Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Rahasia Takdir


__ADS_3

Ku pacu kembali motor matic kesayangan ku di jalan yang padat untuk kembali pulang ke rumah Tante Lia, perusahaan yang dulu aku bekerja gulung tikar, terpaksa aku kembali mencari pekerjaan kesana kemari. demi bisa membuat kakakku Bangga. di perjalanan pulang Teringat kembali, akan ucapan ibu untuk membujuk Kak Winda, menikah' rasanya mustahil jika menyuruh kakakku menikah di usianya yang sekarang. ia sudah menjadi wanita karir, yang mapan bahkan bisa membeli apapun yang iya. hanya dengan memainkan gadgetnya di rumah semua pesanan akan di antar langsung ke rumah.


beberapa kali Tante Lia, menawarkan pekerjaan untukku. namun aku selalu menolak dengan alasan aku ingin berdiri di kaki sendiri, sudah cukup kak Winda membantuku. Sekarang giliran aku yang harus membalas Budi dengan cara bisa hidup sukses dan bahagia.


beberapa hari sambil memasukan lamaran kesana kemari. hari ini Sabtu, aku putuskan tidak mengirim lamaran ke perusahaan manapun, sedari pagi aku hanya berdiam di taman belakang. sambil merenungkan tentang obrolanku bersama kak Winda beberapa Minggu yang lalu di kampung.


...flashback...


sore itu kami berdua sedang duduk di teras bercengkrama layaknya kakak dan adik. namun entah apa yang terbesit di dalam benak kak Winda ia berkata.


"Seringkali Kita tidak mengerti apa sedang dan akan terjadi. Rahasia takdir atau ketentuan ilahi Membaca dengan pikiran dan hati sirri Menebak dengan kekuatan yang tersembunyi." ucapnya seraya menghela nafas

__ADS_1


aku tak berkata apa apa hanya diam saja membiarkan Kak Winda kembali' mengutarakan isi hatinya.


"Banyak sudah Orang tidak punya beban disangga Disangka akan menjadi enak selamanya. Bebas dari derita menjadi hidup bahagia. Menyangka jika anak sudah mapan semua Padahal jika tugas-tugas selesai itu menjadi tanda. Engkau akan dipanggil kembali kepada Yang Kuasa. Oleh karena itu. Tidak perlu menggerutu.


Beban berat yang kita ampu. Tanda masih punya yang dituju. Banyak cita-cita yang sangat perlu. Direalisasikan dengan mudah melulu" ucapnya seraya menatap ku penuh harap.


sekarang aku paham apa maksud dari ucapan kak Winda, pasti dia tetap kekeh dengan pendiriannya yang tak ingin menikah dengan cepat.


"sabar jangan dengarkan omongan orang lain, fokus pada diri sendiri dan bekal untuk di akhirat gelak" jawabku dengan mantap


Selalu memberi yang terbaik saja.

__ADS_1


Pasti Dia sayang dengan sebuah cara.


Mungkin tidak dimengerti dengan sering mencela. Padahal Dia pilihkan yang terbaik untuknya. Manusia sering hanya libatkan emosi dengan sangka belaka.


Bahkan Dia sendiri bicara boleh jadi apa yang disangka manusia, Justru sebaliknya beda dari yang sebenar-benarnya, Sudahlah terima saja Takdir yang sudah menimpa." ucap Ka winda dengan gelisah aku tau dia pasti merasa gusar dengan ucapan ucapan dari tetangga.


" Sabarlah kak, semua butuh prosesnya biarkan orang berkata apa, aku tak mau Kaka salah langka dan mengambil keputusan dengan tergesa, mengakibatkan penyesalan seumur hidup" ucapku


"Benar kata Adik bontot kita kak, tak usah hiraukan ucapan orang lain, perihal umur ku dengan Sinta. yang semakin hari semakin bertambah kami tetap dengan keputusan tidak akan menikah sebelum Kaka menikah" ucap Santi."


Sungguh mulia hati adik adikku, tapi aku masih merasa gusar, tak mungkin aku membiarkan mereka berdua sama seperti ku menjadi perawan tua. seperti apa yang orang orang katakan kepadaku.

__ADS_1


tak tega rasanya jika kedua adikku, harus menanggung beban seberat, rasanya biar aku saja yang menanggung beban berat dan takdir kehidupan ini.


...flashback of...


__ADS_2