Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
bab 16


__ADS_3

Dua bulan kemudian, Anto dan Andini resmi menikah.


Hari ini adalah acara ngunduh mantu. Karena kesibukan keduanya, acara sempat tertunda selama satu bulan. Kami semua berkumpul di rumah besar Bapak untuk pertama kalinya.


Saat aku, Mama, Sarah dan si kembar sedang berada mengobrol, Andini datang dengan membawa kotak hadiah.


"Ini buat Shela sama Sheli. Selamat ulang tahun, ya!"


Adik ipar yang baik bisa mengambil hati mertua dan kedua adik iparnya.


Ah iya, benar juga. Kemarin memang hari ulang tahun keduanya.


"Duh, Mbak Sarah nggak nyiapain apa-apa. Ini aja ya, beli sendiri!"


Sarah menyodorkan empat lembar uang berwarna merah. Masing-masing dua lembar untuk mereka yang masih duduk di bangku SMA itu.


Sementara aku hanya bisa diam ketika Mama, dan si kembar terus menyindir.


"Mbak Naima nggak mau kasih kita?" tanya Shela diikuti anggukan kepala adik kembarnya.


"Mbak mu, yang ini susah melulu! Nggak usah diharapkan," kata Mama pelan, tapi terdengar jelas di telingaku.

__ADS_1


Aku ingin menangis. Ingin pula pergi dari ruangan ini.


"Selamat ulang tahun ya, maaf Mbak belum bisa—" Ucapanku terhenti ketika tangan Sarah mencolek pinggangku dan menyelipkan sesuatu di kantong celanaku. Aku sempat diam mematung karena kaget.


Sarah yang memang duduk di sebelahku memberi kode dengan kerlingan matanya agar aku memberikannya pada si kembar.


"Tas-nya Mbak Naima diluar, ambil dulu gih!" perintah Sarah.


Aku mengerti dan pergi ke depan, lalu membuka lipatan uang kertas yang terlihat asal. Ada lima lembar di sana. Mungkin Sarah mengambilnya dari dompet tanpa menghitung lebih dulu.


Tak terasa air mataku mengalir. Masih ada Sarah yang baik walau aku selalu merasa tersisih di keluarga ini.


"sungguh baik Sarah, semoga Allah membalas kebaikan nya" doaku dalam hati


💙💙💙


sedangkan di rumah Winda, tetangga baru yang beberapa hari lalu sempat memesan buket serta catering untuk pindah rumah beberapa Minggu berada di lingkungan baru kedua orang yang di ketahui salah satunya bernama Yudha dan Dira, sedang membagikan buah Hari ini.


“sombong banget kamu, Rum. Cuman ngasih dua biji aja, ngapain ditiru?” sahut Bu Hamidah geram dengan Bu Rum.


”Tapi tetep aja, anakku yang duluan. Ngapain kalian juga ikut-ikutan sok mau berbagi. Kaliankan pendatang baru, jangan suka cari perhatian warga sini deh.”

__ADS_1


“Bu Rum salah paham, saya tidak meniru Karin, malahan saya yang kasih Anggur itu di jalan sama Karin. Kalau nggak percaya, tanya aja sama dia,” ucap Yudha.


Dira dan Bu Hamidah kaget, apalagi Bu Rum, dia tidak terima.


“Enak aja! Segitunya mau fitnah anak saya, sampai ngaku-ngaku kalau kamu yang ngasih dia, Karin bilang dia beli sendiri, belinya banyak, berkarung-karung nggak kayak kamu. Baru beli beberapa kilo doang, sombongnya minta ampun sampai-sampai mau berbagi. Emangnya dapet darimana kalian uang?


Heh, Rum! Kalau anakmu beli berkarung-karung, ngapain kamu cuman kasih tetangga cuman dua biji, kalau pelit mending nggak usah, itu artinya kamu cuman mau pamer!”


“Saya nggak tahu, Karin benar atau tidak beli Anggurnya berkarung-karung, tapi ketika saya di jalan tadi, saya kasih dia satu kilo.”


“Nah, kamu denger sendirikan, Yudha tidak mungkin bohong, kalau kamu bisa memperlihatkan Anggur yang katanya berkarung-karung ke pada kami semua, baru kami percaya! Benar nggak?” tanya Bu Hamidah pada tetangga yang berpihak pada Bu Rum. Mereka semua hanya ngangguk saja.


“Alah! Saya ini tidak riya seperti dia!”


Bu Rum lantas langsung pergi begitu saja. Dia malu karena faktanya, Karin memang membawa Anggur satu kilo yang entah dapat darimana, ketika ditanya, dia bilang beli. Semua teman-temannya juga langsung pergi karena malu, cuman Bu Hamidah yang kecipratan rezeki Yudha.


“Bukannya ibu mau macem-macem ya, Yudh. Tapi ini semua pasti mahal, apa nggak kebanyakan kalian ngasih segini banyaknya?”


“Nggak, Bu. Anggap aja rezeki buat anak-anak ibu, mereka pasti suka, deh. Alhamdulillah saya mendapatkan rezeki lebih, tidak ada salahnya menuruti keinginan istri saya, saya juga bisa bersedekah sama anak-anak di lapangan.”


“Semoga berkah ya, Yudh. Dan semoga juga kalian segera diberikan momongan, pasti lucu nanti kalau kalian dah punya anak, orang ayah sama ibunya sebaik ini.”

__ADS_1


Dira dan Yudha saling pandang, sudah lama sekali mereka mendambakan anak, mungkin untuk sekarang, Allah belum mengamanatkan mereka untuk memiliki buah hati.


__ADS_2