Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
26


__ADS_3

perjalanan Hidup tidaklah mudah gunjingan hinaan, dari Tetangga membuat Winda, semakin Tangguh kedua adiknya sudah masuk kuliah di kota kecamatan.


semua hasil jerih payahnya sudah membuahkan hasil, toko buket yang tadinya hanya ber ukuran 4X4 kini sudah dua kali lipat lebih, besar dan Adik sepupunya Ren memajukan keadaan desa dengan membuat jalan selebar tiga meter Sekarang jauh lebih lebar menjadi dua kali lipat. mini market sudah tersedia di kampungnya.


para orang tua yang tadinya hanya bekerja membajak sawah dengan mengandalkan hujan, kini mereka bertani dengan cara hidroponik. semua tidak lepas Dari pengaruh Sinta yang berkuliah dengan jurusan pertanian.


kecintaan akan tempat dia tinggal membuat nya bertekad untuk membuat papa petani lebih berkembang lagi. semua sudah berhasil


pesanan buket tak henti hentinya setiap hari dan pesanan catering pun semakin hari semakin banyak bahkan terkenal hingga ke Kota kecamatan.


walau separuh Kampung itu sudah lebih baik namun tetap saja, Tetangga tidak ada yang berubah dengan sikap dan sifat mereka masing masing. masih ada yang Julit, tukang fitnah, tukang gosip, bahkan tukang nyinyir.


💙💙💙💙


Setelah kejadian Maya yang sering mengambil sesuatu di rumah Winda ataupun Lastri tanpa izin. Sekarang Wanita itu sudah jauh lebih baik lagi, karena para tetangga geram dengan kelakuan mereka melaporkan kelakuan Maya kepada RT.


Saat itu ketika salah satu warga mengadu akan kelakuan Maya, semua orang di kumpulkan di balai desa, gunanya untuk di sidak dan demi kepentingan bersama.


Maya yang merasa malu dan bersalah meminta maaf kepada para warga yang sudah di rugikan oleh kelakuannya. namun sikapnya tak pernah berubah selalu saja pamer.


💙💙💙


pagi ini Andini yang sedang menjemur pakaian di kagetkan dengan suara sumbang milik tetangganya, mengatakan jika pamer dengan membeli kulkas dua pintu para tetangga tak hentinya menggunjingkan Andini, hingga terdengar ke desa sebelah. Winda, yang memang Sahabat sekaligus kerabat Andini, merasa geram dengan ucapan para tetangganya. padahal hanya sebuah kulkas itu wajar karena di zaman modern seperti sekarang kulkas sudah menjadi kebutuhan para ibu rumah tangga. untuk menaruh sayur serta makanan lainnya.


kali ini Winda, tak tinggal diam dengan ucapan Para Tetangganya. dia menelpon Andini.


memberitahukan jika beberapa hari ini sejak Andini, membeli kulkas semua para Tetangga selalu saya membicarakannya.


Ada yang ingin ikut membelinya, dan juga ada yang mengatakan jika kulkas itu hasil credit. Andini tak menghiraukannya semua ucapan para tetangga di Anggap angin lalu oleh-nya.

__ADS_1


sore ini ada Arisan di Tetangga rumah Andini, Rupanya Lastri dan Winda juga mengikuti arisan ini


"Jeng Euis dan Jeng Maya! Ya Allah kalian deket-deket gini pake acara naik motor segala. Tuh motor masih ada segelnya juga, platnya belum dipasang lagi!" ucap Bu Mayang, salah satu teman kami di arisan ini. Mayang juga yang menyindir Meli waktu di tukang sayur seminggu yang lalu.


Kami langsung menoleh ke arah suara. Ibu-ibu peserta arisan juga langsung memperhatikan kami.


"Biarin dong, kan biar ketauan itu masih baru. Eh tau nggak, ini motor tuh kata suamiku 'Limited Edition,' jadi cuma sedikit diproduksinya. Jadi jeng-jeng semua di sini jangan macem-macem sama motor baruku ini."


Tak ku sangka Maya menjawab seperti itu. Selain tukang pamer, mulutnya juga tak bisa ia kendalikan jika sedang marah.


Saat ini semua mata tertuju pada Maya. Andini menunduk, karena merasa agak segan juga dengan ibu-ibu yang lain.


Bu Mayang langsung mendelik, lalu berbisik pada teman sebelahnya. Ia ternyata Bu Ely, salah satu istri pejabat di lingkungan kami. Aku sangat malu dengan kelakuan Maya. Tapi Maya tak ada malu-malunya sama sekali. Ia malah menatap wajah Bu Mayang dengan tajam. Walaupun mereka duduk sebrang- sebrangan, terasa aroma pertengkaran mereka.


"Sudah ... sudah, jangan ada yang bicara lagi. Sekarang kita mulai dulu arisan hari ini. Sebelumnya saya sampaikan bahwa, karena ada saudara kita yang sakit, hari ini kami minta sumbangannya. Tidak dibatasi berapa-berapanya, silahkan masukkan ke kantong ini!"


Acara dibuka, lalu kantong itu pun berjalan mengitari para peserta arisan. Tibalah kantong itu pada Winda dan Lasti, mereka masukkan sejumlah uang tanpa ingin dilihat oleh peserta yang lain.


Aku langsung menelan Saliva ku melihat kelakuan tetanggaku ini. Ibu-ibu yang lain saling berbisik, Maya santai saja dan tertawa lepas.


"Jeng Maya, keren. Masukkan uangnya sampai 500 ribu gitu. Semoga dibalas oleh Allah dengan pahala yang berlipat ganda," ucap Bu Susi yang memperhatikan saat Maya memasukkan uangnya.


'Mamp*s lo, May. Bu Susi komen,' gumamku.


Namun sepertinya Bu Susi mencoba mencairkan suasana dan mengambil nilai positif dari sumbangan yang diberikan Maya.


Lalu Bu Endah menimpali Bu Susi.


"Tapi Jeng, kalau menyumbangnya karena riya' atau pamer, bukannya jadi tak ada pahalanya?" tanya Bu Endah pada Bu Susi.

__ADS_1


"Iya juga sih. Saya juga pernah denger yang begitu," jawabnya. "Atau kita tanyakan langsung ke Bu Ustad saja. Beliau hadir kok," kata Bu Susi.


Aku mencari-cari tempat duduk Bu Ustad. Ternyata beliau duduk di sebelahnya Bu Susi.


Semua menantikan jawaban Bu Ustad. Termasuk aku.


"Baiklah saya akan jelaskan. Sebenarnya untuk shodaqoh itu sangat diperbolehkan. Ada nilai pahala dari setiap pemberian kita. Tapi, memang benar, jika pamer, dapat mengurangi pahala kita. Ada di surat Al Baqarah ayat 262. Coba dibuka suratnya dan baca terjemahannya, Bu!" Bu Ustad meminta Bu Susi membacanya.


"Artinya yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahinya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka."


Bu Ustad menoleh ke Bu Susi, " Terima kasih Bu Susi. Dari ayat tersebut dapat dikatakan pahala akan berkurang bahkan hilang jika kita menyebut-nyebut pemberian kita."


Semua orang menganggukkan kepalanya.


"Tapi, aku kan nggak menyebut-nyebut pemberian yang tadi.


Aku hanya memasukkannya saja, sama seperti kalian." Mila mengelak. Hal itu justru membuatnya semakin jelek.


"Tapi Jeng tadi mengibas-ngibaskan uang itu sebelum memasukkannya. Sungguh itu perbuatan pamer!" Bu Mayang menimpali.


Akhirnya terjadi keributan, banyak kepala berpendapat. Akhirnya arisan dibubarkan oleh Bu Susi.


"Tapi sebelum bubar, kita kocok dulu, ya!" kata Bu Susi. "Yuk, Bu Mayang silahkan dikocok!"


Ibu yang sedang hamil muda itu mengocok dengan perlahan, lalu satu kertas yang dimasukkan dalam sedotan pun keluar.


"Bismillah. Dan pemenangnya adalah ... " Bu Endah menghela nafas kasar. Pandangannya ke arah kami. Ia nampak kesal dengan hasil kocokannya.


"Siapa Bu Endah? Ayolah dibaca!" Bu Susi memintanya segera membaca kertas di tangannya.

__ADS_1


Bu Endah cemberut, ia melempar kertas itu ke Bu Susi. "pemenang Arisan Winda". ucap Bu Susi


__ADS_2