
Damar, sengaja mengambil tempat makan di atas, ia akan menemui klien dan juga mengobrol ringan dahulu dengan Santi. ..
Obrolan berjalan dengan santai, sesekali Damar memperlakukan Santi, seperti pacarnya dan hal itu membuat Santi tersipu malu,
Selesai menemui clien, masih ada waktu sekitar 20 menit lagi. sengaja mereka bertemu di jam makan siang, agar menghemat waktu.
"Santi, saya boleh berbicara sesuatu?" tanya pak Damar,
Santi, yang di berikan pertanyaan seperti itu sudah tak karuan hatinya jedag jedug. Bagaikan lampu disco.
"boleh pak" jawab Santi Dengan mantap.
"Saya, menyukaimu, apakah kamu mau menjadi istri saya?" blus pipi berlesung itu merah merona.
"mohon maaf pak, sebelumnya keluarga saya dan keluarga bapak tak sepadan, tak pantas rasanya jika saya mendampingi bapak" jawab Santi,.
"hm,,, tapi jujur Sudah berkali kalii kamu menyelamatkan saya dari sandiwara kita jika kita pacaran, dan dari sandiwara itu lah saya ber ujung benar bener, mencintai kamu" balas pak Damar.
Blush ..
Sinta merah bak kepiting rebus, Perempuan mana yang akan menolak Damar, laki laki dengan. tunggi 175 CN berat badan yang ideal dan hidung mancung serta kulit putih bersih. Di tambah lagi seorang CEO di perusahaan ternama.
Sinta, hanya mampu diam tanpa berkata apa-apa.
"Saya tau, ini terlalu cepat bahkan dengan kesan sedikit memaksamu" terdengar hembusan nafas berat dari laki laki yang berhadapan dengan Sinta.
"Saya mau pak" replfek Sinta, menjawab dengan tegas.
Membuat Damar terkekeh tertawa.
"are you oke?" Tanya Damar, karena dia merasa Sinta terpaksa menerimanya.
"iya pak saya baik baik saja, maaf tadi refleks jadi kesannya seperti saya terpaksa" jawab Sinta, dengan malu malu.
Obrolan terus berjalan, tak terasa klien Yan di tunggu telah datang. Mereka bertiga sedang mengerjakan proyek baru, kali ini proyek pembangunan Villa, ya ternyata lahan Villa itu milik Farel. Suami kak Winda. Mereka mengobrol sesekali di selingi canda tawa.
__ADS_1
ππππ
Sedangkan di ruma Ibu, udah tiga bulan lebih, tetangga depan rumah'ku bermusuhan dengan keluargaku, tapi, tidak dengan kami.
Karna kami hanya mengambil hak kami, apa itu salah?
Dari dulu pelataran depan rumah atau latar, selalu dilewati mobil kecil maupun besar yang berseliweran lewat depan rumah.
Pasti kalian akan bertanya apa masalahnya? Masalahnya adalah....
Yang pertama jika hujan sedang turun membasahi bumi, maka depan rumah'ku akan becek atau banjir, karna jalan yang berlubang. Ke dua, pemilik mobil atau pemilik bengkel tidak pernah meminta izin pada kami, pemilik rumah.
Bukankah itu sangat miris. Boro-boro meminta izin, meminta maaf karna telah membuat tanah berlubang saja tidak!
Karna keluarga'ku sudah muak dengan sikap-Nya yang selalu merasa benar, nyatanya salah.
Jadilah depan rumah'ku dipatokin kayu, itu saja belum pas pembatas, kalau pas pembatas, mobil pelanggan bengkel nggak bisa lewat. Bukankah itu sama saja mematikan rezeki saudara kita?
Bukankah keluarga'ku sudah cukup baik, lalu untuk apa sekarang ia julid sama keluarga'ku.
Apakah mata nya buram?
Apakah hatinya sudah membatu?
Aku selalu berfikir positif, tapi, sifatnya, tingkahnya, membuat diri ini ingin berkata-kata.
Semua orang memiliki batas kesabaran, dan batas kesabaran'ku telah habis untuk orang yang merasa diri'nya paling benar itu.
Di depan orang yang dia segani, mukanya berseri-seri, seperti dibuat-buat, tetapi ketika didepan musuh mukanya masam, seperti ada aura yang berbeda, entahlah.
Walaupun ia begitu dengan tetangga sendiri, nyatanya ia adalah wanita yang pandai mengaji, dan termasuk orang yang pandai.
Tapi para reader tau kan, bahwa memakai tanah orang tanpa seizin pemiliknya termasuk dosa besar.
Sholatnya lima waktu, ngaji tiap malam, ada acara pengajian ikut, apakah ia tertidur ketika sedang ada ulama ceramah? Makanya ia ngga tau kalau memakai tanah orang tanpa seizin pemiliknya adalah dosa besar. DOSA BESAR!!
__ADS_1
***********
Hari ini Cucu dari Lastri, pulang lebih awal karna hari ini hari Jumat. Dia pulang sambil menangis sesenggukan. Ketika ia lebih dekat terlihat kepalanya benjol.
Anak Lastri, yang kelas dua menceritakan, kenapa ia menangis.
"Mak tadi Reza nakal, dia pukul kepala adek." Ucap nya masih sambil menangis dan memegang kepalanya yang benjol.
"Cup cup cup, adek kan kuat, jadi, ngga boleh nagis ya." Ujar'ku mencoba menghiburnya.
"Ayo masuk mamak obatin luka adek." Lanjut'ku, berusaha biasa saja, tidak ingin membuat sang anak khawatir.
Reza adalah anak tetangga depan rumah'ku, bukan hanya ibu nya yang ada masalah dengan keluarga'ku, anaknya juga.
βTapi tidak semua anak ia jahati, karna dia termasuk anak penakut juga menurut'ku, karna dia takut dengan anak sulung'ku, ditatap tajam aja dia udah ngga berani. Tapi, bukan berarti anak'ku lemah, karna dia aku ajari untuk berbuat baik, tidak membalas perbuatan buruk dengan hal buruk. Cukup bilang ke guru atau wali kelas nya aja.
Karna hukum alam berlaku, jadi, jangan khawatir semua perbuatan yang tidak baik akan mendapatkan balasan nya.
Aku telah mengobati luka nya, dan sekarang cucuku telah tertidur, di pangkuan'ku. Air mata sudah penuh di pelupuk mata, akhirnya air mata ini lolos begitu saja. Semua ibu pasti sedih, mendapati orang di sayang terluka. apah Lagi anak Lastri, sudah ku Anggap seperti cucu ku sendiri,
karena Winda belum Hamil, si kembar Santi dan Sinta. Belum mau menikah setiap aku tanya mereka hanya menjawab. Nanti setelah waktunya pasti kamu menikah, aku hanya takut umurku, sudah cukup tua. Jika mereka belum menikah siapa nanti yang akan menjaga mereka.
Bersambung...
Hallo Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca karya-karya ku yang masih berantakan mohon maaf ya masih banyak typo.
Baca juga yuk karya lainku
π€sukses setelah Di Hinna
π Tetangga Unik
π Es kul kul penyambung hidup
π putih abu abu
__ADS_1