
Hidup ini nggak melulu tentang diri kita sendiri. Ada orang tua dan juga keluarga yang harus kita pikirkan. Bukan cuma bagaimana memberi mereka uang dan juga makan, tapi juga menjaga perasaan. Kalau dalam kasusku, ini masih berkaitan dengan putusnya aku dari Satria dan menikahnya Satria.
Semua orang udah tahu kalau aku pacaran sama satria udah lama banget. Sejak kami masih sama-sama duduk di bangku SMA kami pacaran. Satria udah sering main ke rumahku dan bertemu dengan keluargaku. Bukan cuma buat ketemu sama aku aja kalau Satria main ke rumah. Kadang dia main sama anak ni Maryam juga. Bahkan nggak jarang Satria bantuin bpk di kebun.
Aku juga udah sering main ke rumah Satria. Buat bantuin Ibunya bikin kue dan juga main sama kakak Satria. Ya intinya kami udah saling mengenal luar dalam lah. Banyak juga yang udah nungguin kami untuk bersanding di pelaminan dan juga membina rumah tangga. Tentu aja diiringi doa dan juga cibiran sih.
Lalu, beberapa tahun yang lalu, kami putus. Kami bertengkar? Nggak. Selama ini nggak pernah ada pertengkaran yang sampe ribut atau gimana. Pertengkaran kami biasa aja dan kami selalu bisa menyelesaikan masalah kami dalam ketenangan. Ada orang ketiga dalam hubungan kami? Aku pikir sih nggak, karena kami saling percaya. Well itu juga bukan jaminan sih, tapi aku merasa nggak ada orang ketiga dalam hubungan kami.
__ADS_1
Kenapa kami akhirnya putus setelah 4 tahun berpacaran?
Jawabannya adalah karena Satria ingin hubungan kami segera diresmikan. Dia merasa malu, membawaku kesana kemari tapi nggak buruan dihalalkan. Jadi karena aku belum bisa memberi kepastian sama dia, akhirnya dia minta putus. Kami pun putus secara baik-baik, nggak ada drama atau apapun itu.
Kalau dilihat dari kacamataku, aku sendiri juga merasa nggak enak sama Satria dan keluarganya. Mereka pernah nanya apa aku serius sama Satria apa nggak. Aku jujur dalam hati pengen serius dan menikah dengan Satria. Tapi balik lagi, aku masih punya tanggungan Sinta dan Santi sampai lulus kuliah. Ini pernah kita bahas sebelumnya, kalau aku pengen adik-adikku kuliah. Baru ketika mereka kelar kuliah, aku akan memikirkan tentang diriku sendiri. Tapi ya gitu deh.
Dan sekarang, setelah dua tahun berlalu, aku merasa biasa aja. Biasa dalam artian nggak ada trauma ataupun sakit hati. Aku menikmati semuanya dengan baik. Aku bekerja, belajar hal baru sekarang yang ternyata menyita waktuku. Kalau aku punya waktu luang, aku akan menggunakannya untuk quality time bareng sama keluarga, atau belajar. Jadi memang fokusku sekarang udah beda dari yang dulu.
__ADS_1
"Ibu tuh kepikiran lho, kak." itu kata sinta.
Ya gimana ya? Aku tahu kok kalau Ibu kepikiran dengan omongan orang. Tapi ya gimana, orang akunya biasa aja. Lagian belum ada juga jodohnya. Masa mau nikah sama guling?
"Bilang sama Ibu, kalo aku baik-baik aja. Toh aku nggak mati cuma karena belum nikah." jawabku ketus.
Ah, kalo bahas tentang tetangga tuh emang ngeselin banget. Kadang nggak mau deh punya tetangga. Tapi, nanti kalo kita kesulitan, tetangga adalah orang pertama yang akan membantu kita. Plus hujat kita tentunya. di satu sisi Sinta dan Santi selalu membujukku untuk menikah. namun Aku belum menemukan laki laki yang cocok. dulu jika ada yang menanyakan tentang menikah ibu tak seperti sekarang. namun akhir akhir ini ibu seperti gampang tersinggung jika ada yang menanyakan kapan Aku menikah.
__ADS_1
mungkin karena usiaku yang menginjak kepala 25 dan tahun ini akan memasuki usia 26 tahun.
3 hari berlalu, Rupanya si bungsu sudah harus kembali ke kota. mewujudkan cita cita yang belum tercapai.