Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
jawaban dari lamaran


__ADS_3

Perwakilan PT. Adiwijaya melakukan presentasi, mereka menampilkan hasil desain yang hampir sama dengan yang kami kerjakan sebelumnya.


Setelah selesai, tepuk tangan bergemuruh di seantero ruangan.


“Bisa-bisanya mereka bangga dengan hasil kerja orang lain,” celetuk Celine.


“Iya bener, semoga penampilan Pak Heri lebih baik dan terpilih menjadi pemenang tender,” ucap Andina mendoa’kan.


“Amin,” kami mengaminkan serempak.


Tibalah giliran Pak Heri melakukan presentasi di depan semua orang.


Terlihat CEO dari pihak rival tertawa mengejek, mereka pikir desain kami akan sama dengannya. Pak Damar terlihat duduk dengan tenang. Aku mengucapkan bismillah dalam hati.


Pak Heri memulai presentasi, beliau menampilkan gambar desain arsitektur mall yang unik dan menarik di layar proyektor. Pak Heri cukup mahir dalam menyampaikan presentasi secara menarik, sehingga setiap orang yang menyaksikannya seolah terhipnotis.


Pak Heri menutup presentasinya di iringi tepuk tangan yang meriah.


Adina, Celine dan Pak Lukman sampai berdiri. Pihak penyelenggara terlihat mengangguk-angguk di ujung sana.


Alhamdulillah presentasinya berjalan dengan baik, Pak Damar terlihat puas dengan hasil presentasi Pak Heri, setelah turun Pak Damar langsung menjabat tangan Pak Heri dan memeluknya diikuti oleh yang lain. Kecuali aku yang hanya menangkupkan tanganku di dada.


Kami segera kembali ke kantor dengan perasaan lega dan menunggu hasilnya.


💙💙💙


Ketika makan siang di kantin bersama Andina, Pak Lukman datang menghampiri dan ikut bergabung bersama kami.


Setelah basa basi sesaat, Pak Lukman segera ke inti permasalahannya.


“Emm ... Sinta, saya menunggu jawaban kamu segera, karena saya benar-benar ingin melamar mu secara resmi kepada ibumu.”


“Bagaimana Sinta?" Pak Lukman bertanya kepadaku.


Aku terdiam, sebenarnya jawaban untuk Pak Lukman sudah ku putuskan jauh-jauh hari sebelumnya, hanya saja karena kesibukan yang padat sehingga aku tak sempat memberikan jawabannya.


“Iya Sin, gue sebagai penyampai pesan dari elu, ditanyain terus sama Pak Lukman, capek gue Sin, diteror Pak Lukman terus.” Ucapnya sembari tersenyum.


“Maaf sebelumnya, Pak karena kesibukan kantor akhir-akhir ini, saya belum sempat memberi jawaban.”


Kutarik nafasku dan berpikir sejenak jawaban apa yang cocok kuutarakan agar Pak Lukman tidak tersinggung.


“Pak Lukman, saya minta maaf sebesar-besarnya, saya belum bisa menerima lamaran Pak Lukman,”ucapku.


Terlihat Pak Lukman agak kecewa dengan keputusanku.


“Tapi kenapa Sinta? Saya sedang merubah diri saya menjadi lebih baik lagi, menjadi seorang muslim yang baik, saya sudah mulai shalat lima waktu, mengaji agar kamu bisa menerima saya, Sinta,”ucapnya Pak Lukman.


“Sekali lagi saya minta maaf Pak Lukman, hati saya belum yakin menerima lamaran Bapak, selain itu saya punya dua Kaka belum menikah tak enak rasanya melangkahi kedua Kaka sayang dan saya masih mau mengurus ibu.”

__ADS_1


“Setelah menikah pun kamu masih bisa mengurus ibumu.”


“Tapi bukan itu masalahnya, hati saya belum yakin, semoga Bapak mengerti dengan keputusan saya, dan lagi jika Pak Lukman ingin berubah ada baiknya bukan karena seseorang, tapi karena Allah.”


“Saya permisi Pak, Assalamualaikum.”


Mereka menjawab salam, kutinggalkan Andina dengan Pak Lukman aku langsung naik ke ruanganku.


Semoga keputusanku ini benar ya Allah, dan semoga saja Pak Lukman tidak sakit hati setelah aku menolak lamarannya.


Hari berlalu, semua karyawan yang mengerjakan tender proyek kemarin dikumpulkan di ruang rapat oleh Pak Damar, beliau akan menyampaikan sesuatu.


Ia berdiri dan mengedarkan pandang ke seluruh ruangan. Kharisma dan jiwa kepemimpinan beliau terlihat ketika sedang berbicara di depan karyawannya.


“Hari ini saya akan menyampaikan sesuatu kepada kalian semua, sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kerja kerasnya selama ini, dan akhirnya perusahaan kita ... “ ia menggantung ucapannya sejenak.


“Perusahaan kita memenangkan tender besar itu .“


Semua bertepuk tangan dan bersorak bahagia.


“Alhamdulillah” tidak sia-sia semua usaha yang kita lakukan akhir-akhir ini.


“Seperti janji saya kemarin saya akan memberikan bonus kepada tim yang telah mengerjakan tender ini, dan hari sabtu ini kita berlibur ke puncak.”


Mereka kembali bersorak bahagia, kemudian semua kembali ke ruangan masing-masing dengan perasaan senang.


Lukman masuk ke ruanganku dengan muka ditekuk. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.


Aku meliriknya dengan ekor mataku, sambil terus menatap laptop.


“Kenapa Man, lesu banget, kita kan, baru menang tender.”


Ia tak langsung menjawab pertanyaanku, ia menghela nafas dalam.


“Iya ni Mar, Sinta nolak lamaranku, rasanya kok sakit banget ya, padahal aku benar-benar serius sama Sinta, ketika dulu ditolak cewek aku gak pernah sesakit ini.”


Aku bersorak dalam hati, ku sembunyikan senyumku dari Lukman nanti dia pikir aku bahagia diatas penderitaannya.


Leganya ternyata sinta menolak lamaran Lukman, padahal aku ingin mengatakan kepada Sinta bahwa jangan menerima lamaran Lukman, untung saja tak ku sampaikan.


“Sabar Man ... mungkin dia bukan jodohmu, masih banyak cewek lain diluar sana, Bahkan lebih cantik dari Sinta,” hiburku.


“Kalau yang cantik banyak, tapi yang seperti Sinta itu sudah langka Mar, limited edition.”


“Hahaha, kamu pikir Sinta barang, Man,” ucapku.


“Tapi, aku tak akan menyerah Mar, selama janur kuning belum melambai, aku masih punya kesempatan untuk memilikinya,” ucapnya berapi-api.


Kok Lukman kembali mengejar sinta, padahal Nisa sudah menolaknya. Yah, memang perempuan seperti Sinta sudah jarang di jaman sekarang ini.

__ADS_1


Aku segera pulang ke rumah, rasanya lelah sekali setelah seharian bekerja.


Setelah selesai mandi, Mama memanggilku. Kami duduk di ruang keluarga, Papa sedang membaca buku sembari minum kopi dan cemilan.


“Damar ... mama ingin bicara,”


“Kemarin mamanya Adelia bilang sama Mama, ia ingin kalian segera bertunangan, mama juga setuju, sebaiknya kalian segera bertunangan.”


“Usiamu sudah tidak lagi muda Mar, pikirkan masa depanmu, setelah putus dari Clarissa kamu tak pernah dekat dengan cewek lain, yang kamu pikirkan banyak kerjaan saja,” lanjutnya panjang lebar.


Ku lihat Papa melirik ke arahku.


“Pokoknya mama mau kamu segera bertunangan dengan dengan Adelia.”


“Ma ... Damar gak cinta sama Adelia, aku gak suka, Mama gak bisa memaksakan kehendak Mama,” ucapku.


“Kalau kamu tidak dipaksa, kamu gak akan nikah-nikah Mar, sampe beruban juga kamu gak bakal nikah,”ucap Mama keras.


Papa masih bergeming, beliau hanya menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak laki-lakinya.


Aku memutar otakku agar Mama tak memaksaku untuk bertunangan dengan Adelia.


“Besok kita ke rumah Adelia, menentukan tanggal pertunangan kalian,” ucap Mama tegas.


Aku mulai gundah, ayo Damar berpikir, gunakan otak encermu.


“Aku sudah punya calon istri, Ma,” ucapku tiba-tiba.


Papa terlonjak kaget dari duduknya.


“Apa!?” mereka terkejut mendengar ucapanku.


“Benar Mar kamu sudah punya calon istri?” Papa mulai antusias menanyaiku.


“Ya,” ucapku singkat.


Walaupun calon istri itu entah dimana, biarlah, sementara untuk menghindari pertunanganku dengan Adelia.


“Ma, biarlah Damar menikah dengan pilihannya, jangan paksa Damar dengan Adelia, nanti kalau Mama paksa mereka bercerai, nanti kita juga yang malu.”Emm untunglah Papa ada dipihakku.


“Tapi Pa, bagaimana aku akan menjelaskannya pada Jeng Dewi.”


“Nanti Papa yang akan menjelaskannya.”


“ Baiklah dalam waktu dekat ini, bawa calon istrimu ke rumah, jangan-jangan kamu bohong lagi,” ucap Mama ketus.


Ya ampun ... aku tak berpikir bahwa Mama memintaku membawa calon istri hayalan itu ke rumah.


Bagaimana ini?

__ADS_1


__ADS_2