
Beberapa bulan berlalu, Sekarang aku sudah bekerja di perusahaan yang baru lebih tepatnya anak cabang dari perusahaan. Yang di kota, senang Rasanya bekerja bisa selalu pulang ke rumah tidak seperti setahun belakangan aku bekerja pulang ke rumah orang.
Pekerjaan hari ini cukup melelahkan, jam pulang sudah terlewati beberapa menit yang lalu, rupanya hampir 30 menit aku terlambat pulang. gegas ku tancap gas untuk pulang.
Alhamdulillah akhirnya aku sampai di rumah, setelah seharian bekerja lelah juga, ketika hendak turun dari motor Bu Romlah datang dan menghampiri.
“Sinta sore amat pulangnya? Dari mana aja sih?”
Sepertinya Bu Romlah sengaja menungguku pulang, ia penasaran sekali dengan hidupku, dulu ketika aku dan kak Santi mulai kuliah saja dia mengejekku dan ibu.
“Orang miskin gak usah banyak gaya lu Sinta, Santi pake mau kuliah segala, udah cukup makan aja syukur.”
Yah begitulah Bu Romlah, tapi aku tetap menghormatinya, karena dia lebih tua dariku anggap saja ucapanya sebagai motivasi supaya bisa hidup lebih baik lagi.
“Pulang kerja Bu Romlah, O ya ada apa Bu kok sampe nyamperin Sinta ke rumah?”
“Kagak Sin ... emang lu kerja dimana sih?”
“Kerja di kantor Bu Romlah”
“Em beneran lu kerja di kantor? Emang jabatan lu apa?”
“Iya Bu, masa Nisa boong.”
“Jabatan nya apa? trus gajinya berapa?” Bu Romlah terus bertanya tentang jabatanku.
“Cuma sekretaris biasa Bu, udah ya Bu Romlah Sinta mau masuk dulu hampir magrib.” Aku segera mengakhiri percakapanku dengan Bu Romlah.
Sebelum dia berkomentar lagi, aku segera masuk ke dalam.
"Baru jadi sekretaris, udah belagu lu Sin"
Ku dengar sekilas Bu Romlah bersungut-sungut.
Ibu sudah menungguku dari tadi, segera ku cium tangan ibu, aku tak mau menceritakan apa yang terjadi hari ini di kantor, takutnya ibu kepikiran dan lambungnya kumat.
Setelah istirahat sebentar kemudian aku mandi supaya tubuh dan pikiranku fresh kembali, dilanjutkan dengan shalat magrib menunaikan kewajiban yang pertama dihisab di akhirat nanti.
Esok nya aku ke kantor seperti biasa, huuuft ku hembuskan nafas ku kuat, bismillah ... semoga hari ini berjalan dengan baik.
Setelah absen, aku segera naik ke lantai empat kelihatannya Pak Damar belum datang.
Aku sedang menekuni laptop ku dengan serius.
Tak ... tak ... tak ... terlihat sepatu pantofel mahal melangkah berjalan ke arah ku, segera ku angkat wajah ku, untuk memastikan siapa yang datang, Aku langsung berdiri sebagaimana menyambut kedatangan atasan.
“Pagi Pak” Beliau langsung masuk ke dalam tanpa melihat ku.
Lebih baik begini, mungkin dia juga menjaga pandangannya dari yang bukan mahram, mencoba berpikir positif saja.
“Sinta ... aku mau nganterin hasil desain proyek bangunan ini ke Pak Damar.” Lapor Angga kepadaku.
Angga adalah salah satu karyawan Drafter yang bertanggung jawab dalam penggambaran proyek yang akan dikerjakan dan yang sudah selesai dikerjakan.
__ADS_1
“Ya udah masuk aja, Pak Damar di dalam kok.” Jawab ku santai.
“Telpon dulu, kira-kira dia sibuk gak.”
“Emang gak bisa berhenti bekerja sebentar gitu, untuk memeriksa laporan dari karyawannya,” Protes ku.
“Yah begitulah beliau, kalau sedang sibuk gak mau di ganggu, pernah salah satu karyawan harus menunggu sampai lama gara-gara Pak Bos sibuk, kecuali kalau laporannya mendadak harus dikerjakan”
“Emm gitu ya, kejam amat.”
“Itulah gunanya sekretaris, menghubungkan antara Pak Bos yang kayak es batu dengan karyawanya,” Ucapnya sambil tertawa.
“Emang kamu bener-bener gak tau kalo Pak Bos kita kayak gitu?”
“Enggak,” aku menggeleng.
“Ya udah telpon gih” ucap Angga sembari menungguku menghubungi Pak Damar.
Tut ... Tut ... Tut ...
[Ya]
[Pak, Angga mau ketemu bapak, dari bagian Drafter, kira-kira Ba ... ]
[Suruh masuk aja]
Telpon mati.
Haa? Aku melongo, segitunya belum juga selesai ngomong, langsung dipotong dan dimatikan.
Aku bergegas untuk turun ke bawah shalat Zuhur dan makan siang bersama Andina dan Cellin.
Setelah itu aku kembali lagi ke ruangan, apa pak Damar gak makan siang ya kok gak keluar-keluar? workaholic banget kelihatannya, mungkin saja delevery makanan pikir ku, jaman sekarang kan sudah praktis.
Telepon berdering, ku angkat
[Segera ke ruangan saya]
Ya Rab jika mendengar panggilan dari Pak Damar rasanya seperti akan maju ke medan perang saja.
Aku langsung masuk, “Ada apa pak?”
“Tolong kamu buat laporan proyek yang sedang dikerjakan oleh Angga tadi, laporan pembangunan kepada Pemda setempat, Polres, dan Lurah”
“Baik Pak” aku segera berbalik ke arah pintu keluar.
“Oh iya, untuk datanya hubungi Angga” ku putar kembali tubuh ku menghadap Pak Damar.
“Baik Pak”
Aku segera keluar ruangan ketika hendak menarik handle pintu, “Saya butuh secepatnya." sambungnya lagi.
“Yang hard copy Bapak butuh juga kan pak?” tanya ku agak kesal.
__ADS_1
“Ya” singkat, padat, dan jelas.
Apa-apa harus cepat memangnya aku robot, gak ada apa toleransi sedikit, aku kan juga manusia. Astaghfirullah ... kenapa aku ngedumel. Ikhlas Sin biar berkah.
Azan ashar terdengar, aku segera turun ke mushola untuk menunaikan shalat ashar, setelah shalat ku baca Al Fatihah, setelah sebelumnya membaca istighfar dan sholawat Nabi “ayah hanya alfatihah yang dapat ku hadiahkan untuk ayah di waktu ashar ini.”
Aku bergegas kembali ke ruangan ku untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Iseng ku buka handphone, yang ku tinggalkan di dalam laci meja.
Satu panggilan dari nomor tak dikenal dan satu pesan ‘klik' ku buka pesan dari nomor tak dikenal itu.
[Apa pekerjaanmu sudah selesai? Kenapa kamu pergi saat jam kerja?]
Pak Damar? Ya siapa lagi kalau bukan dia, sepertinya dari tadi ia menghubungi ku melalui pesawat telepon, karena tak ku angkat dia beralih menghubungiku melalui nomor handphoneku.
Tok..tok..tok ku beranikan diri menemui Pak Damar, aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku shalat ashar ke mushola.
“Masuk”
Pak Damar tetap menekuni laptopnya sesaat, kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arahku, ku tundukkan pandanganku.
Lalu ia merenggangkan dasinya dan duduk bersandar ke sandaran kursi.
“Sudah selesai?”
“Be-belum Pak.”
“Kalau belum selesai, kenapa kamu kelayapan di jam kantor?”
Ya Allah tak adakah kata- kata yang lebih enak didengar, seolah-olah aku ini perempuan gak benar yang suka keluyuran.
“Saya menyuruhmu untuk segera menyelesaikan laporan yang saya berikan” tumben banyak ngomong si Bos.
“Ini malah di tinggal begitu saja, dengan laptop terbuka.”
Apa? dia sampai mengecek ke meja ku?
Ku tarik nafas ku, huuftt ... tenang Sinta. jelaskan dengan tenang.
“Saya minta maaf Pak Damar, jika saya salah telah meninggalkan pekerjaan yang Bapak berikan begitu saja, tapi salahkah saya jika menunaikan kewajiban saya terlebih dahulu sebagai seorang muslim?”
Pak Damar terdiam dan membuang pandangannya dariku.
Aku rasa dia paham apa maksud dari perkataan ku, bahwa aku cuma shalat ashar sebentar, rasanya tak perlu ku jelaskan lagi secara rinci.
“Baiklah, besok sore kita meeting dengan klien, persiapkan berkasnya besok secepatnya.”
“Kamu boleh keluar.” Lanjutnya.
Aku segera keluar tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
***
__ADS_1
mohon maaf kalau masih banyak typo, dan mohon maaf juga jarang upload
Jangan lupa like komen dan vote