Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
naskah Tanpa judul


__ADS_3

Memasuki jalan Pedesaan, sudah terasa segar dan sejuk. aku lihat hamparan perkebunan milik kak Winda, yang di kelola oleh Kembaranku kak Santi.


Menjalani hubungan kakak beradik boleh dibilang seru-seru gimana gitu. Kadang bertengkar, kadang kompak, kadang bercanda, kadang diam-diaman. Ya, begitulah menyebalkan apapun kakak, adik tetap menjadikannya teladan. Sebaliknya, semenyebalkan apapun adik kakaknya tetap sayang.


Namun sebagai kakak, pasti ada satu momen di mana Aku berada di posisi sulit. Terutama saat adikku lebih unggul dariku atas segala hal; lebih sukses. Di sini kebesaran hatiku sebagai kakak di uji. Di satu sisi aku bangga memiliki adik seperti Sinta bertalenta, tapi di sisi lain ada keirian melihat kesuksesan yang telah diraihnya.


Bangga adalah hal yang pasti dirasakan oleh kakak ketika melihat adiknya sukses. Sebab bagaimanapun juga kesuksesan adik membawa angin segar ke dalam kebahagiaan keluarga. Kebanggaan lain datang dari diriku adalah secara nggak langsung kesuksesan adikku juga ada andilku. Pembelajaran yang telah kamu berikan saat ia butuhkan selama ini berarti nggak sia-sia. Juga bantuan berupa langsung maupun hanya semangat dan doa akhirnya terbayar dengan kesuksesannya.

__ADS_1


melihat Adik kembar ku bisa lebih maju selangkah dariku, merasa ada rasa iri namun kecintaan ku terhadap Kota tempat aku lahir memutuskan untuk mengabdi di sini. mengajari para petani tentang bertani memajukan kampung kecil pinggiran kota.


di saat pikiran aku berkelana entah kemana, sekarang aku sedang berada di pinggir jalan raya di bawah pohon Mangga tua, ku lihat sekilas seperti mobil yang biasa mengantar Adikku pulang. benar saja sang sopir berhenti sejenak kala melihat ku berada di pinggir jalan hamparan perkebunan.


"neng pulang bareng ga" sapa mang Ujang.


"ga mang, aku bawa motor nanti nyusul" jawabku

__ADS_1


kakak, mana yang tak bahagia mengetahui sang Adik pulang. gegas ku menaiki kuda besi roda dua, menyusul mobil yang berada di depanku.


15 menit berlalu, kami tiba di halaman rumah berbarengan. tepatnya rumah ini milik kak Winda, namun Kak Winda selalu mengatakan jika ini rumah Ibu dan bpk.


Rupanya mereka sedang mengobrol di teras, sudah ada bapak ibu dan juga kak Winda, si sebrang jalan Ada trio julid.


sama samar aku mendengar jika mereka sendang membicarakan kak Winda yang tak kunjung menikah dan Istrinya mas Satria yang sedang hamil, ya mas Satria adalah mantan pacar kak Winda, mereka sebenarnya sudah berpacaran dari sejak kak Winda kelas 2 SMA, yang aku dengar mereka menjalin hubungan dengan baik. Kak Winda putus karena belum siap untuk menikah ia ingin Melihat aku dan adik kembarku, kuliah dulu maka mereka memutuskan hubunganya.

__ADS_1


aku lihat kak Winda baik baik saja setelah lama putus. tak ku hiraukan ucapan trio julid. gegas aku membantu Sinta membawa oleh oleh dari kota, yang jelas oleh oleh itu pasti bukan di beli oleh namun di beli oleh mertu Mbak Lastri Adik sepupuku.


di setiap dus sudah terisi paper bag dan setiap paper bag memiliki nama. untuk cucu kesayangan Tante Lia, menyiapkan sebuah duas besar yang sudah Pasti isinya aneka camilan, pakaian serta alat tulis dan mainan. padahal di sini juga tak kekurangan maklumlah jika nenek jauh pasti selalu ingin yang terbaik untuk cucunya.


__ADS_2