamah Ragil bu Ani serta Melly. Datang ke rumahku


Untungnya semua camilan untuk para keponakanku dan keponakan mas anto sudah aku simpan di kamar dan menguncinya,


“neng Winda, tadi bawa rujak ya” ucap bu Ani tanpa malu malu, padahal Winda, tamuku.


“ bukan bu tadi aku bawa bahan buket, untuk Saudara Anto yang akan ke sini” jelas Winda.

__ADS_1


“kirain bawa makanan” ucap mamah Ragil


“memang kenapa jika bawa makanan mau minta ya ?” Tanya Winda dengan polos padahal ia sudah tau semua tentang tetangga baruku,.


.


sipat, jahil Winda rupanya bermanfaat dalam kondisi seperti ini


"eee eng-gak" dengan terbata mamah Ragil menjawab di barengi muka yang memerah entah marah atau pun malu.


Sedangkan Winda, orang yang sudah membuat mamah Ragil dongkol hanya cuek duduk manis di kursi teras, serta sibuk memainkan gawainya.


"yaudah neng kalo ga ada rujak ibu permisi" ucapnya pergi berlalu di ikuti kedua sahabat ajaibnya.


namun aku merasa heran, kenapa Mbak Melly, diam saja biasanya dia tak seperti itu.


di saat aku melirik kepada Winda, Rupanya Winda. sengaja memamerkan cincin yang di pakai sekarang aku paham kenapa Melly, diam saja.


💙💙💙💙


di pos ronda tiga sejoli itu, sedang membicarakan Winda, yang datang ke rumah Andini, tanpa membawa camilan.


"ibu Ani, saya yakin tadi itu Winda, bawa makanan" ucap Melly dengan tegas


"duh Melly, kamu itu tul* apa pura pura tul* kan denger sendiri bahwa Winda, itu bawa bahan buket untuk saudara suaminya Andini" jelas Bu Ani


"ga mungkin Bu, Winda kalau Kesini pasti ga pernah dengan tangan kosong, secara mereka kn besti" jelas Melly


"udah ga usah debat, mending kita Intip saja apa yang temannya Mba Andini, bawa" ucap mamah Ragil.


tak lama, mobil berwarna merah, masuk ke pekarangan Andini, ketiga orang di pos itu sibuk memperhatikan, siapa yang datang.


di susul dengan mobil berwarna putih, ketiga orang itu hanya diam dengan pikiran masing masing serta memperhatikan dengan teliti.


bersambung

__ADS_1


*mohon maaf jarang up


__ADS_2