
Setelah kejadian kemarin, saat Mbak Rini menitipkan Rafa padaku, akhirnya hari ini aku dan mas Farel bisa datang mengunjungi rumah orang tuaku.
"Assalamualaikum, Bu," imbuhku ketika sampai di ambang pintu.
"Waalaikumsalam, eh ada Winda. Ayo masuk-masuk," ajak Ibu seraya segera menggandeng tangan ku.
"Bagaimana keadaan Ibu dan Ayah? Sehat-sehat saja kan?" tanyaku pada orang yang paling ku kasihi.
"Alhamdulillah kami berdua sehat-sehat saja, Win. Suamimu sehat?" Ibu balik mengajukan pertanyaan serupa.
"Alhamdulillah baik, Bu. Oh ya, Ayah ke mana Bu?" ujarku karena tidak melihat keberadaan Ayah di antara kami.
"Biasa Ayahmu sedang pergi ke sawah, mengecek orang-orang yang sedang menanam padi," jelas beliau.
Kami mengobrol tanpa batas, membahas banyak hal-hal baru juga. Hingga waktu terus berputar dan aku tiba-tiba ingin melakukan yang lainnya.
"Oh ya Bu, bagaimana kalau kita bikin kue?"
"Ayo bikin kue bu, " timpal suamiku dengan penuh semangat.
"Boleh saja, kue apa ya? Nak Far mau kue apa ?" tanya Ibu lembut. Ibuku memang pandai memasak dan tentunya membuat kue-kue yang lezat, bahkan tak kalah dari toko-toko kue terkenal.
"Nastar, bi." Request Mas Farel.
"Boleh, kebetulan bahan-bahannya juga masih ada, karena kemarin ibu juga bikin kue kering."
Alhasil kami berdua membuat kue nastar sesuai keinginan mas Farel. Aku dan Ibu membuat cukup banyak kue, kata Ibu supaya nanti bisa di bawa pulang sekalian.
Lima menit, sepuluh menit dan seterusnya hingga setelah berkutat cukup lama di dapur, kue buatanku dan Ibu akhirnya jadi juga.
"Enak banget." mas Farel menikmati nastar di mulutnya.
"Buatan siapa dulu dong, ibu gitu loh," tutur Ibu, membuat kami terkekeh bersama.
"Iya buatan ibu memang paling enak." Puji Mas Farel, membuat mertua mengembangkan senyum.
"Ini kan juga buatan aku." Aku pura-pura merajuk.
"iya buatan Winda juga hebat kok, Aku sayang kamu." mas Farel coba menghiburku, dia sudah seperti orang besar saja.
Ahh, indah sekali suasana seperti ini, aktivitas yang yang dulu sering aku lakukan bersama ibu, tapi semenjak menikah sudah jarang kami kerjakan. Namun sampai kapanpun seorang Ibu adalah orang yang paling baik di mata anak-anaknya.
💙💙💙💙
Setelah puas berada di rumah Ibu, akhirnya aku dan mas Farel pulang.
Setibanya kami di rumah, aku langsung menyimpan motor di garasi. Dan langsung meletakkan nastar yang kami bawa dari rumah Ibu di atas meja.
"Assalamualaikum, ." Ku Ucapkan salam ketika masuk bersama Mas Farel.
,💙💙💙
"Tadi ada Mbak Rini datang ke sini, Dek." Mas Arsyad berujar, jujur moodku yang tadinya baik berubah sebaliknya.
"Kenapa dia kemari, Mas?"
Mas Arsyad, Adalah kakak sepupunya mas Farel beliau sedang melihat pekerjaan di daerah sini, dan memang saat aku pergi beliau sedang istrahat di rumah ku.
__ADS_1
"Katanya sih cuma mau main sama kamu, berhubung kamu lagi pergi dia pulang. Katanya nanti mau ke sini lagi."
"Main terus tuh orang, lagian pasti dia mau pamer atau minta-minta di sini," balasku, menerka-nerka.
"Jangan gitu Dek. Enggak baik suuzon sama tetangga sendiri." Mas Arsyad menasehatiku. Baik sekali sih kamu, Mas!
"Iya, iya."
"Win, Winda!" Sebuah seruan bergema, pasti Mbak Rini ini dari suaranya. Ada apakah gerangan kali ini?
"Udah buka pintu sana, Dek!" Perintah suamiku.
Dengan langkah malas aku pun berjalan untuk membukakan pintu.
"Lama banget sih, Winda, kayak siput. Kok akhir-akhir ini kamu sering ngunci pintunya?" Selidiknya.
Ya iyalah sering dikunci, biar kamu tidak bisa seenaknya!
"Enggak kok, Mbak. Mungkin perasaan Mbak saja." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Katanya kamu ke rumah Ibumu tadi? Bawa oleh-oleh enggak nih. Bagi dong," pintanya ringan, seringan dedaunan yang digerakkan oleh angin.
"Enggak ada sih, Mbak."
"Enggak mungkin, lawong tadi aku lihat kamu bawa plastik. Pasti makanan kan? Minta dong, jangan dimakan sendiri Win, nggak berkah nanti." Bicaranya enteng, ia juga terus memaksaku.
Aduh nih orang, sudah di kerjain masih aja belum berubah. Kok suka betul sih minta-minta! Sudah kayak pekerjaan!
"Oh itu tadi cuma nastar, Mbak. Untuk Mas Farel makan di rumah titipan dari Ibu," terangku, lagipula dia sudah melihatnya dari tadi.
"Enak itu, Win. Mbak mau nyicip dong, boleh ya." Maniknya nampak berbinar-binar,
Dua menit berselang.
"Ini Mbak, silahkan dicicip."
"Cuma tiga biji, Win?" tanyanya lagi, benar-benar menguji kesabaran.
"Katanya mau nyicip, kalau mau banyak beli Mbak atau bikin saja sendiri." Nada bicaraku agak ketus.
"Hehehe iya," ujarnya tanpa malu, langsung melahap tiga buah nastar sekaligus. Astaga sampai penuh mulutnya.
"Emm ... enak banget, sayangnya cuma sedikit ya, em tapi lebih enak yang di toko-toko kue mewah yang sering aku datangi itu sih," seloroh Mbak Rini sambil cengengesan.
"Sudah dulu ya Mbak, aku capek baru pulang dari rumah Ibu. Aku mau istirahat," pungkasku malas meladeninya, kemudian masuk menuju rumah. Meninggalkan Mbak Rini yang terbengong-bengong, mungkin dia heran karena melihatku sudah tidak bisa dirinya perbuat seenaknya seperti dulu.
"Loh, loh kok gitu sih win. Kamu ngusir Mbak?" tandasnya seketika mendelik tajam, sepertinya dia mulai tersinggung dengan ucapanku.
"Maaf Mbak," jawabku langsung, lalu menutup pintu dengan agak ke-ras.
"DA-SAR TIDAK PUNYA ADAB!" bentaknya yang masih dapat kudengar.
Bukannya dia yang tidak punya adab ya? Masa main ke rumah orang yang baru pulang dari luar sih. Mana minta oleh-oleh lagi, apa dia pikir aku ini baru kembali dari luar kota. Ah sudahlah, pening aku jika harus memikirkannya terus!
💙💙💙
Di tengah teriknya matahari, aku dan Arka akan mengambil buah mangga yang sudah matang di pohonnya. Lumayan untuk camilan siang-siang.
__ADS_1
Arkan ke ponakannya mas Farel, kebetulan sedang berlibur di sini.
Saat sedang asyik-asyiknya memetik buah mangga, "Panen nih, bagi lah sama tetangga."
Suara tersebut sukses mengagetkan aku.
"Rafa, sini! Kamu mau makan mangga enggak!" seru Mbak Rini memanggil anaknya.
"Mau dong, Mi." Anaknya seketika mendekati kami.
Tanpa menunggu lama, Mbak Rini langsung mengupas mangga itu, lalu memakannya bersama Rafa. Padahal aku juga keponakan Ku saja belum makan satu pun.
"Kok duluan sih Mbak," keluhku tak terima.
"Habisnya lama sih, emm manis banget nih. Manisnya sama kayak aku," tuturnya percaya diri sembari terus memasukkan mangga ke mulut.
Sementara aku langsung menyimpan beberapa buah mangga, biar nanti bisa dirasakan juga oleh Mas Farel. Kalau tidak begini, pasti habis dimakan Ibu dan anak itu.
"Loh kok di sisain segini, sedikit banget ini." Protesnya tak terima, melihat hanya tiga mangga yang aku sisakan.
"Cukuplah, Mbak. Winda satu, satu. Dan satunya buat Mbak Rini sama Rafa." Rinciku, sepertinya Mbak Rini kesal mendengar jawabanku.
Aku memang sengaja meninggalkan satu untuk mereka, karena mereka berdua sudah makan tiga mangga sebelumnya.
"Ki-kir kamu, Win" Dia mulai lagi. Dan aku sama sekali tidak menanggapi ucapannya, karena yang penting buahnya sudah aku amankan.
Tak menunggu waktu lama, akhirnya buah mangganya ludes kami makan.
"Duh haus nih." Mbak Rini memegang tenggorokannya.
"Ya minum kalau haus, Mbak." Heran, kalau haus ya minum. Mana ada kalau haus mencuci baju, iya kan?
"Bikinin jus mangga dong, gan Winda, Enak banget tuh." Todongnya padaku, ternyata masih belum puas juga dia makan mangga. Baiklah biar aku bikinkan. Awas saja kalau tidak dia minum sampai tandas!
"Iya boleh, bentar ya Mbak." Senyum penuh makna aku sunggingkan.
Tanpa banyak bicara aku langsung menuju dapur, untuk membuat jus mangga pesanan Mbak Rini.
Lima menit kemudian. Akhirnya selesai juga jusnya, sepertinya kalau ditambahkan sesuatu enak juga nih.
"Nih Mbak jusnya," ujarku sambil menyerahkan gelasnya.
"Cuma segelas Mel? Memangnya kalian tidak mau? Mbak enggak mau bagi-bagi."
"Cuma untuk Mbak kok, Mela enggak mau. Dihabiskan ya Mbak, soalnya spesial," gumamku sembari tersenyum manis.
"Oh, baguslah kalau kayak gitu." Usai berucap wanita di hadapanku itu langsung meneguk jus mangganya.
Dia menyeruput jus itu cukup banyak dan langsung saja dia semburkan.
"Ih kok gini sih, asin banget nih jus!"
"Memang Winda kasih garam kok, biar gurih-gurih nyosss. Lagian enggak banyak cuma lima sendok teh," kataku tersenyum puas.
"Nd*smu gurih, ini tuh bukan keripik g*bl*k!"
"Yang bilang keripik siapa? Jelas-jelas itu jus mangga rasa garam, supaya darah Mbak naik drastis, terus str0ke!"
__ADS_1
Bersambung