
Setelah tragedi Maya, yang berani sembarang masuk ke rumah Winda maupun ke rumah Lastri, sekarang pintu rumah selalu di kunci bahkan jendela pun di pasang teralis. karena Wanita satu ini punya seribu satu cara untuk masuk ke dalam rumah orang lain.
💙💙💙💙
Beberapa hari yang lalu Andini pergi berlibur bersama suaminya menikmati waktu berdua mereka.
"Eh, Dini... Sudah lama nggak kelihatan. Dari mana aja Dini?" tanya Melly, salah satu tetangga Andini.
Andini yang saat itu baru saja pulang dari liburan bersama suaminya, terpaksa harus berhenti karena salah satu tetangganya memanggil.
"Biasa Mell, baru pulang dari liburan," jawab Dini, dengan bicara yang dibuat seangkuh mungkin.
Mendengar jawaban Andini, melly langsung berlalu, tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Suami Andini bernama Anto menarik tangan Dini pelan. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang terbilang cukup besar.
"Sayang, kenapa kamu harus meladeni Melly sih? biarkan saja dia, toh tidak mengganggu kita juga," ucap Anto, sembari menghempaskan pelan tubuhnya di atas sofa.
Dini tersenyum tipis mendengar ucapan sang suami. Lalu kemudian, ikut duduk di samping Anto.
"Bukannya aku mau meladeni mereka Mas. Hanya saja, aku merasa risih dengan pertanyaan Melly tadi," jawab Dimi, ekspresi wajahnya berubah sedikit kesal.
Anto berpaling menatap Anggun dengan kening yang mengerut. "Risih kenapa? Bukannya wajar, Melly tanya begitu? Kan memang benar, kita beberapa hari ini tidak kelihatan? Wajar saja dia bertanya," ucap Anto, merasa bingung dengan kata-kata Andini.
Andini menghela nafas berat. "Wajar sih wajar Mas. Tapi, apa Mas tadi tidak lihat ekspresi Melly ? Dari ekspresi dan tatapannya saja, aku sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraannya. Dia bukan hanya sekedar bertanya, tapi ada tujuan khusus," jelas Andini.
Bukannya menanggapi penjelasan Andini. Anto kini justru terkekeh. "Sudah lah Sayang! Itu hanya perasaan kamu saja. Jangan terlalu sensitif!"
Setelah mengucapkan itu, Anto beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar. Tubuhnya terasa sangat lelah, setelah seharian penuh menempuh perjalanan pulang dari luar kota.
__ADS_1
Mendapat respon seperti itu dari suaminya. Sontak saja membuat Dini merasa kesal. Pasalnya, tidak kali ini saja Dini mendapatkan pertanyaan itu. Disaat suaminya kerja, Dini sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu dari para tetangga. Terutama dari Melly, selaku kepala persatuan ghibah di kampung mereka.
Hari sudah semakin sore, Andini yang merasa sudah cukup istirahat, memutuskan pergi ke dapur menyiapkan bahan makan malam. Namun, baru saja ia membuka pintu kulkas. Matanya melebar sempurna, melihat isi dalam lemari es itu semuanya membusuk. Terlebih lampu kecil berwarna jingga yang terdapat di dalam lemari pendingin mati.
Merasa ada yang tidak beres, Andini langsung berlari kecil menuju kamarnya.
"Mas bangun sebentar!" Panggil Andini, membangunkan Anto.
"Hem, ada apa?" Suara serak khas bangun tidur terdengar, kala Anto membuka perlahan kedua matanya.
"Itu Mas, kulkas rusak. Semua bahan makanan busuk," ujar Andini panik.
Mendengar salah satu benda elektronik yang begitu penting di rumahnya rusak, Anto langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.
Matanya begitu jeli memindai keseluruh bagian kulkas.
"Kayaknya rusak beneran ini Yank. Maklumlah, ini kan kulkas lama. Itu juga pemberian mama. Kalau memperbaiki, juga percuma. Ibarat usia, kulkas ini sudah sangat sepuh," ujar Anto, menatap nanar kulkas masa kecilnya.
Anto menghela nafas berat. "Ya, mau tidak mau, kita harus beli. Mau gimana lagi? Kamu siap-siap gih! Kita beli sekarang, sekalian beli makanan di luar saja. Besok baru kamu belanja ke pasar," ucap Anto.
Tak mau membuang waktu lama, Andini gegas kembali ke kamar mengganti pakaiannya. Padahal badannya terasa lelah, kalau harus melakukan perjalanan ke luar rumah lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau tidak beli sekarang, juga tidak mungkin. Sebab besok, Anto sudah kembali masuk kerja.
💙💙💙💙
Sesampainya Anto dan Andini di toko elektronik terbesar di kotanya. Keduanya langsung masuk dan berbincang sedikit dengan pegawai toko. Pilihan Anto jatuh pada kulkas dua pintu yang sekarang sedang trend.
"Kamu yakin mau beli ini Mas?" tanya Andini, merasa ragu.
"Memangnya kenapa Yank? Kamu tidak suka yang ini?" Bukannya menjawab, Anto justru balik bertanya.
__ADS_1
"Eh, bukannya tidak suka. Siapa sih yang tidak suka punya kulkas dua pintu begini? Hanya saja, ini pasti harganya mahal. Apa tidak berlebihan? kita beli yang kita perlukan saja Mas, jangan mengikuti trend!" usul Andini.
Anto terkekeh mendengar kata-kata Anggun. Tangannya mengusap pelan, pucuk kepala sang istri.
"Kita kan memang beli untuk keperluan kita? Kulkas yang di rumah itu kan kecil, kalau menyimpan bahan makanan juga sering tidak muat. Jadi aku rasa, kulkas ini cocok untuk kita. Masalah trend, aku mana tau trend kulkas jaman sekarang seperti apa. Urusan dapur, aku tidak terlalu paham Yank,"
Andini mengangguk-angguk mendengar penjelasan Anto. Semua yang ia katakan memang ada benarnya.
"Tapi, aku takut Mas. Para tetangga pasti menggunjing kita. Kemarin, ibu Salamah beli kipas angin kecil aja, digunjingnya hampir setiap hari. Apalagi kita yang beli kulkas dua pintu seperti ini. Bisa satu tahun tidak habis-habis gunjingan mereka," keluh Andini
Kepala Andin menggeleng pelan. "Jangan dengarkan omongan mereka! Mulut tetangga memang begitu. Kalau kita mau beli, ya tinggal beli saja. Toh kita beli juga karena kebutuhan, bukan kemauan. Dan yang lebih penting, kita beli ini pakai uang kita sendiri. Bukan minta uang ke mereka. Kenapa harus takut?"
Mendengar kata-kata Anto, Andini sontak saja mengangguk. "Kamu benar. Kita beli pakai uang sendiri, bukan uang mereka. Baiklah, kalau kamu mau yang itu, kita beli itu saja!" ujar Andini setuju.
Anto menyelesaikan pembayaran mereka. Sesuai aturan dan rute pengantaran. Kulkas dua pintu yang Anto beli bisa langsung diantarkan hari ini juga.
Keduanya bergegas mengambil motor mereka dan mulai memimpin jalan. Motor melaju dengan kecepatan sedang, dan kini mulai berbelok memasuki tugu kampung tempat mereka tinggal .
"Eh, lihat-lihat! Itu bukannya Andini dan suaminya? terus, yang di belakang mereka apa? Sepertinya kulkas baru," ujar bu Mayang, salah satu anggota tukang gibah.
Beberapa ibu-ibu yang saat itu sedang duduk menikmati waktu santai, langsung melesatkan pandangan ke arah jalan masuk kampung.
"Eh, mbak Andini, dari mana Mbak?" tanya bu Didah, menghadang motor Andini.
Bukannya berhenti, Anto justru mengambil jalan lain untuk menghindari bu Didah yang berdiri di tepi jalan.
"Eh, udah lah! Ditanya seperti itu bukannya berhenti, ini malah jalan terus. Sombong sekali," umpat bu Didah tidak terima diabaikan.
"Eh, lihat Bu! Kulkas dua pintu Bu! Kulkas trend sekarang," ucap bu Mayang, menunjuk ke arah mobil pick up yang melintas di depan mereka.
__ADS_1
"Cih, paling juga punya bu Rosimah yang di belakang sana. Pamer sekali. Sengaja atau apa? Beli kok hari masih terang. Kenapa tidak malam saja. Pasti sengaja mau memperlihatkan ke kita-kita," ucap bu Didah, wajahnya berubah masam.
bersambung