Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 7


__ADS_3

Ternyata di saat mereka asik mengobrol dan memilih beberapa dekor serta buket, di samping Toko di bawah pohon mangga, Bu Euis, Serta dua orang ibu- ibu lainnya yang tak kalah julit, Sedang memerhatikan mereka.


"Lihat itu, Dini dan Anto sudah mau menikah padahal kan dalam segi umur lebih muda dini ketimbang Si Winda itu" ucap Bu Euis dengan nyinyir


"mungkin sudah hamdun (hamil duluan) Si Dini ucap" ibu Beti tak kalah nyinyir.


mereka terus berbicara dengan apa yang mereka lihat. dan mereka dengan bahkan yang mereka bicarakan tidak pasti kebenaranya.


Hidup di kampung tidaklah mudah, kadang Winda berpikir untuk merantau namun dia merasa kasian kepada kedua orang tuanya.


Setelah selesai memilih semuanya Dini dan Anto berpamitan untuk pulang, Hari sudah semakin sore, Winda memutuskan untuk menutup Tokonya. dan berjalan ke belakang menuju Rumah.


ke esok paginya, Saat Winda sedang sibuk memasak di dapur


"Permisi paket ...."


Terdengar suara kurir di depan teras. Sepertinya itu pesananku dari aplikasi Oren. Dengan senyum kegirangan, aku hentikan dulu aktifitas masak. Melangkah maju ke depan.


"Paket saya yah, Mas?" tanya tetangga sebelah rumahku. Aku buka pintu dan melihat dua manusia itu sedang berbicara.


"Apa ibu yang namanya Bu Winda?"

__ADS_1


"Saya, Mas. Paketan kulkas 'kan yah?"


"Betul, Mbak. Sebentar, saya turunkan dulu barangnya."


"Kamu beli kulkas online?" tanya tetangga ku, Mbak Maya. Wajahnya sudah kesal, merengut mirip kain keset.


"Iya, kenapa Mbak?"


"Halah, gaya-gaya pesen kulkas di aplikasi. Di pasar juga banyak. Nora banget kamu ini, bikin malu aja."


"Gak papa, Mbak. Di sana harganya lebih miring."


"Mbak, kulkasnya mau ditaruh di mana?"


"Siap, Bu."


"Mbak, aku masuk dulu, yah, mau coba kulkas baru."


Malas mendengar ocehan Mbak Maya, lebih baik mencoba kulkas baru. Niatku beli kulkas, untuk menyimpan sayuran, dan bahan makanan lainnya agar tidak cepat busuk. Rumahku cukup jauh ke pasar, jadi lebih hemat jika punya kulkas. lagian Ibu juga memiliki usaha Rumah makan, Jadi setiap belanja bisa sekalian banyak untuk menyetok beberapa lauk serta sayurannya.


"Ini tipsnya, Mas. Makasih, yah."

__ADS_1


"Sama-sama, Bu. Kami lanjut kirim paket lagi."


"Monggo-monggo, Mas."


"Berapa harga kulkasnya?" tanya Mbak Maya mendekat. Dia terlihat melirik-lirik kulkas baruku. Mungkin, mau terang-terangan melihat, dia malu. Maklum, gengsinya lebih besar dari gunung Merapi.


"Satu juta tujuh ratus, Mbak."


"Oh."


"Kenapa, Mbak? mau beli juga?" tanyaku dengan senyum sedikit meledek.


Biasanya, apa yang aku beli, dan Mbak Maya belum punya, besoknya atau beberapa hari kemudian, dia akan membeli barang yang sama. Sudah sejak pacaran, aku menyadari sikapnya yang condong pada iri hati. Namun, berusaha abai, toh, tidak merugikan. Aku senang-senang saja jika dia membeli apapun yang dia suka, asal tidak pakai uangku.


"Ngapain beli kulkas. Nih, sebagai perempuan itu kamu harus pinter nabung. Liat perhiasan Mbak.


"Emas juga aku ada, Mbak. Tapi gak suka dipake, kaya pamer banget gitu. Padahal, emasku belum sampe satu kilo. Kalau udh sekilo, baru deh, aku pake," kekeh ku sengaja menyindir Mbak Maya.


Lihatlah, tangan, enam jari, sampai leher dililit emas. Sudah seperti toko Mas berjalan. Bukan bagus dipandang, malah terkesan norak.


"Kamu nyindir?"

__ADS_1


"Hehehe, maaf Mbak, aku lagi curhat, bukan nyindir."


Mbak Maya manyun. Bibirnya semakin monyong saja. Lucu sekali jika dia marah. Aku memilih cuek, malas menanggapi. Fokus membersihkan kulkas.


__ADS_2