Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Draft


__ADS_3

Cukup lama juga wanita indo tersebut berada di ruangan Pak Damar, tak lama kemudian ia keluar.


“Heh Mbak, lain kali jangan larang-larang saya untuk ketemu Pak Damar lagi, saya ini calon istrinya Pak Damar Hardana Wijaya, calon istri CEO.” Wanita berparas Indo tersebut menjelaskan kepada ku.


Sejenak aku terpaku mendengar ucapannya.


“Baik Bu” Ucapku singkat.


Aduh aduh belum juga jadi istri udah begitu, bagaimana kalau sudah jadi istrinya nanti.


Aku masuk ke ruangan Pak Damar setelah ia menghubungiku melalui sambungan telepon, seperti biasa ia langsung ke inti tugasnya tanpa basa basi.


“Laporan berkala mingguan proyek yang sedang dikerjakan kemarin sudah kamu selesaikan?”


“Sudah Pak, masih di laptop, belum saya keluarkan.”


“Kamu kerjakan laporan bulanan juga”


“Sekarang Pak?” waduh alamat pulang malam ini pikirku.


Ia melirik jam Rolex mahalnya.


“Tidak, besok saja.” Alhamdulillah ucapku dalam hati.


“Baik Pak, saya permisi.”


Pak Damar segera keluar dari ruangannya tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Ya namanya juga Bos terserah dia mau bagaimana.


Aku segera merapikan meja dan tasku, Alhamdulillah hari ini bisa pulang agak cepat pikirku.


Ketika melewati meja resepsionis.


“Mbak OB sini deh,” Lisa sekretaris cantik memanggilku, aku ingat bahwa dia selalu mengatakan cocoknya aku menjadi karyawan OB saja.


Aku segera menoleh, dan benar dia memanggilku. Aku mendekatinya.


“Ada apa Mbak?”


“Bener Mbak sekretarisnya Pak Damar?” tanyanya memastikan.


“Iya”


“Mbak punya hubungan apa sama Pak Damar, saudaranya ya? Kok model kayak Mbak bisa jadi sekretaris sih?”


Apaan sih Lisa, saudara apanya? kenal juga baru sekarang sama Pak Damar.


Oh mungkin maksudnya kenapa dengan penampilan yang sederhana seperti ini aku bisa menjadi sekretaris apa karena rekomendasi dari keluarga Pak Damar.


“Mbak Lisa yang cantik, saya bekerja disini tidak dengan rekomendasi siapa-siapa, saya pure melamar sendiri, dipanggil interview dan saya diterima disini sebagai jabatan sekretaris, dan sekretaris CEO kita di perusahaan besar ini adalah saya.”


“Oke Mbak Lisa, saya rasa cukup jelas bukan, Saya permisi.”


Aku langsung berlalu dari hadapan Lisa yang setiap hari bertanya tentang jabatanku.


Ia langsung terdiam ketika ku jelaskan seperti itu.


Bukan maksudku menyombongkan diri, ia terlalu meremehkan penampilanku yang seperti ini, Aku hanya mencoba menjelaskan padanya jangan menilai orang hanya dari luarnya saja, sebagai seorang muslimah yang baik sudah seharusnya aku berpakaian tidak mencolok dan sederhana, walaupun jabatanku seorang sekretaris.


Aku segera pulang mengendarai motor matic kesayanganku, Emm sepertinya aku harus mengisi bensin dulu.


Kebetulan di depan ada pom bensin, aku segera menghidupkan lampu sign kiri untuk mengisi bensin terlebih dahulu, dan ikut mengantri bersama para pemotor yang lain.

__ADS_1


Sebelum ikut mengantri, tiba-tiba ada seorang cewek cantik berpakaian casual menjatuhkan dompetnya sebelum naik ke mobil mewahnya.


Gegas aku turun dari motor dan menstandarkan motorku agak ke tepi.


Setengah berlari aku segera mengambil dompetnya yang terjatuh.


“Mbak, Mbak, dompet Mbak jatuh ni.” Ucapku sambil mengetuk kaca mobil sembari menunjukkan dompetnya.


Ia segera menurunkan kaca jendela mobilnya, “Dompet Mbak jatuh.” Ulangku.


Ia segera turun dari mobil dan menghampiriku.


“Ya ampun Mbak, makasih ya, kalau tidak ada Mbak pasti papa saya memarahi saya lagi, soalnya banyak kartu-kartu penting disitu.” Ucapnya.


Wajah ayu nan lembut itu tersenyum manis kepadaku.


“Iya sama-sama Mbak, lain kali hati-hati ya.”


“Makasih lo sekali lagi Mbak, saya memang agak ceroboh orangnya, Oh ya Mbak kenalin nama saya Aprilia,” Ia mengulurkan tangannya dengan ramah.


Aku membalas menjabat tangan nya,”nama saya Sinta.”


“Oh ya Mbak bisa minta nomor handphone Mbak gak, nanti kapan-kapan kita makan bareng ya, apalagi saya kagum banget liat cewek masih muda berjilbab syar’i kayak Mbak.” Ucapanya panjang lebar.


“Boleh, Boleh kok,” akhirnya kami bertukar nomor handphone. Kemudian Aprilia berpamitan kepadaku setelah berkali-kali mengucapkan terimakasih, benar-benar anak yang ramah padahal sepertinya anak orang berada.


Aku segera mengantri kembali untuk mengisi bensinku yang tertunda, kemudian pulang kerumah.


💙💙💙


Hari ini aku segera mengerjakan laporan berkala proyek yang sedang dikerjakan oleh perusahaan.


Tiba-tiba Pak Lukman datang menghampiriku, “Sinta CEO yang dulu dari perusahaan ini datang, segera sambut kedatangan beliau.”


Tak lama kemudian nampak rombongan mereka, ada General manager (manager umum) Pak Heri yang sudah cukup berpengalaman, Manager fungsional Bu Indah dan manager HRD Pak Lukman, mereka dulu yang mengintervieuw aku waktu itu, sepertinya mereka akan bertemu Pak Damar.


Aku segera berdiri, menyambut kedatangan mereka.


Tampak seorang pria berkacamata yang sudah cukup berumur tapi masih terlihat kharismatik dan berwibawa mengenakan jas dan sepatu pantofel.


Di sampingnya berjalan seorang ibu-ibu paruh baya tapi masih terlihat anggun dan cantik.


Beliau memakai kebaya dan sanggul serta bawahan dari batik mewah, terlihat seperti ibu-ibu keraton.


Tak lupa selendang senada dengan bawahan batik yang iya kenakan di bahu, tas mewah menjadi pelengkap.


Sepertinya mereka orang tua Pak Damar, aku segera menyapa mereka dengan ramah.


“Selamat siang Bapak dan Ibu.” Aduuuh kok kok kedengarannya aneh ya, salahku tadi tak menanyakan pada Pak Lukman nama orang tua Pak Damar, Beliau melihat ke arahku dan tersenyum.


Mereka berlalu masuk ke ruangan CEO, diikuti oleh Pak Lukman dan huufff ... ku hembuskan nafasku lega, Alhamdulillah mereka tak berkomentar apa pun.


Setelah beberapa saat Pak Lukman keluar dan memanggilku.


“Sin ... dipanggil Pak Danu ke dalam”


“Pak Lukman sebentar, aku lupa bertanya nama CEO kita dulu dan Ibu, masak karyawan perusahaannya tidak tau nama beliau, aneh banget.”


Pak Lukman lngsung menjawab.


“Bapak Danuarta Wijaya dan Ibu Widya Kusuma.”

__ADS_1


Aku segera masuk ke ruangan Pak Damar dengan perasaan campur aduk. Takut mereka berkomentar tentang penampilanku ini. Bismillah aja deh.


Sayup-sayup terdengar Pak Danu memuji kemajuan perusahaannya selama dipimpin oleh Pak Damar. Ia terlihat bangga.


“Oh ini Mar sekretaris baru kamu, kok gak pernah cerita sama Papa,” Ucap Pak Danuarta berkomentar.


Pak Damar menjawab dengan tersenyum seperti dipaksakan.


“Boleh Bapak tau nama Kamu siapa,?”


“Nama saya Sinta Pak.”


“Bagaimana rasanya menghadapi Pak Damar?” Tanyanya terkekeh sembari melihat ke arah Pak Damar.


“Apakah kamu sanggup?”


“InsyaAllah Pak, Saya sanggup.”


“Bagus, nanti Bapak bilang supaya Damar memperlakukanmu dengan baik.” Ia tersenyum.


Wah di luar ekspektasi ku ternyata Pak Danu berbanding terbalik 360 derajat daripada anaknya yang super dingin dan tidak ramah.


“Baik Pak, Terima kasih.”


“Damar, Kemarin Adelia kemari gak? Kamu memperlakannya dengan baik bukan?” Tanya Bu Widya.


Pak Damar hanya diam saja.


“Mbok yo jangan bersikap dingin begitu sama semua cewek, Adelia anak yang baik lo Mar, pendidikannya juga tinggi cocok dengan kamu, lagian Mama juga kenal banget sama ibunya, keturunan darah biru juga.”


Pak Damar tetap tak menanggapi.


“Kalau anaknya gak mau jangan dipaksa lo Ma.” Pak Danu menimpali.


“Mau sampai kapan kamu terus begini, mau menunggu si Clarissa itu jadi janda, gitu?” Ucap Bu Widya meninggi.


“Udah, udah, Ma ah ... jangan ribut disini.” Pak Danu menengahi.


“Oh iya Man, kamu juga jangan ikuti jejak Damar, mentang-mentang kalian berteman, kok Nasibnya hampir sama, pikirkan masa depan kalian sudah saatnya kalian berumah tangga.” Nasehat Pak Danu panjang lebar. Aku tertawa dalam hati.


“Iya Om, ini Lukman lagi usaha Om.”


“Nah gitu dong.”


“Ya sudah Papa sama Mama mau berangkat dulu, mau ke rumah Pak Tomy, kamu baik-baik ya Mar.”


“Iya Pa.” sahut Pak Damar singkat.


Orang tua Pak Damar segera ke luar ruangan aku dan Pak Lukman mengikuti mereka dan mengantarkan mereka sampai di depan kantor.


Sekarang aku paham Adelia yang berwajah indo itu, dijodohkan oleh Bu Widya dengan Pak Damar, kisah cintanya rumit juga belum bisa move on dari mantannya yang sudah menikah.


Makanya gak usah pacaran, cuman jagain jodoh orang lain ujung-ujungnya ditinggal nikah.


Capek-capek pacaran sampai bertahun-tahun, mengikat janji sehidup semati, sudahlah nambah dosa eh nikahnya sama orang lain. Semoga aku tetap istiqamah menjaganya sampai nanti bertemu kekasih halalku. lagi pula aku masih punya kakak perempuan yang Belum menikah, Rasanya tidak pantas jika adik bungsu melangkahinya.


💙💙💙


Semakin hari aku perhatikan kak Winda, senang sekali mengantar jemput ku ke kantor tempat aku bekerja. Biasanya dia hanya sesekali mengantar jemput namun sudah satu Minggu dia menjemput dan mengantar ku bekerja.


Nah..

__ADS_1


Ada apakah gerangan


__ADS_2