
"Memang Winda kasih garam kok, biar gurih-gurih nyosss. Lagian enggak banyak cuma lima sendok teh," kataku tersenyum puas.
"Nd*smu gurih, ini tuh bukan keripik"
"bilang keripik siapa? Jelas-jelas itu jus mangga rasa garam, supaya darah Mbak naik drastis, terus str0ke!"
💙💙
"Wahhh, perhiasan baru lagi kamu Rin? "
"Hehe, iya buk"
"Makin sukses aja ya suamimu, ajak dong bang Ipul kerja biar gak jdi pengangguran tu" Sahut bu Desi.
"Nanti deh kutanya bang Ijal masih Terima orang gak di tempat dia kerja" Sambil berjalan kearah toko bangunan.
Ya begitulah aku yang terkenal di kampung ini dengan sebutan toko mas berjalan. Bagai mana tidak dari kepala sampai tangan ku penuh dengan emas, eeehh lebih tepatnya emas kw hihihi.
Mana cukup lah uang ku jika harus setiap hari beli harus gonta ganti emas, sedangkan bang Ijal hanya seorang pemulung.
Mana tau orang orang sini, kan aku bilang bang ijal kerja di sebuah perusahaan sebagai manager.
"Beli apa mbak? " Kang asep pemilik toko bangunan.
" Cari paku kang, 5000 aja" Sahut ku.
"Oh, ad mbk, sebentar" Gayanya sosialita tapi beli paku cuman lima ribu haduh, gumam kang asep.
Setelah mendapatkan apa yang ku mau segera aku bergegas pulang ke rumah.
"[Dek hari ini mas pulang, jangan lupa masak ya ]" Pesan dari bang Ijal.
"[Iya]" Jawab ku singkat.
"Assalamu'alaikum "
"Waalaikumsalam" Segera ku buka pintu teryata bang ijal yang datang.
Segera kuambil tangannya lalu mencium nya dengan khidmat.
__ADS_1
"Ayo bang, aku sudah masak makanan kesukaan abang, sambal tempe sama ikan asin."
" Wahh, istri abang ini memang pandai sekali, tau saja kalau abang sudah lapar, ayo dek! "
"Bang aku mau renovasi wc kita ya? " Di sela kami tengah duduk santai di depan TV.
" Iya dek gak papa beli terpal sama paku aja itu kayunya masih bagus, " Kata bang ijal.
Ke esokan hari nya seperti biasa setelah mandi aku memakai perhiasan kw ku kembali.
💙💙💙
"Mbak ..., Mbak ..., Mbak." Panggilan itu membuat Winda menghentikan kegiatan memasaknya dan langsung membukakan pintu.
Di depannya kini sudah ada seorang wanita yang berdiri dengan memegang piring kosong di tangannya.
"Aku minta nasi, ya, Mbak. Di rumah belum masak, tapi anakku udah laper," ujar wanita itu langsung masuk ke dalam rumah tanpa persetujuan.
Winda hanya bisa membatin di dalam hatinya. Ini bukan yang pertama, ke dua, apalagi ke tiga. Dirinya sangat tahu jika nanti yang berkurang di dapurnya bukan hanya nasi.
Dia adalah Rin. Wanita dengan satu anak yang ditinggal suaminya merantau, dan hanya pulang sebulan sekali.
"Wah! Mbak, masak balado tongkol sama tumis kangkung, ya?" tanya Rini, dengan mata berbinar melihat makanan yang tersaji di meja.
"Biasanya juga langsung mengambilkan, Mbak. Tumben sekarang pake izin, kemaren ke mana?" Bukan menjawab sindirannya, Rini malah mencomot dua potong balado tongkol dan tumis kangkung, yang sekarang sudah mendarat mulus di piringnya.
Winda, hanya bisa menghela napas melihat kelakuan tetangganya itu. Ia sudah pernah bertanya pada Rini secara halus mengapa wanita itu selalu meminta lauk dan nasi padanya. Padahal wanita itu masih masuk dalam katagori orang yang sangat mampu.
Lalu apa jawabannya? Rini malah marah-marah, dan mengatakan jika selama ini Winda tak ikhlas memberikan makanannya.
Pernah suatu hari Winda tak masak sama sekali, nasi pun tak ada di tempatnya. Seperti biasa hari itu Rini datang, karena tak mendapati apapun wanita itu malah marah. Dia bilang jika Winda, adalah istri tak becus. Suaminya pulang bukannya disambut dengan masakkan.
Ayu sudah bercerita tentang Rini ke suaminya. Pria itu hanya menyuruhnya untuk sabar. Mungkin ini adalah ujian di awal pernikahannya. Ya, Winda dan mas Farel baru saja Lima Bulan yang lalu menikah. sejak itu juga ia mempunyai tetangga seperti Rini.
setelah mendapat apa yang diinginkan, Rini pun mengucapkan terima kasih dan langsung pergi meninggalkan Rumah Winda.
💙💙💙
Semakin hari kelakuannya semakin menyebalkan, menggunakan perhiasan bak toko emas berjalan. Dan memamerkannya kepada tetangga lainnya.
__ADS_1
Pagi ini kebetulan usaha yang sudah mertuanya berikan kepada Winda, harus Winda cek ke setiap cabang. Maka dengan senang hati Winda pergi, mengendarai roda duanya. Menukar kendaraan nya di rumah satu lagi, rumah yang pernah dia beli dan di jadikan gudang. Selama ini Tentang baru Winda hanya tau jika Winda, ibu rumah Tangga biasa. Dan suaminya bekerja di kantoran, bulan Pemilik Kantor padahal. suaminya Winda pemilik kantor di mana tempat ia bekerja.
 💙💙💙
"Aku tuh kesel, Mas," ujar Winda yang kini sedang duduk dan bersandar di bahu suaminya.
Sore tadi saat Mas Farel pulang Winda menceritakan semuanya
"Sabar, ya. Insyaallah itu jadi pahala buat kita nanti. Makanya, kamu harus ikhlas," kata Mas Farel menasehati.
"Ya, kalo sekali dua kali gak apa apa. Ini hampir setiap hari, Mas."
"Kalo gitu kamu gak usah masak, nanti kita makan di luar aja," usul Mas Farel.
"Itu lebih boros tau, Mas," rengek Winda.
Di sela-sela ombrolan suami istri itu terdengar suara pintu diketuk. Mas Farel pun menyuruh Ayu untuk tetap duduk, dan dia yang membukakan pintunya.
"Ada apa, Galuh, tumben malem-malem kamu ke sini?" tanya Mas Farel pada Galuh--anak Lisa.
"Tantenya ada, Om?" tanya anak kecil itu ragu.
"Ayo, masuk! Tantenya ada di dalem."
Merekapun masuk dan menghampiri Ayu yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Sayang, kamu dicariin Galuh, nih."
"Ada apa?" tanya Winda malas.
"Tolong masakin mie, Tante. Bunda aku masih sibuk," ucap anak laki-laki itu.
"Mana mienya?" tanya wanita itu ketus, "emang kemana Bunda kamu, sampe ga bisa masak mie?" lanjut Winda lagi.
"Kata Bunda mienya ada di tante. Bunda lagi perawatan di kamar," jelas galuh.
Lagi dan lagi. Kemarin Galuh meminta Telur, sosis, rolade, bakso, dan sekarang mie. Rini benar-benar membuat Ayu darah tinggi.
Melihat Winda yang sudah naik pitam, Mas Zaki kembali bertanya, "Bundanya gak bisa, ya. Padahal masak mienya cuma satu?"
__ADS_1
"Bunda gak mau, Om. Katanya nanti perawatannya luntur, terus mukanya kusam, tangannya kasar. Kaya, Tante," jujur Galuh.
Tanpa mengindahkan suaminya Winda pun langsung berjalan ke kamarnya dengan diselimuti oleh kekesalan.