
Waktu banyak menyita mereka untuk bertemu, maka sore ini di kala waktu senggang mereka berdua memutuskan untuk bertemu dan jajan bareng. mengenang masa bekerja di minimarket dulu.
Mereka pun terlibat dalam percakapan yang ringan. Mereka saling bertukar cerita tentang hobinya, kegemaran musik, dan film favorit. mengenang masa lalu mereka,
Perbincangan itu berlanjut hingga larut malam. Mereka tersenyum satu sama lain, menikmati kehangatan momen yang mereka bagi bersama. Namun, di balik senyum itu, ada rasa takut yang menyelinap di dalam hati mereka. Takut kehilangan sikap antara teman yang mereka bangun selama ini jika mereka mengambil langkah lebih jauh.
Saat tiba waktunya untuk berpisah, mereka saling memandang dengan kebingungan,
Andini takut jika Winda, akan melanjutkan niatnya untuk bekerja di kota saja, membangun usaha baru di sana. walau usaha warung nasi dan yang lainnya tetap berada di sini. namun pontensi membangun usaha lebih besar memang berada di kota.
💙💙💙
Sinta kembali ke kediaman rumah Bu Lia
"Assalamualaikum” Sinta mengucap salam ketika sudah sampai di depan pintu rumah.
“waalaikumsalam” terdengar suara Ibu Lia menjawab salam.
Rumah ini adalah rumah peninggalan suami Bu Lia yang terletak kota ini.
Ibu Lia membukakan pintu, ku cium tangan ibu Lia dengan takzim.
“Udah pulang toh Nduk..?”
“Iya Bu, interviewnya sudah selesai, Sinta langsung pulang Bu.”
“Bagaimana interview apa kamu bisa menjawab semua Nduk?”
“Alhamdulillah, bisa Bu berkat do'a dan restu ibu, semoga Bisa diterima kerja gajinya lumayan” Kata ku berbinar.
“Amin ...” Sambut ibu cepat.
“Yo wis ndang kamu makan dulu Sinta,, udah siang Ibu masak makanan kesukaanmu orek-orek tempe.” Ibu melepaskan pelukanku.
“Asiiikk....yuk Bu kita makan bareng, Sinta udah lapar” sambil memegang perut ku, aku menggandeng Ibu Lia menuju dapur, kami makan bersama di meja makan yang terbuat dari kayu.
Aku hanya tinggal berdua bersama Ibu Lia , mending suaminya Bu Lia sudah lama meninggal , ayah mertua dari mbak Lastri, meninggal karena kecelakaan di tempat kerja.
Nyawa ayah mertua adik sepupu ku tak tertolong, sejak saat itu ibu Lia lah yang berjuang sendiri untuk mencari nafkah dan menyekolahkan semua Lastri, hingga bisa menjadi sukses seperti sekarang, walau mereka orang kaya tapi mereka tak pernah lupa asal mereka dari mana.
__ADS_1
💙💙💙
...kisah hidup Bu Lia (pop Bu Lia)...
Lia Amelia, nama Ku terlahir dari orang tua yang sederhana membuat ku harus bisa membantu perekonomian keluarga.
Setelah SMP aku mulai bekerja, membantu ibu menitip keripik dan kacang goreng di warung-warung, hasil nya lumayan juga buat tambahan uang jajan dan belanja sehari-hari.
Aku mendapatkan beasiswa ketika kuliah S1, sehingga ketika akan melanjutkan kuliah S2 aku juga mencari beasiswa juga agar ibu tak kesusahan mencari biaya kuliah yang tidak sedikit.
Alhamdulillah aku lulus S1 dengan nilai cumlaude dan dan bisa kuliah S2 yang membuat orang yang melahirkan ku bangga.
Ibu sudah mulai sakit-sakitan ketika aku kuliah, untuk menghidupiku ibu berjualan kue basah keliling kampung pinggiran kota ini, karena terlalu memaksakan diri bekerja ibu tak memikirkan kesehatannya sehingga ibu terkena penyakit lambung akut.
Jika lambungnya Kumat, tubuh ibu langsung lemas tak berdaya tak ayal ibu dilarikan ke rumah sakit.
Setelah selesai shalat isya, aku dan ibu duduk di beranda rumah, berbincang santai sambil menikmati udara malam yang lumayan sejuk.
"Lia...usia mu sudah dewasa, S2 mu juga sudah selesai, ibu sudah semakin tua ada baiknya kamu memikirkan masa depanmu.”
Ibu berhenti sejenak aku mendengar kan ibu dengan seksama.
Aku terdiam, tak mampu berkata-kata jawaban tepat apa yang akan ku berikan kepada ibu.
“Iya Bu, Ibu tenang saja jodoh gak akan kemana nanti juga datang sendiri.” ucap ku sambil tertawa kecil.
“Kamu ya Lia, jawabannya selalu itu kalau sudah disuruh menikah.”
“Jadi harus gimana Bu? ya sudah nanti Lia bawakan menantu Ibu yang Sholeh dan baik yang sayang sama Ibu juga” hibur ku Ibu tertawa mendengar ucapanku.
Yang penting ibu sehat dulu, biarlah aku berbakti kepada ibu jika sudah menikah nanti belum tentu bisa mengurus ibu seperti ini.
“Eh bu Sum lagi santai ya?” tiba-tiba tetangga samping rumahku muncul.
“Iya nih Bu Romlah lagi cari angin malam panas banget di dalam” ucap Ibu tetap ramah.
“Eh ada Lia juga kapan nikah elu Lia? Umur semakin tua lho, nanti kitanya udah tua anak masih kecil-kecil.” Ucap Bu Romlah yang memang terkenal suka julid.
“Jodoh di tangan Allah Bu Romlah, jika sudah saatnya datang juga.”
__ADS_1
“Gimana mau ada jodoh, pacaran aja kagak pernah pakek baju yang modis dikit dong jangan baju kayak spanduk partai gitu makanya enggak ada yang mau.”
Sabar ... sabar ucap ku dalam hati.
“Bu Romlah ... jodoh, maut dan pertemuan semua Allah yang atur, yang gak pacaran juga ada jodoh nya, pacaran itu tidak ada di dalam Islam Allah menciptakan makhluk hidup berpasang-pasangan, itu janji Allah lo Bu Romlah.” Ucap ku tenang.
“Alaaahh ... buktinya sampe sekarang elu belum ada jodohnya.”
“Lihat tu anak ku Tuti dapat orang kaya, udah hidup enak dia sekarang gak usah kerja lagi.”
“Alhamdulillah Bu, ikut seneng dengarnya, Tuti cepat dapat jodohnya di kasih Allah Bu.” Ucap ku lagi.
“Yo uwes Yo Bu Romlah kami mau masuk dulu, mau istirahat.” Ibu segera menengahi supaya tidak panjang.
“Oo ya sudah, saya juga mau pulang” Ucap Bu Romlah sambil berlalu.
“Nduk jangan dengerin Bu Romlah ya, gak usah di masukkan ke hati, dia memang begitu orangnya” ucap Ibu setelah kami masuk ke dalam.
“Iya Bu santai aja, Nisa tidak berkecil hati dibilang begitu pasti akan indah pada waktunya kok.” Sahut ku sambil tersenyum ke arah Ibu.
“Kamu itu sangat cantik Lia, gak usah malu berpenampilan begitu, gak usah jadi gak pede karena ucapan Bu Romlah tadi yo Nduk”
Dulu teman- teman ku sering memujiku mereka mengatakan bahwa aku cantik, tapi tak membuat ku menjadi sombong, bahkan banyak kakak tingkat ku yang menitip salam kepada ku waktu kuliah dulu, tapi ku abaikan, dalam kamus ku aku tak akan pacaran jika belum menikah, semoga Allah menjaga ku sampai saat itu tiba.
Ada juga yang mengajak ku menikah tapi ku tolak aku ingin membahagiakan ibu ku dulu dengan gaji ku, aku ingin mengurus ibu ku dulu sebelum aku menikah.
Aku mempunyai kulit kuning Langsat seperti ibu ku, tubuh ku tinggi semampai, alis tebal, hidung ku bangir seperti hidung ayah kata ibu, ada lesung pipi, di pipiku sebelah kanan.
Wajah ku cukup menjual untuk kriteria seorang model, cantik alami, itu kata teman-teman ku. Bahkan salah satu temanku menawarkan untuk menjadi model busana muslim di butik orang tuanya.
Tapi aku tak mau menjual kecantikan ku apa lagi aurat ku hanya demi uang, aku nyaman dengan pakaian ku seperti ini.
Para hidung belang tak pernah berani menggoda ku jika aku sedang berada ditempat umum, biarlah ku jaga untuk ku berikan kepada kekasih halal ku nanti.
Suatu saat Allah pasti mempertemukan ku dengannya, entah siapa, semoga suatu saat Allah mempertemukan ku dengan orang yang mencintaiku karena Allah.
***
Makasih buat yang udah setia baca, jangan lupa like komen dan votenya.
__ADS_1
mohon maaf jika masih banyak typo