Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
37


__ADS_3

Hari ini waktunya untuk arisan seperti biasa arisan diadakan di aula aula yang hanya dibangun dengan beberapa tiang dan atap saja tanpa ditembok ke sekelilingnya.


Tapi nih yang bikin aku heran mama Ragil kemarin ga datang merecoki rumahku, bukannya aku kangen, hanya sedikit heran saja, akhirnya aku malah jadi curiga, apa dia sedang menyiapkan serangan balasan atau apa.


“Sudahlah mah ga usah dipikirin, toh seharusnya mamah malah senang karena dia ga datang, bukannya itu yang mama inginkan?” Ucap mas Anto semalam saat aku menyatakan keheranan mama Ragil ga datang.


“Iya sih pah, hanya heran saja karena semalam itu dia habis wa dan marah-marah ga jelas ke mamah.”


Ya sudahlah sekarang aku lebih baik menghampiri bude Karni saja dulu untuk berangkat arisan bareng.


Sebelum berangkat aku pastikan rumah sudah terkunci.


Hari ini pas hari Sabtu, , seharusnya suamiku libur tapi ada telepon dari atasannya yang meminta suamiku untuk masuk kerja setengah hari.


Saat aku sudah berjalan dengan bude Karni, aku mendengar suara dibelakangku yang ternyata mama Ragil yang sedang berbincang dengan Bu Husna, tetanggaku yang tinggalnya empat rumah setelah rumah mama Ragil.


“Mama Ayu sama bude Karni baru berangkat juga nih?” tanya Bu Husna.


Sebenarnya aku tidak berharap disapa sama Bu Husna karena ada mama Ragil disebelahnya karena aku tuh malas banget kalau sampai mama Ragil merasa akrab lagi denganku.


“Iya Bu Husna.” Jawabku berusaha sopan.


Bu Husna ini adalah seorang guru, dia pernah menjadi wali kelas Ayu, saat dikelas dua dulu dan sikapnya yang ramah serta baik sama semua orang, membuat orang-orang yang tinggal di tempatku pada menaruh hormat padanya.


Mungkin ini juga yang membuat mama Ragil tak banyak bicara saat kami berjalan bersama, entahlah.


Saat kami hampir dekat dengan aula tempat kami mengadakan arisan, bude Karni dan Bu Husna berjalan lebih dahulu karena tanganku ditahan oleh mama Ragil.


Haduh ada apalagi ini, perasaanku sudah ga enak saja.

__ADS_1


“Ada apa?” tanyaku tanpa basa basi lagi padanya.


“Mama Ayu, aku mau pinjam uangnya dong buat bayar arisan, lima puluh ribu sesuai bayaran arisan.”


“Uang? Saya ga ada, nih uang saya pas cuma ada sepuluh ribu aja.” Ujarku sambil memperlihatkan isi dompet koin yang aku pegang dengan tanganku.


Ya memang ini kebiasaanku jika arisan tak bawa uang banyak, ini salah satu caraku untuk tak terpikat jika ada yang menjual barang di arisan nanti. Bukannya tak mau atau tak mampu membeli hanya saja terkadang barang yang dijual oleh ibu-ibu peserta arisan itu, aku belum terlalu membutuhkannya.


“Haduh mama Ragil masa pergi arisan cuma bawa uang segitu aja.” Ucapnya dengan nada mengejek.


“Ga apa-apa mama Ragil, lagipula uang sepuluh ribu ini uang kembalian belanja tadi bukan uang boleh utangan.” Jawabku sambil berlalu meninggalkan mama Ragil dan gegas masuk kedalam aula.


Sengaja aku duduk dekat dengan Bu Husna dan bude Karni, karena kedua ibu-ibu ini adalah tokoh dan tetua ditempatku tinggal.


tak lama Winda, Lastri Maya dan Bu Euis buk Rum, dan tetangga kampung lainnya datang.


Aku melirik ke arah mama Ragil yang sedang menatapku dengan kesal, biarin saja dia kesal samaku, mau pinjam uang tapi menghina orang.


Ada tiga orang yang belum membayar arisan, ada Bu Endah, Bu Fatma dan yang terakhir mama Ragil.


Tapi Bu Ela tadi juga sudah menjelaskan jika Bu Endah nanti dibayarkan oleh anaknya yang ikut arisan juga, Bu Fatma sedang mudik dan nanti uangnya akan ditransfer ke Bu Ela siang ini, sedangkan mama Ragil, tadi Bu Ela tak memberi penjelasan apapun karena mama Ragil datang arisan.


Semua mata tertuju pada mama Ragil dan kulihat ia nampak gelagapan karena tatapan ibu-ibu menuju padanya.


“Oh saya nanti dibayarkan sama mbak Andini, iyakan mbak Andini?”


Aku terkejut setelah namaku disebut oleh mama Ragil, kapan aku bilang akan membayarkan uang arisannya.


“Hah, kok saya mama Ragil, saya kan ga bilang akan bayarin uang arisan mama Ragil.” Protes Ku.

__ADS_1


Wajar Kan kalau aku protes karena aku memang tak merasa membuat janji apapun pada mama Ragil.


“Iya memang mbak Andini ga janji mau bayarin saya arisan, tapi kan mbak Andini punya hutang sama saya, jadi hutangnya buat bayar arisan saja ya.”


“Hutang apa?”


Aku tambah heran dengan apa yang mama Ragil katakan, karena walaupun aku lagi terdesak tak memegang uang dan ada kebutuhan yang harus aku bayarkan, tetap saja aku ga mau berhutang, aku akan bersabar menunggu suamiku pulang dan meminta uang padanya.


“Hutang apa mbak Andini, kok tumben mbak Andini punya hutang, biasanya paling ga suka berhutang.” Ujar Bu Ela ikut kaget mendengar penuturan mama Ragil.


Aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai tanda ketidaktahuanku atas pernyataan mama Ragil tadi.


“Itu loh mbak Andini waktu beli sembako di warung Bu Dar kemarinan, mbak Andini kan uangnya kurang jadi pinjam sama saya lima puluh ribu.”


Ibu-ibu yang mendengar pernyataan mama Ragil hanya bisa tertawa saja, bahkan ada yang bilang kalau mama Ragil sedang mengigau.


“Kok ibu-ibu malah tertawa sih mendengar penjelasan saya tadi?”


“Begini loh mama Ragil, mungkin mama Ragil ini belum tahu atau apa, tapi Bu Dar itu saudara mba Andini, beliau itu Budhenya mbak Andini, jadi ga mungkin kalau mbak Andini sampai berhutang sama mama Ragil.” Jelas Bu RT pada mama Ragil.


“Memangnya kalau warung sembako itu punya Budhenya lantas mbak Andini ga mungkin berhutang sama saya.” Ucap mama Ragil dengan kesal.


“Bukannya tidak mungkin, tapi mbak Andini pasti dikasih gratis kalau mau belanja di sana, makanya mbak Andini ga pernah belanja di sana karena ga enak dikasih gratis terus, begitu kan mbak Andini?”


“Iya Bu RT, itu yang dibelakang Bu RT ada anaknya bude Dar.” Ucapku sambil menunjuk Mila yang datang mewakilin ibunya.


Mila yang aku tunjuk ternyata sedang tertawa saja sambil melihat ke arah mama Ragil, sedangkan mama Ragil tampak salah tingkah karena kebohongan dia langsung terungkap saat itu juga.


“Jadi gimana ini uang arisannya mama Ragil? Mau bayar kapan? jangan banyak alasan, kalau nanti mama Ragil keluar namanya, bakal saya masukin lagi loh nama mama Ragil.” Tanya Bu Ela dengan tegas.

__ADS_1


Nih saya kasih tau wajah mama Ragil saat ini, udah kayak kepiting rebus warnanya merah, ditambah lagi dia celingak-celinguk ke kanan kiri seperti minta bantuan ibu-ibu yang hadir.


bersambung


__ADS_2