
Maya, hanya mencebikkan bibir lantas pergi begitu saja, seraya mancak mancak tak jelas.
Jangan malu memiliki keluarga yang kurang mampu, tetapi malulah ketika sudah mampu namun lupa dengan keluarga.
setelah semua pesanan selesai,
gegas Winda, menghampiri Lastri, yang sedang termenung seorang diri.
"kamu kenapa lagi lastri" Tanya Winda
"ini kamu liat aja mbak" Lastri menunjukan sebuah pesan masuk.
[Heh pelakor plus dengan p3l4cur, berani banget kamu ngatain saya, ya. Udah punya nyali kamu, jangan mentang-mentang ada lelaki yang kamu bilang suamimu itu datang aku jadi tidak berani denganmu, ya!]
[Dengar baik-baik ya pelakor kecil, simpanan om-om. Kupastikan istri pertama dari lelaki itu mengetahui kebusukan kalian berdua. Biar kamu dihajar sama istrinya!]
Bu Sanah dengan emosinya mengirimi pesan pada Lastri. aku yang membaca pesan itu meras geram Sendiri.
"Sungguh keterlaluan sekali Bu Sanah, Kali ini tidak bisa di maafkan lagi ucapnya" pikir Winda
💙💙💙
"Mah, kenapa mukanya ditekuk begitu?" tanya Mia saat melihat sang Ibu seperti sedang marah.
"Mia, kamu tahu tidak. Itu, si Lastri ngelunjak bener, mentang-mentang sudah jadi simpanan om-om dia."
"Emang Lastri jadi simpanan om-om, Ma. Kok Mia baru tahu, ya, kok bisa? Ih, bikin ilfil aja orang kaya dia. Kenapa nggak diusir aja sih Mah dari kampung kita? Lagian Papah kan Kepala Desa di sini, suruh aja Papah ngusir Lastri."
"Bener juga ya kamu Mia, bangga Mama punya anak kayak kamu bisa diandalkan. Nanti lah nunggu papahmu pulang dari kampung sebelah, Mamah suruh itu Lastri sama pria yang menghampirinya tadi pergi dari kampung kita. Kalo bisa kita arak t3l4nj4ng aja mereka berdua kalo terbukti melakukan hal yang ga pantas!"
__ADS_1
"Setuju, Mah, lagian itu Lastri, lagaknya kayak orang kota. Padahal kehidupannya miskin banget di sini, sok-sokan sombong. Merantau ga ada hasil apa-apa, malah bunting dapatnya."
"Tuh, kan kamu juga ngerasa kan dia tuh kayaknya jual diri. Cuman malu buat ngakuinnya aja. Pokoknya, Mamah bakalan bikin Lastri sama ibunya itu malu semalu malunya," kata Bu Sanah lagi dengan emosi yang menggebu-gebu.
💙💙💙
"yaudah ga usah di pikirin, yang terpenting ucapan mereka itu tidak benar" ucap Winda, menasihatinya
"iya mbak" Jawa Lastri seraya tersenyum manis.
memang sejak membantu ibu ningsih berjualan rumah bi Maryam, di pindahkan oleh Winda, yang tadinya harus berjalan cukup jauh sekarang hanya lima langkah dari rumah Winda. pekarangan rumah Winda, cukup luas jadi masih cukup muat untuk membangun rumah Lagi. kebetulan Ren, adalah anak dari Bu Lia, yang menjadi Langganan Tetap di toko buket Winda.
memesan buket kepada Winda Pun, Saran dari menantu dan anaknya.
kehidupannya Lastri, di kota dapat di katakan bagus, iya bekerja di sebuah perusahaan dan ternyata anak dari pemilik perusahaan itu menyukai nya.
💙💙💙💙
"Assalamualaikum" sapa Winda di ujung telpon
"wa'alaikumsalam, ada yang perlu aku bantu" Tanya Andini
"hehe tau aja kamu, begini Dini, dengan leluasa Winda menceritakan jika Adik Sepupunya mendapatkan ucapan yang tidak enak dari Bu Sanah.
"kalau masalah itu kamu ga perlu pusing, kakak ipar ku ada yang bekerja di kepolisian dan kebetulan baru di pindahkan kemarin ke kota kecamatan, bagai mana kalau kita buat rencana, kita sendiri kan tau kalau Lastri, menang menikah dengan bujang" jelas Andini
"rencana bagaimana maksudnya" Tanya Winda
"dengan lugas Andini, menceritakan maksud dari rencana mereka"
kira kira rencana apa yang akan mereka lakukan untuk Bu Sanah, karena Andini pun memiliki dendam tersendiri kepada ibu paruh baya itu.
__ADS_1
selesai menceritakan semuanya gegas Winda, menutup telponnya dan berbaring di atas kasur. yang empuk berbeda dengan dulu dia hanya tidur ber alaskan tikar.
💙💙💙
"Sayang, kalo mau tidur, tidur aja duluan, ya. Aku mau ngobrol-ngobrol sama Bapak, udah lama nggak jumpa."
"Kamu nggak kangen sama aku?" kata Lastri sambil memanyunkan bibirnya.
"Kangen lah, Sayang, tapi Mas nggak enak sama Bapak, masa serumah kayak orang asing," kata Ren lalu mengecup pucuk kepala sang istri dengan begitu lembut.
"Ya udah, jangan lama-lama ya, Mas. Lastri masuk ke kamar dahulu, soalnya Lastri tiba-tiba sakit pinggang ini." Lastri lalu melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar.
Kejadian tadi sore masih terngiang-ngiang di kepalanya. Dia masih heran, mengapa Bu Sanah begitu tak sukanya pada keluarganya. Padahal rasa-rasanya dia tak pernah sekali pun membuat masalah dengan keluarga Bu Sanah.
"Apa Ibu memang punya hubungan masa lalu dengan Pak Somad? Lagipula itu kan hanya masa lalu, mengapa dendamnya sampai saat ini."
"Dan juga sekarang Pak Somad juga sudah jadi milik Bu Sanah, bisa tiap hari lah itu ngelihat wajahnya. Kalo suaminya ga mau diambil orang, takut diambil ibuku lagi kenapa ga sekalian diikat aja di tiang, biar bisa dijaga setiap menit, detiknya." Lastri, masih menggerutu sendiri karena rasa dongkolnya yang tak berkurang.
Ting!
Ting!
Ting!
Lastri, terkejut mendengar notif di ponselnya yang begitu banyak masuk pesan.
Saat melihat, mata Lastri, membulat sempurna ketika dia dimasukkan ke dalam grup yang diberi nama 'Grup Pembasmi Pelakor dan P3nju4l Diri!'
Lastri kembali melihat siapa adminnya, ternyata lagi dan lagi biang keroknya adalah Bu Sanah. Entah darimana Bu Sanah mendapatkan nomornya, kehadiran Bu Sanah seperti benalu dalam kehidupan Lastri. Mengganggu!
"Awas saja kalian ya," ujar Lastri memegang erat ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Next?