Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
38


__ADS_3

Wajah mama Ragil masih belum bisa tenang, sebenarnya agak kasihan melihatnya tapi kalau ingat tuduhan demi tuduhan yang ia berikan rasa kasihanku padanya tak bertahan lama.


Tiba-tiba Bu RT mengalihkan perhatian kami dengan memberikan informasi ajakan bagi yang bersedia untuk ikut menjenguk ketua RW yang sedang sakit.


Saat Bu RT sedang memberikan informasi itu, kulihat Bu Candra yang duduk disebelah mama Ragil bisik-bisik padanya.


Entah apa yang dibisikin oleh Bu Nia hanya saja perubahan wajah mama Ragil persekian detik berubah, dari yang tadinya gembira jadi berwajah masam.


Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaan Bu Nia sebagai rentenir ditempat tinggalku.


Iya, Bu Nia dan suaminya ini adalah salah satu warga yang bisa dibilang kaya, profesinya sebagai rentenir sudah sangat terkenal ditempat tinggalku, konon katanya anak buahnya menjalankan pekerjaannya bukan ditempat tinggalku tapi ditempat lain, mungkin karena disini warga tidak ada yang mau minjam padanya, itu yang aku tahu.


“Mama Ragil yang pinjam uang itu bukan mba Andini tapi saya, yang waktu itu di warung sembako kan?” ujar Bu Nia setelah Bu RT selesai memberikan informasi.


“Tuh kan benar ada yang hutang sama saya tapi saya lupa, oh ternyata Bu Nia ya?”


“Iya mama Ragil, maaf ya, ini saya bayar hutangnya.”


Bu Nia menyerahkan uang sebesar lima puluh ribu dari dompetnya yang berwarna merah itu.


Aku ga percaya kalau Bu Nia berhutang pada mama Ragil, dan tau ga, tak hanya aku sepertinya yang tidak percaya tapi beberapa ibu-ibu yang lainpun ada yang berbisik-bisik dengan wajah tak percaya juga.


Bisa jadi yang diobrolkan oleh Bu Nia dan mama Ragil ya ini, berarti mama Ragil berhutang pada Bu nia, berapa nominal yang harus ia bayarkan nanti, aduh ngeri kalau mama Ragil ga bisa langsung bayar, yang tadinya lima puluh ribu bisa-bisa berubah jadi lima ratus ribu.


Tapi ah sudahlah biarkan saja lagipula aku tadi tidak bisa membantu mama Ragil membayarkan arisannya.


Akhirnya arisan berjalan kembali seperti biasa, sebelum arisan dikocok, Bu RT sebagai orang yang mendapatkan arisan dibulan lalu mengeluarkan snacknya untuk ibu-ibu arisan.


Snack yang diletakkan diatas piring rotan beralaskan kertas nasi itu di taruh didepan ibu-ibu yang sedang duduk.


Ditempat aku, bude Karni dan Bu Husna ada dua buah piring yang masing-masing piringnya berisi penuh tiga jenis kue, kalau tempat aku duduk kita itu makan biasa saja sambil berbincang-bincang, tapi ada keributan ditempat mama Ragil.


Tau ga apa yang diributkan oleh bude Tuti yang duduk disebelah mama Ragil.


“Mama Ragil makanannya jangan langsung dibungkus nanti saja bungkusnya, itu untuk kita makan disini dulu.”

__ADS_1


Begitu kata bude Tuti, saat aku lihat ke arah mereka memang tampak mama Ragil sedang memasuki kue-kue itu kedalam plastik kecil yang ada diselipkan kue.


“Tapi kan memang ini untuk saya kan?”


“Kata siapa, ini tuh untuk kita bertiga, ada jatahnya Bu Nia juga di piring itu “ jelas Bude Tuti.


Aku langsung melihat ke arah Bu RT sebagai penyedia Snack, pasti Bu RT jadi tidak enak. Soalnya suara Bu Tuti yang kencang seperti biasanya akan mengundang perhatian orang-orang, dan benar saja bukan, ibu-ibu yang hadir ada yang tertawa dan ada juga yang berusaha menenangkan bude Tuti.


“Ya sudah biarkan saja jika mama Ragil mau membungkus sendiri kuenya.” Ujar Bu nia tiba-tiba.


Dan tentu saja membuat mama Ragil jadi senang mendengar ucapan Bu nia.


“Bu Nia sama saya saja ini kita sepiring berdua saja.” Ajak Bu Tuti kemudian sambil memandang sebal kearah mama Ragil.


Terus tau ga, mama Ragil mah cuek aja tuh dengan pandangan bude Tuti yang tidak suka dengan sikap mama Ragil.


Aku sendiri juga tak mau ambil pusing, aku, bude Karni dan Bu Husna kembali berbincang-bincang santai tak membahas sama sekali apa yang terjadi tadi.


Ibu-ibu siap-siap ya kita mau ngocok arisan nih, yang dapat nanti boleh ketempatan diaula ini atau dirumahnya sendiri, ucap Bu RT membuat kami langsung kembali fokus ke kocokan yang dipegang oleh Bu RT.


“Mbak Andini!” Ucap Bu RT dengan kencang.


aku begitu senang ketika namaku yang disebut. aku lantas kedepan menemui Bu Ela meminta uang arisan dan menandatangani buku catatan kalau dia sudah dapat arisan.


Sedangkan ibu-ibu yang lain, mulai membagi makanan dipiting tadi dan membungkus masing-masing, selesai mengambil yang arisan Aku membagi rata kue itu dengan bude Karni dan Bu Husna.


Akhirnya satu persatu ibu-ibu berpamitan dan mulai pulang begitu juga dengan aku, bude Karni dan Bu Husna.


Winda dan Mbak Lastri sudah pulang terlebih dahulu karena akan ada mertua mbak Lastri.


“Mba Andini tunggu dong!” teriak mama Ragil.


Akhirnya aku dan bude Karni menunggu mama Ragil sedangkan Bu Husna berpamitan untuk pulang lebih dulu.


“Haduh buru-buru bener mba Andini pulangnya, ga sabar ya mau shopping terus makan kue arisannya.”

__ADS_1


“Ga tuh biasa saja, karena kue kami, kami bagi tuk bertiga ga ada yang nyimpen untuk diri sendiri.” Jawabku sambil melirik ke arah bude Karni, bude Karni menahan tawanya dengan kain kerudungnya.


“Mba Andini nyindir saya, ya?”


“Ngerasa atau ga, kalau ga ya baguslah.” Ujarku sambil terus melanjutkan jalan.


“Eh mbak Adinu...”


Belum sempat mama Ragil berbicara panjang lebar, terdengar suara Bu Nia memanggil mama Ragil.


“Duh mama Ragil gimana sih, tadi kan saya bilang tunggu saya pulang, malah langsung lari, ?” pinta Bu Nia dengan emosi pada mama Ragil.


gegas Aku dan bude Karni berjalan terlebih dahulu, seperti Bu Nia sedang adu mulut dengan Mamah Ragil. dan tak mau ambil pusing dari pada ujung aku yang kena.


Setelah sampai rumah, gegas aku mengambil tas dan mengirim pesan kepada mas Anto.


{mas, aku ke rumah Ibu, mau minta antar bapa ke bank untuk setor uang tadi kita yang dapat arisan. }


send pesan Terkirim


Aku berjalan, dengan terburu buru, sebelum mamah Ragil pulang ke rumahnya, karena firasat ku mengatakan ia akan meminjam uang.


bapak, yang sudah tau jika aku akan minta antar keluar rupanya sedang menuju rumah ku tepat di depan rumah Mamah Ragil kami bertemu.


gegas aku naik ke roda dua milik bapak, dan langsung tancap gas ke kecamatan.


bapak, yang paham dengan gelagat ku tak banyak Bertanya.


ia tancap gas Dengan cepat. benar saja saat aku melihat di kaca spion mamah Ragil berbelok ke pagar rumahku, karena melihat di gembok ia berjalan lagi ke rumahnya. untungnya dia tidak melihat aku sudah lebih dahulu mengendarai roda dua.


,💙💙💙💙


mohon maaf lahir dan batin author & keluarga


maaf juga ga bisa up tiap hari sekarang baru bisa up lagi 🤩🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2