
Membeli aneka bunga, kertas cetophone, kertas tissue, dobel tip, dan alat dan bahan lainnya. semua bahan dan alat yang di beli Winda menghabiskan uang satu juta rupiah, masih tersisa empat juta lagi.
sisa yang Winda punya dia simpan sebagai tabungan, Winda dan sahabatnya pulang berboncengan menggunakan Sepeda motor milik sahabatnya Andini
saat telah tiba di depan rumah Winda, gegas Winda turun dari motor dan berpamitan kepada Andini.
"Dini makasih ya udah mau di repot kan, mampir dulu yuk" Ajak Winda
"iya sama sama, maaf Winda kali ini aku gx mampir dulu ya. ada janji sama Anton
Assalamualaikum" gegas keluar dari halaman rumah Winda
setelah kepergian Andini, Winda masuk dengan membawa kantung plastik berisi bahan buket dan untuk kerajinan tangan lainnya.
Tiba waktunya untuk memasak di rumah bu Mimin, untuk acara arisan yang di adakan di rumahnya. Karena Winda dapat jatah libur bekerja dia memutuskan untuk ikut membantu ibunya. Agar cepat selesai. Si kembar juga ikut untuk membantu Karena pagi ini sekolah sudah libur, mereka berempat ber iringan berjalan kaki menuju rumah bu Mimin. Saat tiba di rumah bu Mimin, semua bahan sudah siap kali ini bu mimin meminta tolong untuk memasak, opor ayam, nasi dan kerupuk udang.
Winda dengan terampil menggoreng kerupuk udang, untuk si kembar Sinta dan Santi dengan mahir memotong bawang cabai dang bahan lainnya. Untuk membuat opor bu Ningsih, mencuci beras dengan bersih lalu memasaknya dengan rice coker kapasitas besar. Setelah semua bahan yang di kupas oleh si kembar selesai gegas bu ningsih, mencuci lalu memblender semua bahan. Winda yang sudah selesai menggoreng kerupuk memasukkannya ke dalam toples, mereka bekerja bahu membahu, saling membantu. Tepat jam makan siang semua sudah selesai, winda dengan cekatan menyiapkan semuanya di wadah untuk prasmanan di bantu oleh si kembar. Semua perabot sudah di cuci bersih oleh bu ningsih.
__ADS_1
“bu mimin, semua sudah selesai” ucap bu ningsih
‘oh iya makasih bu ini untuk bayaran dan ada sedikit camilan untuk ibu dan keluarga”, meyerahkan amplop dan kantung plastik yang ber isikan opor ayam buah serta bolu., seraya tersenyum ramah.
setelah semua selesai Bu Ningsih, dan ketiga putrinya gegas pulang. keseharian Winda jika libur, sekarang focus menulis novel sebelum Winda resign, winda sudah mulai berjualan buket bahkan bapak Winda, sangat mendukung dengan apa yang Winda lakukan saat ini. Hasil menulis novel sudah mulai terlihat hasilnya, dia sudah bisa membelikan Adiknya sepeda untuk sekolah dan mengaji, uang yang dia dapat dari menulis membuatnya memiliki tabungan yang cukup banyak. Bulan depan Winda akan merenovasi rumahnya, dan akan membuat gerai buket bunga di halaman depan rumah dan akan membuat warung nasi, Winda membuka usaha warung nasi untuk ibunya, dan untuk gerai buket ia kelola Sendiri.
sore hari mereka berkumpul bercengkrama serta bercerita. Winda menceritakan niatnya untuk berhenti bekerja, dan ingin pokus menulis serta membuka usaha buket.
kedua orang tua Winda, mendukung keputusan anaknya.
"Bpk esok kita ke material, aku ada sedikit tabungan kita tabung di Material untuk renovasi rumah dan membangun gerai buket, serta membangun, usaha untuk ibu" ucap Winda seraya menyerahkan amplop berisikan uang
"selama ini bpa dan ibu sering liat Winda sibuk dengan bermain ponsel kan , semua uang yang ada di amplop itu hasil Winda menulis novel." jawab Winda
"Masya Allah tabarakllah, ternyata anak Bpk pintar mencari peluang usaha, hebat kamu Nduk," mengelus pucuk rambut Winda
"hehe Alhamdulillah Bpk, Allah kasih Winda rejeki lewat menulis"
__ADS_1
ke esok harinya
Tak ada orang yang menyuruh, orang tua Winda untuk bekerja, seusia Janji Winda semalam.
setelah melaksanakan dua rakaat subuh dan di lanjutkan mengaji, tepat pukul setengah enam Winda membersihkan rumah. di bantu si kembar.
Sedangkan Bu Ningsih, sedang memasak di belakang dengan tungku api.
semua pekerjaan sudah selesai, si kembar pergi bermain, Bu Ningsih menjaga rumah seraya membaca Alqur'an.
Sedangkan Winda dan pak Ahmad, sedang pergi menggunakan motor butut milik pak, Ahmad mereka berdua pergi ke toko material ko Aang.
Ko Aang keturunan Thionghoa, yang sudah mualaf, tak segan so Aang akan memberikan harga diskon bahan, memberi hutang jika para Warga di kampung tempat iya berjualan kekurangan uang untuk membangun rumah.
"assalamualaikum, ko kedatang saya dengan putri saya bermaksud, untuk menabung Uang, putri, saya memiliki cita cita ingin membangun rumah" jelas Pak Ahmad
"waalaikumsalam, oh iya, iya bisa, nanti saya ambilkan buku dulu untuk di catatan mau nabung atau taruh uang berapa dulu, untuk di tukang dengan bahan bangunan" jelas ko Aang seraya pergi ke lemari kecil yang ada di ruangannya.
__ADS_1
"hmm ini ko uangnya saya transfer" ya jawab Winda,
"oke bisa, nanti kedepannya jika ingin menabung cukup mengkonfirmasi lewat wa saja ya, seraya menyebutkan deretan ni rekening"