
Di saat Andini sedang menyapu terdengar seperti keributan di depan rumahnya, rupanya asal Suara itu dari rumah Intan. Tetangga baru Andini.
“Ternyata benar apa yang Ibu katakan. Akhir-akhir ini kamu sering keluyuran saat aku kerja!” Aku menatap tajam pada istriku. Intan yang baru saja pulang, seketika wajahnya pias, tapi dengan cepat dia menata hati.
“Enggak begitu, Mas! Aku dari rumah Reni doang!” kilahnya.
“Main boleh, tapi jangan tiap hari dong! Jam sepuluh sudah berangkat sampai sore begini baru pulang. Kasihan yang punya rumah, nanti malah keganggu!” timpal Ibu yang berdiri di sebelahku.
Beberapa hari ini Ibu cerita kelakuan istriku yang tiap hari pergi dan baru pulang sore hari. Semula aku tak percaya karena setiap pulang kerja pasti Intan selalu di rumah, tapi sekarang aku tahu yang sebenarnya.
“Enggak kok, Bu. Reni selalu wellcome kalau aku datang,” sahut istriku.
“Iya, tapi kasihan Ibu kan kalau ditinggal sendiri. Dia kesini pengin bareng cucunya,” ujarku berusaha sabar.
“Iya, Mas. Aku ngaku salah. Maaf,” sahutnya lalu segera masuk ke rumah.
Aku menarik nafas berat melihat tingkah Intan. Memang sih semua pekerjaan rumah beres, tapi tetap saja kurang suka jika dia terlalu sering nongkrong di rumah orang. Kasihan bayi kami jika tidur siangnya jadi tak nyaman.
“Kamu harus awasi istrimu, Don! Beberapa hari ini gelagatnya mencurigakan,” ucap Ibu beberapa saat kemudian.
“Iya, Bu!” jawabku lirih.
Memang terlihat aneh jika Intan akhir-akhir ini sering keluar rumah, padahal biasanya enggak seperti itu. Aku jadi penasaran apa yang dia kerjakan di rumah sahabatnya.
💙💙💙
Saat Andini keluar berpura pura menyapu halaman Rumah, Rupanya banyak para tetangga yang sudah berkumpul di depan rumah mereka, keributan Intan dengan suaminya. mengundang para tetangga untuk keluar melihat apa yang sedang terjadi.
Perihal soal aku yang membeli kulkas saja sampai sekarang masih suka di digunjingkan apa lagi hal seperti ini bertengkar hingga para Tetangga tau.
jiwa kepo ku sudah selesai gegas, aku kembali masuk ke dalam rumah melihat isi kulkas rupanya, semua stok sudah berkurang, sebaiknya aku masak seadanya saja hari ini.
__ADS_1
💙💙💙
sedangkan di rumah Intan, terus terjadi percekcokan dan permintaan Intan
“Mas, minta uang lagi dong! Uang belanja habis,” ucap Intan saat kami sedang duduk di tepian ranjang.
Aku yang sedang sibuk menatap layar ponsel seketika terkejut kemudian beralih memandang wajahnya.
“Habis bagaimana?”
“Ya habis, Mas. Sekarang apa-apa mahal, belum lagi Ibu di sini, jadi otomatis belanja kita bertambah,” jelasnya.
Astaga! Uang tujuh juta yang aku kasih bisa habis dalam tiga minggu, padahal biasanya empat juta saja cukup buat sebulan, bahkan seringnya ada sisa. Aku sengaja menambah uang belanja karena Ibu tinggal di sini, tapi kok tetap masih kurang?
Sejenak aku mencoba menerka ke mana larinya uang itu. Apa jangan-jangan diminta sama Ibu seperti di novel? Tapi jelas enggak mungkin. Sejak dulu Ibu tak pernah urusan dengan uangku karena dia sendiri sudah punya pemasukan. Selain itu, Intan juga sering cerita kalau dulu sebelum Ibu tinggal di sini dia sering dikasih uang sama Ibu. Ah ..., mending aku tanya langsung saja.
“Apa uang belanja kamu diminta sama Ibu?” pancingku.
Aku semakin menaruh curiga pada Intan. Pasalnya, menu makan kami terbilang sederhana. Jadi enggak mungkin kalau uang sebanyak itu habis cuma buat belanja. Ini pasti ada yang enggak beres.
“Minta lagi ya, Mas. Sejuta doang. Nanti aku irit-irit biar sampai akhir bulan,” bujuknya kemudian.
Aku menghela nafas berat. Dari sembilan juta gajiku sebagian besar sudah aku berikan padanya. Aku hanya sisakan dua juta buat bensin dan pegangan. Tapi, kalau aku enggak kasih takutnya nanti tak ada yang dimasak. Kan enggak enak sama Ibu kalau ujung-ujungnya dia yang belanja.
“Iya deh, nanti aku kasih,” jawabku lesu.
“Makasih ya, Mas!” Intan beringsut mendekat kemudian bergelayut manja.
Inilah yang sering membuatku luluh. Intan yang dinikahi dua tahun lalu selalu bersikap manja, membuatku merasa menjadi lelaki sebenarnya.
Semula Ibu tak merestui hubungan kami karena status Intan yang janda tanpa anak, tapi kegigihan kami dalam merayu Ibu berhasil meluluhkan hatinya. Bahkan, setelah Dea lahir Ibu semakin sayang sama Intan.
__ADS_1
“Oh iya, Mas! Aku mau kerja ya. Lumayan buat tambahan uang belanja,” pamitnya beberapa saat kemudian.
Sontak aku terkejut dengan permintaannya. Ku Tetap lekat sepasang mata beningnya berusaha mencari tahu penyebab keinginannya.
“Enggak!” tolak ku, “kalau kamu kerja siapa yang jaga Dea? Apa masih kurang uang yang kuberi?”
“Bukan begitu, Mas! Aku cuma pengin bantu saja. Biar enggak jadi istri yang selalu merepotkan. Lagian, kerjanya seminggu sekali kok. Cuma tiap hari minggu. Boleh ya,” jelasnya setengah merengek.
Diam, aku mencoba memahami kalimatnya. Terasa aneh jika dia mau bekerja khusus hari minggu. Memangnya ada pekerjaan yang seperti itu?
Aku kembali menatap dalam-dalam pada wajah Istriku. Kecurigaan semakin menjadi tatkala dia terlihat salah tingkah. Sepertinya sedang ada yang disembunyikan dariku. Tapi apa?
“Kerja apaan sih? Kok hari minggu doang? Terus Dea bagaimana?” protes ku.
“Bantu-bantu di rumah temannya Reni. Bayarannya lumayan loh, sehari 300 ribu. Soal Dea, nanti kamu sama Ibu yang jagain. Kan tiap minggu doang,” jawab istriku.
Aku semakin tak paham dengan jalan pikiran Intan. Dia ingin bekerja di saat usia anak kami belum genap satu tahun. Apa ini enggak berlebihan.
“Boleh ya, Mas! Plis!” ucap Intan terlihat memelas.
Aku memejam sejenak berusaha berpikir tenang. Jika tak ada alasan yang memaksa, tak mungkin seorang Ibu rela meninggalkan bayinya hanya untuk bekerja, padahal semua kebutuhannya sudah aku cukupi. Ada apa sebenarnya dengan istriku?
Kutarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Sebenarnya aku keberatan dengan permintaannya, tapi demi mengungkap rahasia yang tengah Intan sembunyikan, terpaksa ku turuti keinginannya.
“Baiklah! Tapi pulangnya sebelum magrib kan?”
“Terima kasih, Mas! Kalau sudah beres cepat pasti langsung pulang.” Intan berujar girang dengan binar di kedua matanya.
Sebahagia itukah istriku? Hanya karena diizinkan bekerja, dia seperti mendapat sesuatu yang istimewa.
Ini sudah sangat mencurigakan! Akhir-akhir ini dia sering keluyuran, uang belanja yang cepat habis meski sudah ditambahi, dan sekarang dia terlihat gembira saat ku izinkan bekerja. Pasti ada sesuatu yang sedang dirahasiakan.
__ADS_1
Baik! Aku akan menyelidiki semuanya. Jika sampai dia ketahuan main hati, tak segan-segan aku bertindak tegas.