Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Aku tak peduli


__ADS_3

Sudah terhidang menu kesukaan di meja makan, Ikan Mas goreng, lalapan serta sayur asam. Makanan kampung seperti inilah yang selalu suami ku rindukan.


Selesai menikmati makan siang, Winda dan Farel keluar rumah untuk sekedar duduk di teras.


Maya, yang melihat Farel berada di Rumah Bu Ningsih, datang mengunjungi mereka berpura pura meminta sesuatu.


"Winda, aku minta gula dong" Ucapnya


"oh, Mbak Maya, minta gula? Silangkan ambil sendiri ke dapur" balas Winda, sambil memijat tangan suaminya.


"Bisa tolong ambilkan" Ucapnya lagi dengan suara yang di buat manja.


"Hmm yasudah dek,! Kamu ambilkan saja Mas harus kembali ke kantor" Ucap Farel dengan lembut.


Gegas, Farel masuk ke dalam rumah Masuk ke dalam Kamar Winda, kamar masa Gadisnya dulu. Baru saja Winda melangkahkan kaki satu langkah ke dalam rumah. Dengan Semangat Maya, masuk ke dalam rumah.


Beruntungnya Farel sudah berada di dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.


Winda, yang melihat kelakuan tetangga menjengkelkan. Hanya mampu mengelus dada dan menggelengkan kepala.


Maya seperti orang linglung mencari Farel, namun orang di cari sudah bersembunyi di kamar.


Winda yang semakin geram dengan kelakuan tetangga yang tak pernah berubah gegas menghampirinya.


"Hmm Mbak, udah dapet gulanya? Ucap ku sengaja mengangetkan Mbak Maya.


"Eh iya.. Anu.. Udah!" balas Mbak Maya, seraya tergagap. Sepertinya dia tak menyadari jika aku sudah berdiri di sampingnya sejak tadi.


"Maaf Mbak, kali ini aku tidak akan tinggal diam," Batin Winda


Maya, yang tertangkap basah hanya ingin melihat Farel, gegas berpamitan ke luar rumah. Namun di luar rumah, ia tak sengaja menginjak kulit pisang. Maya terjatuh terduduk di teras.


Bu Romlah, yang melihat Maya, terjatuh tertawa terbahak - bahak. Begitu pula dengan Winda.


Maya, yang di tertawakan oleh tetangganya itu tak terima, ia marah - marah tak jelas. Berusaha bangun sendiri namun naas yang ada malah kembali terjatuh.


Bu Ningsih, yang mendengarkan ada keributan di depan rumahnya, gegas ke luar dari warung melihat Maya, yang kesusahan terbangun. Bukannya membantu yang Ada Bu Ningsih, ikut menertawakan kelakuan Tetangga julit nya itu.

__ADS_1


Maya, yang merasa malu akhirnya bangun dan pergi begitu saja dari halaman rumah Bu Ningsih.


💙💙💙💙


Sinta bekerja seperti biasa, Santi mengurus semua usaha Kakaknya. Sesekali dua lembar itu keluar jalan bersama. Seperti akhir pekan Minggu ini.


Mereka berdua akan berjalan jalan ke kota kecamatan, di sana sebuah mall yang baru saja selesai, proyek yang di kerjakan oleh Sinta dulu. Sekarang sudah jadi bahkan menjadi mall terfavorit di kota kecil itu.


Dua wanita yang parasnya begitu mirip, sedang menikmati makan di restoran Jepang.


Sinta, yang awalnya tak terbiasa dengan makanan dari negeri sakura itu, akhirnya sekarang malah jadi makanan favoritnya.


Santi, duduk sendiri di meja, karena Sinta sedang pergi ke toilet.


"Hay.... Sin sendiri aja?" Ucap pak Pria itu.


Ya, dia adalah Lukman, setelah di tolak Oleh Sinta dulu, sekarang Lukman, jauh lebih baik lagi dama memperbaiki dirinya.


"pasti temen kerja Sinta" Batin Santi.


Tak Lama, Santi datang menghampiri meja Sinta.


"Eh ada pak, Lukman" Ucap Sinta


Lukman, yang melihat dua wanita yang begitu mirip membuatnya diam seribu bahasa.


"pak .. Pak Lukman" tegur Sinta


"eh iya Sinta" Lukman ter lonjak kaget, ketika Sinta menegurnya.


"kenalin pak, ini kakak saya?" ucap Sinta.


Pantas saja Lukman, terlonjak kaget Rupanya Santi, yang di depannya tidak mengenakkan hijab. Ia pikir itu Sinta Sudah melepas hijabnya dan membiarkan mahkota tergerai indah.


"Hay saya Lukman" ucap pak Lukman memperkenalkan dirinya.


Lukman, yang datang bersama Damar, pun melupakan atasannya itu yang masih sibuk di meja ujung sedang bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


Dari jauh, Damar memperhatikan intraksi antara ketiganya. Merasa ada kesempatan untuk menggagalkan perjodohannya.


Damar, gegas mengirim pesan kepada Sinta.


{Sinta, tolong sayang. Tolong kamu pura pura jadi pacar saya, sekarang saya berada di meja nomor empat di Belakang kamu}


Sinta, yang mendapatkan perintah seperti itu, hanya bisa menurut saja, Karena ia takut di pecat dari perusahaan yang sudah lama ia impikan.


(Baik saya kesana sekarang)


"kak di sini dulu ya, sama pak Lukman sebentar aku ada urusan" ucap ku kepada kak Santi.


"its oke gapapa" Ucap kak Santi.


Lukman, yang melihat Sinta, menghampiri Damar, melihatnya dengan tatapan Iba.


beruntungnya Santi, mampu mencairkan suasana.


Mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu sudah akrab.


Rupanya, Santi Sudah mendapatkan pesan dari Sinta.


(kak, tolong buat pak Lukman nyaman ngobrol sama Kaka, aku dapat perintah dari bos)


. pesan masuk dari Sinta.


💙💙💙💙


Di meja nomor empat, Santi menghampiri Damar,


"Mas aku tunggu kamu di meja nomor 6 Rupanya kamu masih di sini" ucapku dengan merajuk, sungguh pekerjaan yang menyebalkan. Karena pasti akan ada drama Queen. Esok hari ketika bekerja.


"ah iya sayang, maaf aku harus menemui orang lain dulu, dari pada kamu merajuk kaya gitu nanti Cantiknya hilang mending sini duduk Deket aku," ucap Damar.


Bluuss pipi Sinta, merah merona bak kepiting rebus. Bagaimana tidak, Damar yang di kenal dingin kepada perempuan. Namun kali ini Damar, mampir membuat hati Sinta. Merona bahagia. Walau sebuah sandiwara


Bersambung

__ADS_1


Lanjut nanti ya kakak jangan lupa like komen vote. Mohon maaf. Kalau masih banyak typo


__ADS_2