Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
18


__ADS_3

Selesai berbelanja gegas Winda pergi pulang ia tak menghiraukannya, "liat saja nanti akan aku tunjukkan siapa Diriku sebenarnya" batin Winda.


Si Kecil Winda yang dulu


Aku terlahir dari keluarga yang bisa di bilang kurang mampu. Sejak masih kecil aku sudah terbiasa dengan berpuasa diri dari jajan seperti anak kecil pada umum nya. Setiap kali ada tukang jajanan anak lewat, ibu ku langsung memanggil ku untuk masuk ke dalam rumah dan menakuti ku bahwa mereka tukang culik. Padahal aku sudah mengerti karna keterbatasan ini.


Tibalah saatnya aku masuk SD, setelah sarapan nasi di campur garam aku berangkat bareng teman - teman ku yang lain. Tiba - tina ibu memanggil dan memberiku uang 2000 rupiah untuk bekal jajan 1000 dan nabung 1000, tentu saja aku meng iya kan nya karna ku tau hemat pangkal kaya.


Setelah sampai di sekolah aku mengikuti pelajaran dengan rajin dan main bersama teman - teman yang lain nya, tak pernah aku merasa malu dengan keadaan ku yang jarang jajan. Aku lebih sering langsung bermain tatkala waktu istirahat tiba karna mengirit uang jajan ku.


Sering juga aku puasa jajan di sekolah dan membawa kembali uang jajan, ku ke rumah untuk ku bawa saat bermain siang sepulang sekolah. Saat yang lain membeli banyak jajanan dengan uang saku yang di berikan ibu nya, aku lebih memilih untuk tidur di kelas atau pindah main ke teman yang sudah habis jajanan nya.

__ADS_1


Ayah ku hanya seorang buruh harian lepas atau bisa di bilang petani juga. Kadang- kadang dia kerja memanen kelapa di suruh orang, kadang mencangkul sawah, dll.


Ibuku juga buruh harian lepas kalau pun ada yang menyuruh untuk membuatkan keripik, minyak kelapa, motong rumput di kebun, ibuku selalu siap. Kadang-kadang ibuku juga menjadi buruh cuci, atau memasak di rumah orang yang membutuhkan tenaga nya.


Setiap kali aku pulang sekolah jika masih ada uang saku sisa, aku suka mampir di warung untuk membeli 1 kecap atau 1 terasi yang harga nya 500 perak. Aku suka membawa nya ke rumah untuk ku campurkan dengan nasi hangat lalu memakan nya.


manis pahit hidup sudah aku lalu sejak kecil, ucapan ucapan menyakitkan sudah terbiasa aku rasakan sedari kecil. setelah lulus Sekolah Menengah Atas, aku memutuskan untuk bekerja.


Pernah saat pulang sekolah aku mengatakan aku ingin sebuah sepeda kepada ibu ku. Malam nya ibuku meminta uang kepada ayah bahwa ingin membelikan aku sebuah sepeda, tapi ayah ku membentak nya dan mengatakan dia tidak punya uang.


Aku pura-pura tertidur waktu itu karna takut. Ibuku pergi kekamar dan memeluk ku sambil menangis diam-diam. Sejak saat itu aku tak berani mengatakan setiap keinginan-keinginan ku kepada ibu atau ayah.

__ADS_1


Memang sejak dulu keluarga ku tak pernah mempunyai hutang kepada orang lain. Saat tak punya uang sekalipun untuk membeli kebutuhan dapur yang sudah serba habis, aku,ayah,ibu lebih memilih makan nasi hambar saja.


Setiap kali ibuku akan menghutang ke warung untuk sekedar membeli kerupuk atau bawang, ayah ku melarang nya dan memarahinya. Tak jarang mereka bertengkar karna masalah ekonomi.


Sejak masih kecil aku sering di ajak ke kebun menemani ibu untuk mencari kayu bakar. Sering ketika perjalanan pulang dan aku merasa lelah, ibu akan menaikan ku ke atas kayu bakar yang di gendong nya sampai ke rumah.


Aku tau ibu sudah sangat lelah, tak jarang sering ku pergoki ibu diam-diam menangis di kebun tatkala sedang memotong kayu bakar dan membereskan nya untuk di bawa pulang. Air mata mengalir diam-diam di pipinya saat ku tanya kenapa? Ibuku hanya bilang kelilipan sambil tersenyum dan mengusap pipiku.


Saat aku kelas 2 SD ibuku melahirkan adik kembar yang cantik. Tentu saja aku sangat bahagia karna tak kesepian lagi di rumah dan akan ada teman bermain.


Setiap pulang sekolah aku jarang lagi main dengan teman ku, aku lebih suka mengasuh adik ku di rumah.

__ADS_1


__ADS_2