
“Keliatannya barangmu mahal-mahal semua. Dapet om-om mana, Win?" Winda yang sedari tadi diam sambil memilih sayur langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan itu.
Kalimat tanya yang keluar mulut ibu-ibu ber daster yang ia ketahui bernama Bu Euis itu berhasil membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Semua yang sedang berbelanja seketika menatapnya, seolah Winda adalah pelaku kejahatan.
Entah apa maksud Bu Euis bertanya seperti itu dengan sangat percaya diri sekali, seolah wanita itu tahu tentang kehidupan Winda. Padahal, Winda tak pernah punya masalah dengannya. Bahkan, untuk bertemu dengan para tetangganya pun ia rasa ini yang paling lama, karena Winda selalu menghindari mereka jika tidak terlalu penting.
Semua masih menatap Nanar Winda yang masih terdiam karena kaget dengan pertanyaan yang baru ia dengar, kecuali penjual sayur yang acuh, dan audah merasa merasa bosan dengan pembicaraan seperti.
“Ibu-ibu kenapa pada ngeliatin, sih. Kan kasian si Winda jadi malu, karena kedoknya kebongkar,” tambah Bu Rum sambil menahan tawanya dengan sengaja. Ia keliatan puas sekali sudah membuat Winda sebagai bahan julidnya pagi ini.
Winda menghela napasnya berat, jika bukan karena bahan bumbu yang habis di warung rasanya ia malas sekali untuk datang dan berbelanja di sini. Biasanya gadis itu berbelanja di pasar yang terletak agak jauh dari sini, namun ia sangat lelah jika harua pergi ke sana dan juga akan memakan wakti.
__ADS_1
“Jangan suuzan gitu, Bu Rum,” ucap Bu Tama tanpa melihat Bu Tum. Wanita itu kembali memilah sayuran yang ada di hadapannya
Sekilas melirik ke arah Bu Tama. Menurutnya Bu Tama lah yang paling berbeda dari ibu-ibu yang ada di sini, terlihat baik, sopan, dan bersahaja.
Ada beberapa orang yang membenarkan ucapan Bu Tama, Namun ada juga yang tidak, mereka masih terus melikir sinis ke arah Winda.
“Suuzan gimana? Sekarang memang apa pekerjaan dia? Dan pekerjaan apa yang pulang sampai jam 2 pagi kalau bukan jadi simpenan suami orang? Lihat aja penampilannya tuh!"
Lagi-lagi pertanyaan itu membuat semua melirik ke arah Winda. Mereka berbisik-bisik dengan tatapan seolah sedang mencemoohnya. Sedangkan Bu Tama hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Bu Rum.
Winda masih diam, walau sebenarnya ia sudah sedari tadi ingin merauk mulut Bu Rum dengan tangannya sendiri. Bisa-bisa wanita itu bicara seenak jidat di depan banyak orang. Namun, Winda ingin tau siapa di antara mereka yang kelakuannya sama dengan Bu Rum.
__ADS_1
“Emangnya Bu Rum tau dari mana? Siapa tau aja salahkan?” Orang yang menatap Winda itu bertanya.
"Taulah, orang semalem itu suami saya ronda, terus ngeliat ada mobil mau parkir di depan rumahnya si Winda, diikuti deh sama bapak-bapak yang lain juga, eh nggak taunya dia sendiri yang keluar dari mobil," jelas Bu Rum dengan nada penyesalan.
Winda tahu apa yang ada dipikiran Bu Rum pada saat itu. Wanita itu pasti berharap ada om-om tua genit, atau kakek-kakek yang haus belain keluar dari mobil itu bersamanya. Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi.
“Eh, tapi bener loh pertanyaan Bu Rum. Pekerjaan apaan yang kaya gitu, udah gitu duitnya banyak lagi. Liat, deh! Hp-nya si Vania itu kan keluaran terbaru, belum lagi dia mana mau kan belanja di tempat kaya gini, biasanya aja di supermarket, sekarang aja sok-sokan ke sini,” tanya seorang ibu-ibu lagi yang kelakuannya sama seperti Bu Rum
Mendengar itu Bu Rum seperti tersenyum puas karena mendapatkan pendukung yang membenarkan nya.
mereka terus saja memojokkan Winda, baik Bu Rum ataupun Bu Euis, tidak ada yang tau jika Usaha Wedding organizer, Winda sedang ramai pesanan bahkan ada beberapa orang yang hanya memesan lewat aplikasi berlogo gagang telpon.
__ADS_1
wajar, saja jika Winda pulang malam karena menemani karyawan untuk memasang dekor, atau melepas dekor karena semua alat alat dekor, di taruh di kota kecamatan, beberapa hari yang lalu di saat Winda mendapatkan reward juara 2 dari menulis novel. uang yang tadinya akan di gunakan untuk membeli tanah atau sawah, untuk membangun usaha perkebunan hidroponik. ia gunakan dulu untuk membeli sebuah Rumah yang cukup luas untuk menaruh alat alat serta barang. ada sebagian di taruh di rumah, hanya saja yang di rumah tenda kecil dan dekorasi kecil. sedangkan untuk alat alat yang lebih besar ia taruh di rumahnya yang berada di kota kecamatan.
selesai berbelanja gegas Winda pergi pulang ia tak menghiraukannya, "liat saja nanti akan aku tunjukkan siapa Diriku sebenarnya" batin Winda.