Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Naskah tanpa judul


__ADS_3

"Ok, Mas. Oh iya, jangan panggil saya Ibu, ya? Panggil Lidya aja." Dia mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Setelah berkenalan singkat, Maya kembali menyebrang jalan dan masuk ke dalam rumah sebelum suaminya pulang.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™


malam hari ketika semua orang sedang terlelap, aku masih terbangun dengan merangkai kata. Tak terasa beberapa bulan lagi kedua adik kembar ku akan lulus kuliah, memakan biaya yang tidak sedikit aku harus berjuang mengumpulkan rupiah lagi untuk kelulusan mereka berdua, akhirnya tugas ku sebagai seorang kakak sudah selesai menyekolahkan kedua adikku hingga sarjana.


mereka sudah memiliki gelar tidak seperti aku yang hanya tamatan SMA.


semua kebutuhan kelulusan sudah aku persiapkan, sebuah mobil roda Empat yang sengaja aku beli untuk menunjang bisnis ku, karena sekarang jika berbelanja aku langsung pergi ke kota, suami Lastri, dengan senang hati mengajari mengemudi hingga aku lancar dan memiliki SIM.

__ADS_1


Namun, kendaraan roda empat yang sudah hampir enam bulan yang lalu aku beli, sengaja, sembunyikan di rumahku yang berapa di kecamatan. dan di jaga oleh adik mbak Lastri, yang cowok.


wedding organizer ku sudah berkolaborasi dengan beberapa perias pengantin, dan juga untuk baju pengantin aku kerja sama dengan teman mbak Lastri di kota, setiap bulan baju baju itu akan di tukar dengan yang baru. Aku sendiri sedang belajar merias bahkan mbak Lastri menyarankan untuk aku les make up.


πŸ’™πŸ’™πŸ’™


pukul dua dini hari, sebuah novel sudah selesai, beberapa bab, aku putuskan menjalankan shalat sunah dua rakaat.


mengadukan apa yang aku rasakan. dan tanda syukur atas nikmat yang sekarang aku miliki.


"neng seperti biasanya ya" ucap bapak pengemudi bentor langganan belanja sayur mayur ( lupa namanya ,🀣🀣 author sedikit oleng bestie )

__ADS_1


"iya pak" balas Winda


si bapa, menurunkan semua belanjaan yang di pesan Winda, di teras rumah Bi Maryam, sudah berada di teras rumah membawa semua belanjaan ke dalam warung, tak lama tiga karyawan lainnya datang untuk bekerja.


setelah, semua barang belanja turun pria tua paruh baya itu, bergegas kembali ke jalan untuk mengais Rejeki.


Β tak lama kedua karyawan warung datang untuk memasak, kali ini Winda yang turun tangan memasak opor ayam serta rawon, dan makanan lainnya, Winda benar benar fokus dalam mencari nafkah. semua ia handel dengan baik, kembali ia mendapatkan tawaran dari salah satu plafon kepenulisan untuk sesi tanya jawab melalui daring dan mendapatkan tips.


dengan senang hati ia menerima tawaran itu, kedua adiknya masih butuh biaya yang besar jadi, tanpa rasa lelah ia mencari tambahkan uang


πŸ’™πŸ’™πŸ’™

__ADS_1


siang ini, ada orang dari kota kenakan mbak Lastri, yang akan mengarahkan dan mengajarkan Winda, tentang make up atau lebih tepat guru merias. dengan telaten Winda belajar tata cara ber makeup. bahkan dengan senang hati Saras, sahabat Lastri, di kota mau jauh jauh datang langsung untuk memenuhi panggilan mengajar di kampung. selama satu Minggu ia akan menginap di penginapan, yang berada di kecamatan. sengaja memilih menginap di penginapan agar tidak terjadi fitnah.


tangannya begitu mahir mengaplikasi beberapa make up dan juga begitu sabar mengajarkan ilmunya kepada Winda. butuh waktu yang singkat hanya dalam satu Minggu saja Winda, sudah mendapatkan hasil yang cukup bagus, namun karena belum merasa puas, ia putuskan akan melanjutkan belajar dengan Saras, namun kali ini ia yang pergi ke kota, sekalian berbelanja make up di kota semua yang di butuhkan cukup lengkap dan juga sekalian berjalan jalan. mengajak kedua orang tua serta adiknya.


__ADS_2