Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Ibu sakit


__ADS_3

Aku segera memencet nomor Pak Damar dan terhubung. Alhamdulillah dia mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum.”


[Wa’alaikumsalam] tumben dia menjawab salamku dengan baik.


“Pak maafkan saya ... “


[Kamu kenapa tidak masuk? Pekerjaan sudah menumpuk hari ini]


Ya Rab setidaknya dengarkan dulu penjelasanku.


“Ibu saya masuk rumah sakit Pak, maafkan saya lupa memberi tahu Bapak kalau saya tidak masuk.”


Pak Damar diam.


Kemudian ia bertanya ibu dirawat di rumah sakit mana, aku memberitahunya, kemudian Pak Damar mengakhiri pembicaraan.


***


POV. Damar


Sore ini aku dan Lukman segera ke rumah sakit Mutiara, aku mengajak Lukman agar tak merasa canggung berada disana.


Aku merasa bersalah kepada Sinta karena langsung memarahinya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Kami segera masuk ke ruangan dimana ibu Sinta dirawat.


Terlihat Sinta dan kedua perempuan sedang memegang mushaf kecil, sepertinya dia sedang mengaji. dan salah satu dari ketiga perempuan itu ada Winda, Dewi penolong Damar, saat dulu hampir di tabrak motor. Rupanya orang yang di cari selama ini benar dia Adalah kakaknya Sinta.


Lukman mengucapkan salam, ketiga perempuan itu menjawab salam dan menoleh. Ia nampak terkejut melihat kedatangan kami berdua.


Lukman menyerahkan buah tangan kepada Sinta, Sinta tampak canggung karena kehadiran kami berdua dan mempersilahkan kami untuk duduk.


“Bagaimana keadaan Ibu Sin?” Lukman membuka percakapan.


“Alhamdulillah sudah membaik Pak, sudah sanggup bangun.”


“Maaf Pak Damar Sinta lupa mengabari Bapak, Nisa benar-benar panik pagi tadi.”


“Ya sudah tidak apa-apa, yang penting ibu kamu segera membaik.” Ucapnya.


“Terimakasih Pak.”


“Ini toh yang namanya Pak Damar dan Pak Lukman, Sinta sering cerita Sama ibu, katanya Bosnya baik.” Aku melirik Lukman yang tersenyum penuh arti.


Ibu Ningsih berbagi cerita bersama kami tepatnya kepada Lukman, Lukman juga kelihatan akrab dengan Bu Sumiati, aku hanya sesekali menimpali.


Sekilas aku mengetahui ternyata Sinta tinggal ber lima bersama dengan kedua orang tua dan kedua kakaknya. .


Tapi dia selalu bersyukur tak pernah sedikitpun ku lihat dia mengeluh.


Benar-benar wanita yang hebat, menambah kekagumanku padanya. Yah, hanya sebatas kagum saja.


“Ibu khawatir sama ketiga putri ibu , nanti kalau Ibu dan bapa udah gak ada, siapa yang akan menjaganya.”


“Ibu ngomong apa sih, jangan mikir yang bukan-bukan, yang penting ibu sehat dulu.” Ucap Winda dengan lembut.kaka tertua Sinta


“Lukman bisa menjaga Nisa Bu.”


Lukman menjawab dengan cepat, aku menatapnya tajam.


Bu Sumiati tertawa kecil.


“Maksud Ibu maunya ketiga perempuan cantik ini segera menikah, biar ada yang jagain gitu lo Nak Lukman.”

__ADS_1


“O ... Ibu tenang aja, sebentar lagi akan ada yang datang melamar satu persatu putri ibu.” Ucap Lukman sambil tertawa. Diaminkan oleh Ibu Sumiati.


Sinta bersemu merah, tak sengaja aku menatapnya Sinta terlihat cantik ketika sedang malu-malu seperti itu, benar kata Pak Tomy cantik alami.


Aku tersadar segera ku buang pandanganku cepat dan memperbaiki dudukku, untung mereka semua tak sadar ketika aku menatap Sinta.


Aku tersenyum masam mendengar ucapan Lukman, bisa aja dia cari perhatian ke Ibunya Sinta.


Kami segera berpamitan. Sinta meminta izin kepadaku untuk beberapa hari ini dia tidak masuk bekerja, aku mengizinkannya, sementara biarlah pekerjaannya ku alihkan kepada karyawan lain.


“Kamu apaan sih Man, sok akrab gitu, pake bilang akan ada yang datang ngelamar lagi.” Ketika sudah berada di mobil.


“Kamu kenapa sih Mar? Kan benar bentar lagi aku mau ngelamar Sinta.”


“Halah...pasti Sinta nolak kamu.”


“Kita liat aja nanti brow ... “ Ucap Lukman yakin.


Aku tak menanggapinya lagi, kami segera kembali ke kantor. Untuk mengambil mobil Lukman yang masih tertinggal di kantor.


💙💙💙


Pagi ini, sepertinya Pak Damar datang pagi sekali aku menawarkan kopi kepadanya.


“Saya buatkan kopi Pak?”


“Boleh,” Pak Damar tak menolak.


Aku segera menyuguhkan kopi dan beberapa potong cake coklat kepada Pak Damar. Sepertinya ia belum memang belum sarapan, terlihat Ia langsung menyeruput kopi dan makan cake nya.


Aku duduk di sofa sembari mengetik proposal dan mempersiapkan dokumen-dokumen penting untuk menunjang pembuatan proposal.Sementara Pak Damar duduk di mejanya menghadap laptopnya.


Ketika sedang mengetik proposal, Pak Damar memintaku untuk menghubungi Celine agar segera memberikan rincian budget untuk proyek pembuatan Mall.


“Baik Pak, segera saya hubungi.”


Karena Ponselku sudah lama dan keluaran lama pula, jadi, agak sedikit macet dan membuatku lama mengotak-atik ponsel.


“Kenapa belum dihubungi?” Ucapnya sambil menatapku yang sibuk menekan-nekan ponsel.


“Anu ... Pak, agak macet.”


“Ponselmu sudah bisa diganti, menghambat pekerjaan saja,” ucapnya ketus.


Enak saja Pak Damar bilang main ganti-ganti, sayang uangnya, ponselnya masih bisa digunakan walaupun kadang-kadang agak macet, baterainya juga masih tahan. Apalagi kameranya masih sangat bagus, aku jarang menggunakannya karena aku tak suka selfie.


Setelah beberapa saat aku segera menghubungi Cellin agar segera menyelesaikan rincian budget yang ia buat. Tiba-tiba dari arah pintu Adelia Callista datang dan menyapa ramah sang CEO


💙💙💙


“Pagi Damar ... “


“Nih aku bawakan sarapan bubur ayam, kamu pasti belum sarapan kan?” Ia segera masuk dan menghampiri Pak Damar ke mejanya.


Aku terus melakukan pekerjaanku anggap saja aku tak melihat mereka.Adelia segera menyiapkan bubur yang ia bawa untuk Pak Damar.


“Aku sudah sarapan, kamu saja yang makan,” ucap Pak Damar tanpa menoleh ke arah Adelia.


Adelia nampak kesal, karena Pak Damar menolak memakan bubur darinya.Ia melihat ada segelas kopi dan cake di atas meja Pak Damar.Tanpa kusadari ia menghampiriku.


“Hehh Ibu-ibu pengajian, aku kan sudah bilang padamu aku calon istri Damar, kenapa sih kamu ganjen banget deketin dia, pake nyiapin kopi segala buat Damar,”bentaknya kasar.


Aku terkejut dengan reaksi Adelia yang menurutku berlebihan.Aku hanya sekretaris yang menyiapkan segelas kopi dan cake untuk atasannya, apanya yang salah. Aku diam sambil terus bekerja.


“Heh ...penggoda calon suami orang, luarmu saja yang alim ternyata dalammu sama aja kayak cewek-cewe ganjen lainnya.”

__ADS_1


Hilang kesabaranku aku segera berdiri hendak membalas perkataan Adelia. Tiba-tiba ...


“Cukup! Cukup Adelia, kamu keterlaluan!” Sentak Pak Damar keras.


Aku terkejut dan melihat ke arah Pak Damar, rahangnya mengeras dan ia mengepalkan tangannya, ia menatap tajam ke arah Adelia.


“Oh kamu membela dia Mar, jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia, Sama cewek kampungan itu, ingat Mar Ibumu sudah menjodohkan kita,”ucap Adelia.


“Adelia ... sekarang kamu keluar!” Pak Damar benar-benar marah sembari menunjuk ke arah pintu.


Adelia bergeming ia masih berdiri di dekat meja Pak Damar.


Pak Damar memencet Pesawat telepon, “Sekuriti, keluarkan wanita ini dari ruangan saya!" Ucapnya sambil terus menatap Adelia dengan amarah.


“Oke, oke, aku akan keluar Mar, semua perlakuanmu akan ku adukan kepada mama dan papamu.” Ucap Adelia, netranya mengembun, ia segera berlalu keluar ruangan.


“Maafkan saya Pak, saya tidak bermaksud ... “


“Kenapa kamu yang minta maaf, ahh sudahlah ... itu bukan salahmu.” Pak Damar memotong ucapanku.Ia mendudukan tubuhnya ke kursi, ia memijit pelipisnya sambil tertunduk.


Em kenapa dia yang emosi ya sedangkan yang dikata-katain oleh Adelia itu aku.


Seharusnya aku yang marah, tapi tak ada kesempatan karena Pak Damar sudah lebih dulu mengusir Adelia.


Beberapa saat kami hanya terdiam larut pada pikiran masing-masing.


💙💙💙


Ketika makan siang di kantin Andina ingin memberi tahuku sesuatu.


“Sinta ... gue mau menyampaikan sesuatu ke elu.” Andin terlihat serius.


“Apaan sih, Nadin?” tanyaku santai sambil menyeruput jus jeruk yang aku pesan di kantin kantor.


“Em anu Sinta .. ada amanah dari seseorang, beliau nyuruh gue menyampaikan sama lu.”


“Terus ... “


“Pak Lukman ingin ngelamar elu, Sin.” Ucap Andina.


Aku sudah menduganya tapi kupikir tak secepat ini, di saat aku belum siap untuk menerimanya.


“Gimana sin, lu terima gak?”


“Nerima khitbah seseorang itu gak segampang itu, Ndin, langsung jawab iya atau enggak, aku diskusi dulu sama kedua orang tua dan kedua kakakku dan aku shalat istikharah dulu.”


“Jadi kalau ditanya Pak Lukman gue jawab apa Sin?”


“Bilang aja Sinta belum bisa kasih jawaban.”


Kabar aku akan dilamar Pak Lukman tersebar ke seantero perusahaan.


Mereka semua mendukung jika kami berjodoh, aku tak mau memberi komentar apa pun ketika mereka bertanya-tanya.Sementara itu, ketika ibu ku beritahu bahwa Pak Lukman akan melamar ku beliau menyerahkan semua keputusan kepadaku.


POV. Damar ||


Kabar bahwa Lukman akan melamar Sinta, sampai juga ke telingaku.Aku tak menyangka Lukman akan bertindak secepat ini, dan ku pikir dia hanya main-main saja.


Jika saja Sinta mmenjawab 'Ya' sepertinya Lukman langsung menikahinya dalam waktu dekat ini, yang aku tau Sinta akan merespon orang yang benar-benar ingin melamarnya bukan yang orang yang ingin mengajaknya berpacaran, karena pacaran tidak ada dalam kamusnya.


Ibu Ningsih, ibunya Nisa juga sepertinya terlihat akrab dengan Lukman.Kenapa aku merasa gelisah seperti ini kalau Lukman melamar sinta, sedangkan Sinta hanya sekretarisku tak lebih.


💙💙💙


jangan lupa like komen dan vote kakak

__ADS_1


__ADS_2