
Tetap saja, walau Winda berdiam diri di rumah, ada saja Tetangga yang Julit kepadanya.
seperti pagi ini, aneh saja rasanya jika sang tetangga tak julit kepadanya, Saat Winda sendang membantu ibu menyiapkan dagangannya.
mbak Maya, datang menghampirinya dan mengatakan.
"kamu lagi banyak duit ya, perasaan kemarin ada mobil pick up antar barang" ucapnya dengan culas
"oh itu barang bahan bahan untuk buket" balas Winda dengan santai
"oh Kirain kamu belanja barang barang untuk kebutuhan dapur," ucap mbak Maya.
Winda, tak menanggapi ia gegas pergi ke tokonya membuka toko dan kembali melanjutkan membuat beberapa buket untuk stok.
Setelah selesai membuat buket, iseng Winda, membuka aplikasi untuk menulis novel. Selesai menulis Winda, Winda membuka aplikasi berwarna biru berlogo huruf F. ternyata saat ia sedang asik melihat berandanya. muncul sebuah iklan berjualan di Marketplace berwarna Oren. gegas Winda, mengklik dan memilih beberapa gamis untuk dia ibu dan kedua adiknya. serta pakaian pria untuk bapa dan yang bekerja dengannya. tak lupa bi Maryam, pun di belikan sebuah gamis dan kerudung.
selesai, memesan Rupanya barang akan di kirim nanti sore, kemungkinan besok pagi akan sampai.
Winda, Tersenyum dengan bangga karena kehidupannya jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.
💙💙💙
sore hari anak Sulung bi Maryam sudah pulang dari merantau, ia membagikan oleh oleh kepada sanak saudaranya. namun di bawah pohon mangga berkumpul Maya dan Ibu ibu lainnya sedang bergosip. tak sengaja kupingku mendengar ucapan dari Bu Euis.
"Pulang-pulang hamil, pasti jual diri dia tuh!" ucap Bu Euis
"Kasihan orang tuanya, udah tua ngurusin beban keluarga pula sekarang! jawab Maya
"Ngeri banget ya anak zaman sekarang, amit-amit sampe kena anakku. Bisa kena bala kita kalo ada orang yang berzina kayak dia itu." ucap seorang ibu lainnya
"Ih, bikin jijik aja, ya." ucap Bu Maya
"Ceritanya doang merantau, eh pulang-pulang malah berbadan dua. Nggak ada kabar nikahnya lagi!"
Lastri, tak menanggapi ucapan mereka, masih sibuk bercengkrama dengan Winda dan si kembar di halaman rumah.
"Nak, sudah masuk saja ke dalam rumah. Jangan di luar, lihatlah tetangga semuanya membiarkanmu." bude tiba-tiba datang dan memegang bahuku.
"Biarkan saja, Bude, lagipula mereka tak tahu kehidupan Lastri yang sebenarnya. Terserah mereka saja mengatakan Lastri, menjual diri di kota. Yang terpenting sekarang, Lastri mempunyai suami. Itu saja."
"Ibu hanya tidak mau mentalmu down, Nak, karena omongan-omongan mereka yang tidak tahu diri itu. Sudah ayo masuk, bapakmu juga menyuruhmu masuk ke dalam rumah." Mau tak mau aku mengikuti ucapan Ibu Ningsih.
"Dih! Ga tau malu, ya, udah disindir terang-terangan juga masih berani nunjukin muka di depan kita!" kata Bu Euis tetangga sebelah rumah kami.
"Nurun ibunya mungkin, kan dulu ibunya merebut pak Somad dari Bu Sanah."
"Sudah Ibu-ibu, lagipula sekarang saya juga pemenangnya. Bu Maryam kan miskin, pas lah itu nikah sama Pak Saipul yang juga miskin!" Ucapan Bu Sanah otomatis membuatku berbalik menghadap mereka. Lalu mengambil selang air dan menyemprotkan ke wajah mereka satu persatu.
"Dengar baik-baik ya ibu-ibu yang dirahmati Allah, saya sudah bersuami dan saya tidak pernah menjual diri. Dan satu lagi, jangan pernah menyebut ibu saya sebagai wanita perebut, karena pada kenyataannya suami Bu Sanah lah yang sampai saat ini masih tak bisa move on dari Ibu saya."
"Heh, anak kurang ajar! Berani kamu sama saya, ya, saya sumpahin kamu mati bersama dengan bayimu?!" teriak Bu Sanah. Tiba-tiba Ibu berjalan mendekatinya dan ....
__ADS_1
Plak!
"Jaga mulutmu, Sanah! Selama ini aku hanya diam kamu mengataiku, tapi jika itu menyangkut anak dan cucuku jangan kamu kira aku akan diam saja."
"Kamu!"
"Lihat saja, aku akan membuat kamu masuk ke dalam penjara!" kata Bu Sanah dengan wajah yang memerah.
"Aku juga akan membuatmu mendekam di balik jeruji, Bu, bersama dengan teman-temanmu itu karena fitnah yang kalian sebarkan?!"
"Silakan saja, kami tidak takut memang kenyataannya kan kamu jual diri, tiba-tiba pulang langsung hamil."
Aku tertawa menatap mereka dengan tajam.
"Sekali lagi aku tekankan pada kalian, aku punya suami?!" kataku penuh dengan penegasan. Mereka semua masih mengataiku yang bukan-bukan.
Tiba-tiba tak berapa lama terlihat mobil p4j3r0 berwarna hitam mendekat ke arah kami.
Tin!
Bunyi klakson menghentikan perdebatan yang terjadi.
Lalu keluarlah pria yang selama ini ku nantikan, dia Mas Ren suamiku. Ia baru saja pulang dari berlayar. Bukan main senangnya hatiku, saat akhirnya bisa menutup mulut-mulut jahat mereka saat mengataiku.
"Mas Ren," panggilku lalu berjalan mendekatinya.
Mas Ren lalu mendekat dan memelukku dengan erat, lalu ia mengusap perutku dan menciuminya berkali-kali.
Dasar ibu-ibu rempong dalam batin aku berkata.
"Tetanggamu kenapa? Kok langsung pada pulang?" tanya Ren pada Lastri.
"Biasalah, Mas, ibu-ibu rempong yang kerjaannya ngegosipin aku," jawab Lastri sambil terkekeh, walau sebenarnya dia masih sakit hati dengan perkataan yang dilontarkan ibu-ibu tadi.
"Ngegosipin apa, Sayang? Memangnya kamu berbuat apa sampai mereka gosipin kamu?" tanya Ren yang tak mengerti akar permasalahan sang istri.
"Mereka bilang aku jual diri, karena kelamaan merantau dan pulang-pulang berbadan dua begini. Padahal dulu, kata Ibu saat mereka diundang untuk datang. Mereka bilang Ibu kebanyakan halu, terlalu berharap mempunyai menantu orang kota."
"Emang orang miskin kayak kamu ga pantas mendapatkan takdir yang baik ya, Mas?"
"Saat! Kamu ngomong apa sih, Sayang, sudah jangan terlalu dipikirkan nanti berimbas ke baby kita. Biarkan saja mereka berkata apa? Yang terpenting sekarang kamu tidak seperti apa yang mereka katakan."
"Dari sekian banyaknya orang yang tidak menyukaimu, lebih banyak yang suka padamu termasuk aku. Tetaplah berbuat baik, Sayang, salah atau benar nanti pasti akan ditunjukkan kenyataannya." Ren menasehati Lastri yang terlihat begitu sensitif.
"Tadi aja mereka baru selesai ngatain aku, Mas. Dan untung saja kamu akhirnya pulang juga. Kamu jadi penyelamat aku dari mereka-mereka yang hampir membuatku down," kata Lastri, sambil memegang lengan kekar milik suaminya.
"Sudah ya, sekarang sudah ada aku. Aku nggak akan biarin mereka ngata-ngatain kamu dan juga Ayah dan Ibu," kata Ren lalu membawa istrinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Jadi, Mas nggak bakalan berlayar lagi?" tanya Nirmala pada Ren. Karena Ren kemarin-kemarin sudah mengatakan bahwa dia tak akan pergi berlayar lagi.
"Enggak, Sayang, aku bakalan lebih banyak punya waktu di rumah sama kamu. Mama sama Papa minta aku untuk mengurus perusahaan, soalnya ga ada lagi yang bisa diharap selain aku," ujar Ren.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku senang deh, Mas, akhirnya kita bisa berkumpul bersama-sama. Selain itu juga, baby utun pasti senang ayahnya akan bersamanya saat dia lahir nanti," ujar Lastr,i, merasa begitu gembira mendengar kabar yang disampaikan suaminya.
***
Sambil menunggu Ren selesai mandi, Lastri ingin membantu Winda menyiapkan makanan di meja, tapi dilarang karena dia sedang hamil besar.
Asih lalu memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh yang mendera dirinya.
Ting!
Tiba-tiba ada satu pesan masuk dari nomor asing.
[Simpan nomor saya, ya, Bu Sanah.]
Nirmala menghela napasnya, tak ada niatan dalam dirinya untuk membalas pesan tersebut.
Ting! Lagi, pesan masuk dari nomor asing yang mengaku sebagai Bu Sanah.
[Jangan sombong kamu, Lastri. Kalo kamu mati nanti, tetangga juga yang akan mengurus jasadmu.]
Deg!
"Apa-apaan Bu Sanah ini, enak saja kalo ngomong. Tidak ada letak etikanya sama sekali." Lastri menggerutu.
[Kamu jadi pelakor ya, Lastri. Pakai pelet apa kamu sampai bisa dapat yang bening begitu?]
Belum sempat membalas, Bu Sanah kembali mengirimkan pesan pada Nirmala.
[Maaf ya, Bu lebih hati-hati dengan jarinya, sudah mulut yang tajam sekarang jari. Jangan terlalu banyak memfitnah orang lain, Bu. Nanti jasad Ibu ditolak oleh bumi. Lagipula dulu kan sudah saya kirimkan undangan tapi Ibu yang tak datang setelah saya pulang Ibu malah memfitnah saya yang bukan-bukan,] balas Nirmala dengan rasa dongkol dalam hati.
[Biasanya orang-orang kayak Bu Sanah ini, orang-orang yang dipenuhi rasa iri. Dan rasa iri itu muncul karena tak mampu menyaingi!]
💙💙💙💙
gosip tidak jelas tentang Lastri, menjadi guru hara tersendiri, ia memutuskan tak mendengarkannya.
ke esok paginya paket yang di pesan Winda, sudah tiba dengan senang hati Winda menerima paket itu.
Rupanya, Maya melihat dengan semangat 45 Maya menghampiri sebuah paket yang cukup besar yang di terima Winda. dengan cuka Maya bertanya.
"ngutang paket apa lagi kamu" tanya Maya
"maaf mbak Maya, Kakak sepupu saya tidak mungkin berhutang" ucap Lastri dengan tegas.
"eh Lastri, aku ga tanya sampa kamu, seenaknya saja menjawab" ucap Maya
"bebas dong mau saya jawab atau tidaknya, mulut saya mulut saya yang jawab" ucap Lastri tak kalah emosi
"Lastri, sudah cukup ingat kandungan kamu, ga baik ibu hamil marah marah" ucap Winda dengan lembut.
"dan untuk mbak Maya, ini paket bunga untuk aku berjualan" balas Winda, sengaja Winda berbohong karena ia tak mau di anggap suka pamer.
__ADS_1
bersambung