
Alhamdulillah, akhirnya ada salah satu perusahaan yang memanggil Sinta untuk kembali bekerja, semoga ini perusahaan yang ia idamkan.
hari Senin tiba, saatnya interview, di perusahaan yang pernah menghubunginya. dengan pakaian layaknya orang orang yang akan melamar pekerjaan, Sinta memakai kemeja putih dan celana hitam serta flatshoes berwarna senada dengan celana, rambut sudah ia gerai. sedikit memakai pelembab bibir dan bedak, agar tak terlalu mencolok. sengaja Sinta tak menggunakan make up lainnya. karena ingin terlihat natural
ππππ
Hatiku patah, hancur berkeping-keping, hingga mengantarkan ku pada takdir yang kukira tidak indah sama sekali.
Mantan Winda terlihat bahagia dengan istrinya, dikaruniai anak. Istrinya hidup nyaman dengan nafkah lahir batin terpenuhi, bahkan suaminya, mantan Winda itu sudah bisa membeli beberapa petak sawah.
Iri? Tentu. Aku yang menemaninya dari nol tapi dia yang kau pilih. Dia yang hidup enak Winda yang menderita.
__ADS_1
Tahun demi tahun berganti, sekira beberapa tahun kemudian, Winda dengar istrinya yang cantik sakit, mantanku itu menempatkan istrinya di ruang vvip. Lihatlah, betapa dia memuliakan istrinya, sementara aku, harus rela bekerja demi papan, pangan dan sandangku sendiri.
Setelah itu, lama sekali Winda tak mendengar kabarnya. Sampai saat kemarin, ku dengar kabar mengejutkan : istri dari mantanku meninggal, meninggal anak berusia tiga tahun.
Hatiku sakit, pedih, membayangkan betapa beratnya beban mental yang harus di emban mantan Winda itu. Aku sedih, sampai berhari-hari, namun ia tak sanggup untuk bertakziah ke rumah duka. Aku tak mau menjadi fitnah dalam suasana dukanya, bagaimanapun aku adalah mantan kekasihnya yang banyak orang mengetahuinya.
Dari sinilah aku mendapatkan jawabannya, kenapa harus dia yang menjadi istri mantanku, dan kenapa mantanku sudah punya beberapa petak sawah. Aku ikhlas, inilah jawabnya, ternyata ia harus menitipkan buah hatinya pada suaminya dengan jaminan hidup yang layak.
memang Takdir tak ada yang pernah tau, Andini, Sahabat berbagi suka dan duka, selalu semangat menasehati Winda. hingga sekarang Ia berada di titik sekarang sukses sebagai pengusaha.
kecintaan Winda, terhadap kerajinan tangan membuat kembali membangun usaha, selainnya hanya buket dan mahar, yang ia kerjakan. beberapa anak muda di kampung ia rangkul. untuk bekerja, kali ini mereka membuat tas dari manik manik, bahkan Winda, mencoba peruntungan baru dari kerajinan tangan Bambu. semua tak luput dari doa kedua orang tua dan kerja kerasnya. Santi, semasa kuliah ia tak henti hentinya mempromosikan jualan sang kakak. usaha trifshop yang Winda, kelola sudah menjadi butik trifshop ternama. dia hanya perlu datang sesekali. dah usaha wedding organizer, ia gagal, mengalami kebangkrutan. ada oknum yang tidak bertanggung jawab. menghancurkan usahanya. namun bukan Winda jika akan larut dalam kesedihan.
__ADS_1
Winda, kembali bangkit di dunia kerajinan Tangan usaha Tumbler dari bambu ini sekarang meroket drastis, ada beberapa hasil karyanya yang di jual di luar negri.
πππ
kehidupannya sudah berubah, yang dulu jika kemana mana menggunakan motor bututnya, kali Ini Winda sudah memiliki kendaraan roda dua yang lebih bagus dan layak di gunakan. namun bukan hidup di Kampung namanya jika sang tetangga tak mengusik kehidupan Β tetangganya.
senja di shore hari menemani Winda, duduk di sebuah kedai mini dengan nuansa alam yang menyejukkan hamparan perkebunan teh memanjakan mata.dari kejauhan terlihat Andini, dan suaminya serta anak kecil mungkin itu anak mereka.
sudah lama sekali tak pernah bertemu untuk sekedar mengobrol dan bergurau, memiliki kesibukan masing masing.
waktu banyak menyita mereka untuk bertemu, maka sore ini di kala waktu senggang mereka berdua memutuskan untuk bertemu dan jajan bareng. mengenang masa bekerja di minimarket dulu.
__ADS_1