Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Bab 6


__ADS_3

Saat jam istirahat tiba, tak lama si kembar pulang sekolah, dengan senang hati Sinta dan Santi, menolong kedua orang tuanya, membatu menghidangkan pesanan para karyawan pabrik.


Suksesku hasil kerjaku, bukan hasil orang tuaku menjadi anak sulung dari tiga bersaudara, tidaklah mudah apalagi hidup di lingkungan yang memiliki tetangga yang kepo terhadap hidup kita, ada beberapa tetangga yang kepo karena peduli dan juga hanya ada tetangga yang kepo karena ingin tau dan membicarakan kita di belakang. Perjuanganku sekarang tak lepas dari doa orang tua, menjadi seorang penulis dan mengangkat derajat orang tua tak mudah, banyak rintangan yang aku lalui.


Malam hari ketika orang sudah tertidur, di kamarnya masing masing aku masih harus terjaga untuk melanjutkan menulis beberapa bab, semakin banyak tulisan yang aku terbitkan semakin banyak uang masuk ke dalam kantung ku. Seperti mala mini kebetulan sekali, Dini dan Anto kekasihnya Dini datang mengunjungi ku, untuk sekedar bersilaturahmi dan memesan buket untuk lamaran mereka. Tak di Sangka kedua sahabatku akhirnya melanjutkan kehidupan mereka dengan memutuskan untuk segera menikah, ya memang di kampungku usia 21 tahun sudah terbilang perawan tua, karena ke banyakan anak gadis setelah lulus sekolah mereka kebanyakan nikah muda. Ada beberapa teman seangkatanku dulu yang sudah menikah dan memilikI anak, mungkin hanya aku dan Dini yang terlambat menikah, tak jarang tetangga menanyakan perihal kapan akan menikah teman satu kelasmu sudah menikah dan memiliki anak.


“assalamualaikum” ucap DIni, sore hari di depan toko buket


“waalaikumsalam” balas Winda


“hey,akhirnya bos muda keluar juga dari tempat persembunyiannya” ejek Dini kepada Winda.


Tak lama Anto turun dari motor dan membawa kresek putih berisikan jus buah dan seblak.


“jangan di ledekin gitu yang, kasian bos muda kita” ucap Anto

__ADS_1


“gpp yang. Lagian dia kalo gx ada yang beli tau kita ga datang kesini pasti sekarang sedang sibuk dengan dunia halu nya” ucap Dini


“hehe iya, memang benar yang di ucapkan Dini aku kan masih harus menjadi pejuang rupiah” balas Winda


Tak lama mereka asik dengan obrolan yang tidak jelas Tak lupa juga sambil menikmati semangkuk seblak dan jus buah yang di bawa Anto.


"oh iya kedatangan kita ke sini ingin memesan sebuah buket dengan tema Fink blue dan juga ada kotak cincin di tengahnya" ucap Dini


"ok, ada yang lainnya" Tanya Winda


"ok, untuk dekornya mau pakai tema apa atau mau warna apa?, aku ada beberapa contoh Untuk dekor pertunangan" Ucap Winda


"yaudah kita liat contohnya aja" balas Dini dengan antusias


__ADS_1


"bagaimana kalo yang ini Sayang?"Tanya Anto kepada Dini


"boleh bagus tapi aku masih ingin liat yang lainnya" ucap Dini



"nah klo yang ini gimana yang?" Tanya Dini


"boleh yang itu aja yang" balas Anto


"yaudah, dekor yang ini sama buket nya tema Fink dan blue, yang di tengahnya di taruh kotak cincin" ucap Dini memastikan semua pesananya.


"Oke" balas Winda


ternyata di saat mereka asik mengobrol dan memilih beberapa dekor serta buket, di samping Toko di bawah pohon mangga, Bu Euis, Serta dua orang ibu- ibu lainnya yang tak kalah julit, Sedang memerhatikan mereka,

__ADS_1


__ADS_2