
lain Kali jangan sembarang masuk rumah orang to Maya, ucap Bu Ningsih
"iya Bu maaf" ucap Maya
Tanpa menunggu persetujuanku dan Ibu terlebih dahulu, maya Langsung mengambil gula dari wadah berwarna biru tersebut, dan langsung memindahkannya ke wadah yang sudah dibawanya dari rumahnya. Karena sudah geras aku buru-buru masuk kamar dan tidak bisa mencegahnya.
"Makasih ya Bu Ningsih, Maya pamit dulu!" Ia langsung pergi meninggalkanku begitu saja. Tanpa ada perasaan bersalah darinya karena sudah masuk rumah orang tanpa izin.
Aku hanya bisa mengelus dada, minta kesabaran lebih supaya diri ini bisa menghadapi sifat tetangga yang satu ini.
***
Hanya air putih dan cemilan kecil yang bisa ku suguhkan untuk bpk, karena gula habis jadi batal bikin kopi. Keterlaluan sekali si maya, gula yang tadi tinggal setengahnya rupanya habis dipindahkannya ke wadah yang dia bawa tadi. Untungnya bpk mengerti saat kukatakan gulanya habis.
Seperti biasa, sore ini aku akan menjemput anak sulung Lastri--Nindy di TPA.
"bu, aku mau jemput Nindy dulu ya di TPA sekalian mau beli gula, ."
". Yasudah kamu hati-hati di jalan ya!"
__ADS_1
"Iya, bu!"
Segera ku hidupkan motor yang diparkir di garasi rumah, lalu mengendarainya dengan kecepatan sedang. Sampai di TPA kulihat anak sulung Lastri sudah menunggu di depan gerbang, langsung ku hentikan motorku dan mengajaknya pulang. Tak lupa mampir di warung depan gang untuk membeli gula dan jajanan untuk kedua anak mba Lastri.
Akhir akhir ini mbak Lastri, sibuk mengurus perusahaan kedua anaknya sering di titip bersamaku, karena kegiatan menulis dan membuat buket ku kerjakan malam hari. lagian akhir akhir ini semua stok buket sudah banyak.
Sesampainya di rumah, aku segera menuju dapur untuk menaruh belanjaan tadi. Saat aku membuka kulkas dan hendak mengambil air mineral, tiba-tiba mataku tertuju pada rak paling atas yang biasa digunakan untuk menyimpan telur. Telur-telur yang ku beli dua hari yang lalu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"bu, telur yang di dalam kulkas pindahin kemana?" tanyaku kepada ibu.
Terpaksa aku bertanya padanya.
Betapa kesalnya hatiku, saat aku tidak ada di rumah, si Maya itu kesempatan mengambil apa saja yang dia mau dengan menjadikanku sebagai alasannya. Awas kamu ya, Maya!
Setelah memandikan anak mba Lastri si bungsu, dan si sulung juga sudah pergi bermain bersama teman-temannya, aku bergegas menuju rumahnya Maya untuk menanyakan hal ini.
Saat sampai di depan rumahnya Maya, terlihat dari luar rupanya dia lagi bersantai sambil nonton TV bersama suaminya. Ku Urungkan niatku untuk menanyakan soal tersebut karena tidak enak kalau ada suaminya.
Katanya mau masak telur balado, bilangnya aku yang nyuruh karena pengen nyobain masakannya Maya. Tapi malah santai-santai gitu!
__ADS_1
Siapa yang tidak marah dan emosi diperlakukan seperti itu? Dari beras, bumbu-bumbu dapur serta gula sudah ku kasih tadi, sekarang stok telurku untuk beberapa hari ke depan malah ludes juga dia ambil semuanya.
Sebenarnya apa sih maunya si maya itu? Makin hari aku semakin geram saja melihat ulahnya!
***
Malam pun tiba, malam ini sumi mba lastri ada acara dengan rekan kantornya. Habis Magrib Mas Ren meminta Lastri untuk menyiapkan makan malam. Karena suaminya mbak Lastri ada riwayat sakit maag jadi harus makan tepat waktu.
Nasi sudah ku keluarkan dari rice cooker, pas mau ngambil lauk ternyata sudah habis, tinggal kuahnya saja.
Tadi sore sepulang dari kantor Lastri, masak ikan kerisi asam manis dan tempe goreng. Seingat Lastri tadi sisanya masih banyak, memang ikan asam manisnya sengaja kusimpan di dalam kulkas agar tidak cepat basi. Tinggal dipanaskan saja jika nanti kami hendak makan malam. Tempe gorengnya juga sudah habis tak bersisa. Siapa yang mengambilnya?
Aku kesal, marah dan emosi hingga darahku serasa mendidih, emosiku naik sampai ke ubun-ubun. Aku tau siapa pelakunya, bukan kucing meong, tapi kucing garong, siapa lagi kalau bukan si Maya itu?
Sebisa mungkin ku tahan emosiku, berusaha menetralkan api amarah yang sudah menggebu-gebu di dalam dada ini karena Mas Ren sudah menunggu di meja makan.
Mau masak telur dadar, telurnya udah lari semua ke tetangga sebelah. Maya benar-benar keterlaluan! Ujung-ujungnya hanya nasi dan mie instan menu makan malam kami kali ini, suamiku sempat nanya kenapa cuma mie instan? Ku jawab saja karena Adek rewel jadi gak sempat masak. Karena memang suamiku tidak banyak nuntut, ia langsung saja menyantap makanannya tanpa protes sedikitpun.
Ingin ku ceritakan semua hal ini sama suamiku, tapi tunggu mas Ren pulang dulu dari acara kantornya. Baru nanti akan ku ceritakan semuanya.
__ADS_1
geram Rasanya mendengar cerita dari Mbak Winda, dan bude Ningsih sejak Aku pindah kesini dia seenak udel mengambil barang kebutuhan dapur di rumah.