Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bahagia Winda


__ADS_3

Aku dan Andini, duduk di salah satu gazebo yang memanjakan mata pemandangan hamparan kebun teh.


Menu makanan yang kita pesan menu khas Sunda. Tak lupa kami mengabari suami masing masing. Untuk ikut makan di sini hehe.


Setelah makan kita ber empat mengelilingi kebun teh. Dan memesan satu villa. Karena malam ini, malam Minggu Mas Farel memutus untuk bakar - bakar di sini. tak lupa juga menghubungi Sinta Santi serta ibu, untuk ikut menikmati makan bersama dan barbeque'an.


 Acara dadakan begitu meriah Anak Andini, berusia dua tahun setengah, tengah lucu - lucunya apapun yang di ucapkan kami para orang tua, dia mengikuti. Kosa kata belum begitu jelas namun sudah dapat di pahami


💙💙💙💙


Minggu pagi kami pulang karena suamiku akan ikut kegiatan bersih bersih di lingkungan tempat tinggal kami, kegiatan rutin setiap bulan yang di gagas oleh pak ketua RT. Tinggal aku di rumah bersama sendiri, sedari pagi badanku Rasanya lemas dan muntah - muntah. mungkin magh kambuh, karena kemarin sedikit telat makan.


aku baru selesai makan dengan lauk sayur sop ayam kesukaan suamiku sambil menonton tayangan sinetron. TibA tiba mbak Rini masuk dari depan, pasti tadi mas Farel lupa menutup pintunya. Eh tapi bisa saja mbak Rini sengaja masuk tanpa izin, tanpa mengucap salam meski pintu rumah tertutup.


“wassalamu'alaikum mbak,” ujarku ketika dia sudah ada di sampingku


 “eh Winda, maaf lupa ngucapin salam kirain kamu di dapur,” ucapnya dengan tanpa rasa bersalah ia sudah duduk di sampingku berselonjor kaki, tak masalah jika kakinya enak di pandang. Dengan santainya ia duduk di dekatku.


“ mba mau apa ke sini?” Tanya ku dengan lembut takut ia tersungging eh salah maksudku tersinggung.


“mau ikut nonton tv” ucapnya seraya memakan camilan yang berada di dalam toples.


“ lah, memang tv mbak kemana” balasku yang sudah mulai sedikit jengkel dengan kelakuan minus tetanggaku.


“ada, aku kira kamu beli tv baru, soalnya aku kemarin liat suami kamu bawa dus tv” ucapnya seraya terus mengisi mulutnya dengan camilan yang sudah sisa setengahnya.dengan perasaan yang jengkel ku ambil toples itu dan menutupnya dengan keras,


“ gak mba itu dus kosong untuk aku memisahkan barang yang sudah tak layak pakai” ucap dengan ber api api, pasalnya jika selalu di layani dengan baik ia tak akan mau cepat pulang. Tensi darah ku bisa terus naik jika menghadapi kelakuan tetangga minus sepertinya. apah lagi sekarang rasanya badanku tak karuan.


Tanpa rasa bersalah, ia hanya tersenyum lalu melihat lihat koleksi tas dan clutch ku yang berada di dalam lemari pajangan, untungnya lemari itu sudah aku kunci rapih agar isinya tak raib di bawa oleh ia.


“ooh bukan tv baru toh? Syukur deh kirain kamu beli baru, eh kamu masak apa aku minta dong”


“ aku ndak masak mbak, tadi beli di mbok Nah, sayur sop satu porsi sudah habis untuk sarapan” mbok Nah, janda ber anak dua keduanya masih membutuhkan biaya untuk sekolah anak anaknya. Lepas di tinggal suaminya kembali ke pangkuan ilahi, ia berjuang lauk nasi matang berkeliling dari rumah ke rumah, kadang jika belum habis ia akan sampai ke Kampung sebelah.


Kekeh sekali iya, ingin tau perihal dus tv yang kosong itu.


“huuh, padahal aku belum sarapan, yaudah aku mau beli juga” lalu dia bangkit dan menuju keluar rumah.

__ADS_1


“ ya sono mbak seharusnya jika masih sanggup beli jangan suka meminta minta,” gumamku pelan seraya membersihkan bekas makan adan membawanya ke dapur gegas mencucinya.


“Winda, aku meminta daun seledriiii”


Huh baru saja sampai halaman di sudah berteriak meminta tanaman seledri. Aku memang hobi menanam sayuran dan bunga serta tanaman hias lainnya, Di halaman rumahku yang lumayan luas dari pada aku tak ada kegiatan.tapi sepertinya sebentar lagi hasil panen sayuranku aka nada yang menganggu.


 Sebaiknya langsung aku petik saja setelah ini, sebelum ,cabai, terong, tomat sawi dll. Berpindah tangan, susah payah aku membawa tanaman kesayangan ini dari rumah sebelumnya. Syukur masih mau tumbuh subur. Si mbak enak saja setiap hari memetik hasil tanamanku . bahkan aku sendiri masih sayang untuk memetiknya. Menunggu benar benar siap untuk di panen, malah duluan tetangga.


💙💙💙


Aku sudah berada di dalam kamar rasanya badanku sudah sedikit membaik setelah bersih bersih dan bersiap-siap untuk ke butik baru saja aku membuka.


Benar saja, pagi sekali dia sudah kembali lagi untuk ini meminta, cabai serta terong


"loh Win cabai kamu pada kemana" Tanya mbak Rini.


"Sudah aku panen semua mbak, dan sudah di bawa ke rumah Ibu, tadi pagi sama Mas Farel cabai sedang mahal mbak, lumayan buat tambah tambah bikin sambal di warung Ibu" Terang Ku.


Mbak Rini, yang tak mendapatkan apa yang ia mau kembali ke rumah dengan menghentakkan kakinya, aku tak peduli, untungnya dia tak menyadari pakaian ku sudah rapih hanya tinggal menunggu gr*b datang.


Sengaja pagi pagi sekali aku sudah menyuruh mas Farel. Membawa cabai dan sayur lainnya untuk Ibu, karena rumah makan Ibu semakin ramai pembeli.


Pagi ini sengaja aku sudah berdandan cantik dan rapih karena harus ke butik. ada barang baru yang masuk serta. Laporan penjualan. Akhirnya setelah butik perpindahan tangan kepada ku tak ada lagi orang - orang. Yang mengganggu usaha butikku ini.bwalau butik ini sudah besar dan memiliki Nama sendiri atas kerja keras ibu mertua Ku. namun ia membebaskan ku untuk mengisi butik dengan barang barang yang lebih terbaru dan terupdate.


Ada beberapa barang hasil aku membuatnya sendiri yang di pajang di manekin baju baju klasik modern yang aku buat. Banyak kalangan sosialita dan anak anak muda menyukainya.


jika dulu butik mamah mertua hanya Menjual baju kalangan kelas atas. Kini butik yang aku pegang sudah mulai menjual baju kalangan Menengah ke bawah serta aneka aksesoris dan tas. Lupa beberapa skincare yang sedang viral, aku sediakan di pojok kanan dekat dengan aksesoris dan tas.


Satu jam berlalu, aku baru sampai di butik baru saja turun dan memasuki ruang butik. Baju terbaru sudah berjajar rapi serta skincare yang sudah banyak kosong di rak. Sedang di isi oleh karyawanku. Tiba - tiba rasanya kepala ku seperti berputar. Aku hampir limbung dan terjatuh untungnya.


Luna, salah satu karyawan berada di dekat ku, ia menahan tubuhku serta memapah ku ke dalam ruang kerja. Mendudukkan aku di sofa.


Aku masih bersandar, kepala ku semakin berdenyut nyeri. Tak hanya itu, tiba tiba rasanya mual sekali, untungnya Tubuh ku sudah kuat untuk di bawa berjalan ke kamar mandi, di ruang kerja pojok sebelah kiri. Aku berjalan dan kembali muntah - Muntah.


Luna, yang baru saja kembali ke ruang kerja dengan segelas air hangat dan teh Hangat. Begitu panik melihat ku muntah.


Gegas ia mengusap tengkuk ku, cukup lama aku mengeluarkan isi dalam perut ku. Dengan sigap Luna, memberikan teh Hangat kepadaku.

__ADS_1


"buk kita coba periksa saja Yuk ke klinik sebelah" bujuk Luna.


Ya,,! Karen aku sedikit susah jika harus di periksa.


Karena badan, ku rasanya sudah lemas, aku hanya mampu menganggukkan kepala.


Gegas Luna, memapah ku kembali.


Kebetulan di sebelah butik, ada klinik Umum, klinik cukup lumayan besar dengan dokternya umum dan dokter spesialis.


Setelah Luna mendapatkan nomor antrian, nomor. satu, aku menunggu di kursi tunggu. Luna dengan senang hati dan setia menemaniku.


Ia dia adalah, salah satu karyawan kepercayaan ku di butik.


"Ibu Winda,?"Panggil salah satu suster


"ayo Bu kita, sudah di panggil" ajak Luna, dia dengan telaten memapah ku kembali.


Kebetulan sekali dokternya, yang jaga dokter perempuan.


"ada keluhan apa?" tanya dokter itu dengan Ramah dan yang aku ketahui bernama Olivia, dari name Tag yang aku baca.


"mual dan pusing Bu, sebelum aku memiliki riwayat penyakit magh" Terang Ku.


"kita periksa, dulu ya buk" jelas dokter cantik berhidung Bangir dengan senyum yang selalu menghiasai bibir mungilnya.


"Iya," gegas aku naik ke atas berangka di bantu oleh suster.


bersambung


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain


💸 sukses setelah Di Hina


🍉 Es kul kul penyambung hidup


🤑 tetangga Unik

__ADS_1


🙃 Tetangga oh Tetangga


💞putih abu abu


__ADS_2