Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 15


__ADS_3

MENANTU PILIHAN (sehari sebelum Lamaran Anto dan Andini)


"Alhamdulillah ya Sar, akhirnya Bapak bisa mendapatkan menantu idamannya," ucapku ketika sedang bersama Sarah merapikan kue-kue hantaran untuk lamaran Anto.


Anto sendiri adalah putra ketiga keluarga ini. Aku menikah dengan Mas Bara, anak pertama, sementara Sarah, menikah dengan Leo.


Aku dan Sarah lumayan dekat. Tempat tinggal kami yang jauh, membuatku dan Sarah jarang sekali bertemu. Sarah di Jakarta, tinggal tak jauh dari rumah mertuaku. Sementara aku, harus tetap tinggal di Bogor untuk merawat Ibu kandungku yang tinggal seorang diri.


"Iya, Nai, rangkaian acaranya pun meriah semua, nggak seperti kita dulu!" balas Sarah sambil tertawa.


"Kira-kira uang seserahannya berapa ya, Sar?" Jujur saja, aku sangat penasaran. Melihat seserahan yang telah dipercantik sedemikian rupa ini, isinya barang mahal semua.


"Yang aku dengar, sih, sampai ratusan juta. Kan, Bapak jual kontrakan yang di Bogor. Padahal aku kira mau diwarisin untuk Mas Bara. Tempatnya nggak jauh dari tempat kalian, kan?"


Aku tersenyum tipis dan mengangguk.


Sebenarnya, usiaku jauh lebih muda lima tahun dibanding Sarah. Jika dilihat dari umur, seharusnya aku memanggil dia dengan sebutan 'Mbak'. Namun, karena aku menikah dengan anak tertua keluarga ini, kami sepakat untuk masing-masing memanggil nama saja.


"Kira-kira Andini bisa nggak ya, kompak seperti ini sama kita?" Sengaja kualihkan pertanyaan lain. Kali ini sambil menyenggol tangan Sarah.

__ADS_1


Andini adalah calon menantu perempuan terakhir. Latar belakang keluarga cukup berada dan berpendidikan, mungkin setara jika dibandingkan dengan keluarga suamiku.


Bapak, dulu bekerja di kantor. Setelah pensiun, dia menginvestasikan uang hasil jerih payahnya selama ini dengan membeli kontrakan.


Begitu juga dengan Andini dan keluarganya. Keluarga mereka sangat berada. Jadi, wajar kalau Bapak dan Mama terlihat berbinar setiap kali membicarakan calon besannya itu.


"Waktu pertemuan keluarga aja, mereka ngobrolnya lama, nggak seperti kalau lagi ngobrol sama Ibu kita. Mungkin karena obrolan mereka nyambung."


"Kalau itu masih wajar, Sar. Mungkin Bapak canggung ngobrol sama Ibu kita."


"Ah, nggak juga. Mama mana mau ngobrol lama-lama seperti sama Mamanya Andini begitu. Duren ketemu duren, memang pas!"


Obrolan asyik kami terhenti saat Mama mertua datang dan sudah berdiri di ambang pintu.


"Naima, kan sudah Mama bilang, pakai gamis warna hijau mint, biar kesannya seragaman. Kok malah beda sendiri!" Mama setengah berbisik, tapi terdengar tegas di telingaku.


Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya baju berwarna hijau yang dia maksud. Lagipula, ini kan hanya lamaran saja.


"Nai nggak punya, Ma."

__ADS_1


"Kalau nggak punya, ya beli dadakan seperti Sarah. Kan udah Mama bilang jauh-jauh hari!"


Aku hanya diam menanggapi ucapan Mama sambil tertunduk lesu. Untuk ongkos ke Jakarta saja, Mas Bara harus meminjam uang dulu ke temannya.


Suamiku memang tidak seberuntung saudaranya yang lain dalam hal ekonomi. Di keluarga ini, hanya dia yang tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan tidak bekerja di kantor.


Gajinya sebagai buruh pabrik, hanya cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari.


Mama mertuaku sendiri, sebenarnya bukanlah Ibu kandung Mas Bara dan Leo. Bapak menikah lagi, setelah setahun ibu kandung suamiku meninggal dunia, Dari pernikahan Bapak dengannya, lahir Galang , dan si kembar Shela dan Sheli.


***


"Jangan ngelamun, ayok ke depan. Nggak enak disini terus! Omongan Mama nggak usah dipikirin. Kalau memang mau seragaman, kenapa nggak beliin aja, ya kan?" kata Sarah setelah Mama pergi. Dia pasti tahu kalau perasaanku mulai tidak enak setelah bertemu mertuaku itu.


Di depan, beberapa keluarga tengah berkumpul dan bersiap dengan mobilnya masing-masing.


Saat ini, hanya aku dan Mas Bara yang tidak memiliki kendaraan roda empat itu. Aku tidak kecil hati. Toh, kami akan menumpang mobil Sarah dan kami bisa ngobrol sepanjang perjalanan. Ada Shafiq juga, anak Sarah yang akan menemani Diva, putriku. Usia mereka hampir seumuran, jadi keduanya selalu akrab setiap kali bertemu.


***

__ADS_1


__ADS_2