Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Bab 27


__ADS_3

Setelah bu Susi menyebutkan namaku dan juga menyerahkan uang sebesar 5 juta. semua peserta arisan pulang ke rumah masing masing.


namun aku dan mba lastri memilih Singgah ke rumah Andini sesampainya di sana.


"Alhamdulillah akhirnya aku yang dapat arisan sudah aku tunggu tunggu dari bulan lalu untuk tambahan modal" ucapku ke pada Lastri dan Andini.


"Alhamdulillah Winda, kembangkan terus bakatmu" ucap Dini, ya Dini lah yang tau perjalanan aku untuk menjadi Seperti sekarang. mulai dari berjualan buket dan menjadi seorang author penulis novel.


💙💙💙💙


ke esok harinya


Maya memperlihatkan sepatu high heelsnya. Katanya baru beli karena suaminya tau kalau sepatunya sudah rusak.


"Ah masa udah rusak. Kulihat high heels-mu masih bagus waktu ke undangan terakhir," jawab Lastri,


"Kamu nggak tau aja. Anakku kalo marah, barang-barang ku kena sasaran. Pernah denger kan si Dudu nangis? Nah, nangisnya sampe lempar high heels aku. Pusing aku dibuatnya." balas Maya.


"Nggak apa-apa lah, kan enak bisa langsung beli yang baru." jawab Lastri.


Dia langsung duduk di kursi. Tak lama dia mengamati bagian dalam rumahku.


"Ada yang baru nggak di dalam? Kamu nggak pernah cerita sama aku." Maya mengintip bagian dalam rumahku melalui kaca depan.


Aku memelas. Nggak asik deh nih orang, sukanya kepo sama tetangganya. Padahal dia yang suka pamer, tapi aku tetep aja di kepoin gini.


"Nggak ada yang baru di rumahku, May. Udah nggak usah lihat-lihat ke dalam!" Aku melarangnya.


"Idih kamu kok gitu. Kemarin aja kamu sama ibu-ibu yang lain kompak banget ngebuli aku. Aku kan kesel banget. Dibilang pamer segala! Aku nggak pamer, cuma ingin melampiaskan kebahagiaanku. Siapa tau jadi inspirasi buat yang lain."


Mila menopang kaki kanan di atas kaki kirinya. Pandangannya lurus ke depan.


"Inspirasi apanya? Yang ada orang-orang eneg, May!"


Mila menoleh padaku, lalu matanya membulat.


"Apa? Jadi selama ini kamu eneg padaku? Tega sekali kamu, Las. Aku dah baik banget sama kamu, tapi kamu bales kaya gini."


Mila drama banget. Bisa banget memutar balik fakta. Kalau soal baik, aku pun baik padanya. Menutup aibnya. Kasih makanan juga sering. Dia kalau kasih makanan, selalu sisa dia makan. Memangnya aku tak tau kelakuannya?


"Maaf, May Aku cuma pengen kamu nggak usah pamer gitu di status wa gitu. Semua serba dibilang di situ." Aku menatap wajahnya.


"Kamu juga sama, Las. Suka iri sama orang. Termasuk padaku." Maya protes. "Ya udah aku pulang saja sekarang, percuma bicara denganmu. Sok suci, padahal kamu juga punya penyakit hati."

__ADS_1


Mila bangkit dari kursinya, lalu gegas kembali ke rumahnya.


Aku tak bisa mencegahnya. Mau bicara, tenggorokanku tercekat, sehingga agak sulit untuk bicara. Pada akhirnya aku hanya diam saja membiarkan dia pergi dan udah beberapa hari, Maya tak menghubungiku. Ia marah denganku. Tapi sifat pamer di medsos masih dilakukannya. Kritik Ku tak mempan padanya.


Walau kami tak saling tegur, tapi kami masih saling mengintip status di aplikasi hijau. Ku lihat dia mengintip statusku, begitupun sebaliknya.


'Tetep ya kepo banget sama urusan orang,' gumamku.


💙💙💙


ke esok harinya di tukang sayur


Mata mendekat ke arah kami. Kami pura-pura memilih dagangan Mang Mail lagi.


"Eh, Lastri, bukannya kamu udah dari tadi belanjanya? Kok masih belum pulang?" Maya menanyaiku penasaran.


"Ini, masih bingung mau masak apa. Lagian terserah aku sih mau lama atau sebentar," jawabku.


"Ya maaf!" Dia memilih sayurannya juga.


"Eh, Jeng, mana oleh-olehnya yang di status semalem? Katanya suaminya dari Malaysia ya?" Bu Endah langsung menodong Maya.


"Eh, iya. Ada sih, Bu tinggal sedikit. Habis dimakan anak-anak soalnya," jawab Maya.


"Haha, masa sih sampai segitunya?" Maya tidak percaya.


"Beneran loh, Jeng! Ooo Wah jangan-jangan Jeng Maya cuma ngasih ke Jeng Lastri aja, kan kalian hadap-hadapan rumahnya." Bu Susi berasumsi.


Aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.


"Iya dong, tetangga terdekat harus dikasih oleh-oleh. Biar makin dekat," jawabnya.


Sangat jelas. Mataku langsung membulat. Iya sih ngasih makanan, tapi itu bukan dari Malaysia, tapi dari sini juga ada. Hello!


"Waaah, mantep dong Jeng Lastri, belum pernah ke Malaysia tapi dah nyobain makanan dari sana," timpal Bu Susi.


Aku hanya menelan Saliva ku mendengar perkataan Bu Susi. Ingin rasanya aku bicara, kalau perkataan Maya hanya omongan belaka. Tapi aku masih menganggap dia tetangga paling dekat denganku. Dan Maya sangat tau kalau aku tipe orang nggak enakan.


"Iya, dong Jeng Susi." Akhirnya Maya yang menjawab pertanyaan itu, karena melihatku tak menjawabnya.


Belanjaanku tinggal dihitung.


mang Mail yang dari tadi diam saya berkata pada Maya untuk segera bayar hutang. Karena sudah waktunya bayar.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku sampai lupa belum bayar utang. Nanti aja, deh sekalian," katanya.


"Jeng Maya, bayar dong hutang kepada bang Mail kasian belum di bayar juga" Bu Susi menambahkan.


"Waduuuh, cepat bayar tuh Jeng. Jangan sampe telat gitu, minta sama suaminya yang baru pulang dari Malaysia dong jeng!" usul Bu Imas. "Ya nggak semua?" tanyanya lagi.


"Iya dong. Jangan pamernya doang digedein!" Bu Endah yang sedang hamil muda menyahut.


Aku tersenyum kecil ketika mendengar perkataan Bu Endah. Tapi tidak dengan Maya, ia gusar dan mengangkat kedua alisnya.


"Iya, nanti juga dibayar kok Bu. Tenang ajah, sampai semua beres!" Maya menatap kami semua dengan tatapan seperti ingin menerkam.


"Nggak usah marah, loh, Jeng, bang Mail cuma ngingetin situ aja," tambah Bu Susi.


"udah ga usah debat, yang penting secepatnya di bayar" ucap mang Mail yang tampak gusar takut barang dagangan jadi sasaran


"Iya, Mang, udah." Aku membayar belanjaanku.


"Tunggu, Lastri. Aku belum ceritakan semua!" Dia menghentikan bicaranya. "Asal Jeng-jeng tau semua, suamiku sebentar lagi bakal beliin aku motor matic keluaran terbaru. Yang lama, bakal kami pensiunkan. Mungkin Jeng-jeng ada yang mau nampung silahkan! Tau kan harga motor matic berapa, Jeng Imas! Jadi ... nggak mungkin aku nggak bayar."


Ibu-ibu semua saling berpandangan, lalu semua mengangguk pelan.


"Baiklah, Jeng Mila. Ditunggu, ya pembayaran nanti. Moga niat Bu Mila bayar dimudahkan," Bu Susi membayar sayur yang dibelinya, lalu pergi menuju rumahnya. Disusul ibu-ibu yang lain. Aku juga melanjutkan perjalanan menuju rumahku.


 


"Mas, tau nggak, aku heran dengan Mila. Bisa-bisanya dia berbohong pada Ibu-ibu kalau ia memberikan aku oleh-oleh dari Malaysia. Padahal dia kan cuma kasih dua macem ini!" Aku mengangkat makanan ringan yang ku terima kemarin, lalu menghempaskannya lagi.


Mas Rendy memperhatikan tingkahku dengan seulas senyum.


"Biarin aja, Dek. Mungkin makanan dari Malaysia nya habis. Masih mending dikasih itu."


Jawaban Mas Ren membuatku tersenyum kecut.


"Iya, biarin aja. Dan memang aku tadi membiarkannya berbohong. Harusnya aku menyangkal ya, Mas? Lama-lama Maya menginjak harga diriku." Aku tak bisa lepas kendali jika bicara dengan Mas Ren.


"Kamu sudah benar, Dek! Mas bangga deh padamu!" ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku.


"Tapi, Mas. Mas nggak tau sih gimana perasaanku tersiksa. Antara menyembunyikan atau membocorkan kebusukannya. Tapi aku memilih menyembunyikannya."


"Iya, Mas tau. Udah nggak usah dipikirin lagi."


bersambung

__ADS_1


__ADS_2