Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
22


__ADS_3

pagi sekali Maya sudah Datang ke rumah Winda.


"Winda, bawangnya minta dua biji ya, soalnya di rumah lagi habis. Belum sempat belanja, aku mau masak nasi goreng buat sarapan Mas Bima yang mau berangkat kerja," ucap Maya, ia pun langsung menuju rak tempat penyimpanan bumbu-bumbu dapur tanpa menunggu persetujuanku lebih dulu.


Setelah mengambil apa yang diinginkannya, ia pun keluar lewat pintu belakang tanpa mengucapkan terima kasih.


Tak lama kemudian, Maya datang lagi.


"Oh ya, lupa Winda, Sekalian cabe sama kecap manis nya ya Winda , sedikit saja!" ucapnya lagi.


"Telor nya juga ya Winda, satu saja untuk anak-anakku, minjem dulu. Nanti kalau sudah belanja kuganti". Ucap Maya


"Telur? Dipinjam?" tanyaku mulai geram.


"Iya, Winda, he he he, nanti kalau sudah belanja akan aku ganti, kok. Nanti bude ingatin aku aja ya. Soalnya aku ini orangnya pelupa."

__ADS_1


"Beneran lupa atau pura-pura lupa? Bahkan kamu tiap hari loh minta telur padaku, kalau dijumlahkan udah berapa?"


Jika cuma sekali dua kali, aku tidak keberatan. Tapi ini tiap hari, siapa yang tahan diginiin terus menerus?


"Ah, Bude Ningsih, masa sama tetangga sendiri hitung-hitungan sih? Aku janji, pasti aku ganti. Yasudah, aku pamit ya, Winda."


Lima menit kemudian


"Winda, boleh minjam beras ya satu liter saja? Beras di rumahku habis juga Winda. Kemarin lupa bilang sama Mas Bima. Tolonglah, Winda boleh ya. Nanti sore kuganti, suamiku gajian hari ini Winda!" Maya memasang wajah sedih, membuat Bu ningsih kasihan kasihan melihatnya.


"Ya sudah, Ini berasnya bawalah!" Akhirnya kuberikan juga apa yang ia minta, dari pada ia dan anak-anaknya mati kelaparan, aku tidak tega melihatnya.


Aku tidak mungkin tega mendengar keluh kesahnya setiap hari. Selagi masih bisa ku bantu, pasti akan kubantu sedaya mampuku.


Sebenarnya Maya Usia Nya lebih muda satu tahun dariku, tapi Maya lebih suka memanggilku dengan sebutan 'Winda', biar lebih akrab katanya. Bagiku tidak ada masalah, yang penting kita bisa akur. Aku memang sangat senang mempunyai tetangga baru, jadi komplek ini makin ramai.

__ADS_1


Sejak Maya dan keluarganya tinggal di sebelah rumahku, hari-hariku yang biasanya tenang dan damai kini berubah menjadi sebaliknya. Bagaimana tidak, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi ada saja alasan Maya datang ke rumahku untuk meminta sesuatu.


Rumahku ini sudah seperti warung saja baginya, apa saja diminta. Bedanya di rumahku bisa meminta sesuka hatinya sedangkan di warung tidak akan bisa kecuali dibayar atau dengan cara berhutang.


Awalnya aku merasa ikhlas dan dengan senang hati bisa membantu tetanggaku. Tapi belakangan ini malah Maya semakin menjadi-jadi dan semaunya saja mengambil barang-barang atau makanan di rumahku tanpa permisi lebih dahulu.


banyak para tetangga lain yang merasakan kelakuannya bukan hanya kepadaku saja, terkadang kelakuannya di luar nalar manusia.


Seperti kejadian hari ini, jam 16.15 Bpk sudah pulang dari sawah. Seperti biasa aku selalu menyediakan kopi serta cemilan kecil untuknya. Pas mau bikin kopi, ternyata gulanya habis, aku baru ingat tadi siang Maya diam-diam masuk ke rumahku saat aku sedang beberes kamar, Saat aku keluar dari kamar, ku lihat Maya sudah berada di dapurku dan hendak mengambil sesuatu.


"Maya? Apa yang kamu lakukan di rumahku?" tanyaku, terkejut sekaligus marah melihatnya.


"Hehe, maaf ya Winda , aku diam-diam masuk rumahnya Winda, soalnya takut Ganggu . Winda lagi tidur siang kan? Saya mau minta gulanya sedikit ya Winda!"


"Tadi memang aku lupa mengunci pintu, karena sudah lelah jadi buru-buru masuk kamar! Tapi bukan berarti kamu bebas keluar masuk rumahku, Maya. Aku tidak suka!" tegasku padanya.

__ADS_1


"Iya, Winda, maaf!" ucapnya.


Bersambung


__ADS_2