Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
lanjut partt


__ADS_3

"Maksudnya apa ya, Bu?" Dia malah bertanya balik, aku menautkan kedua alis.


"Maksud saya, kulkasnya berapa cicilan perbulannya?" Aku ulangi pertanyaanku, agar si sok kaya ini bisa paham.


"Hhmm, Alhamdulillah saya beli cash, Bu," mataku refleks melotot, karena rasa yang tak percaya akan ucapannya. Dasar tukang bohong.


"Emang suaminya Mbak Vina kerja dimana? Kok aneh ya, hari gini masih bisa beli alat elektronik cash. Padahal jaman sekarang kan kebanyakan orang belinya dengan cara kredit dan jarang yang cash," ucapku lagi karena masih tak percaya.


"Suami saya cuma karyawan biasa, Bu," jawab Vina.


"Bisalah Mbak Lidya, asal ada niat saja untuk beli cash, mungkin Mbak Vina nabung dulu sebelumnya," Bu Wati pun ikut menjawab, dan seolah malah membela Vina. Hati ini semakin kesal jadinya, karena aku jadi merasa terpojok dengan kata-kataku sendiri.


Aku hanya mencebikkan bibir dan kemudian pergi tanpa pamit dengan mereka berdua. Betapa kesalnya hati ini saat melihat si tetangga baru itu selalu membeli peralatan-peralatan baru. Sebelumnya dia juga sudah membeli kasur baru dan aku melihatnya juga.

__ADS_1


Semenjak dia tinggal disini, memang sering sekali aku melihat Vina membeli barang-barang secara online. Terkadang dalam sehari, bisa dua sampai tiga kali para kurir yang datang bolak-balik untuk mengantarkan paket ke rumahnya. Dan hal itu membuatku semakin penasaran akan pekerjaan suaminya.


💙💙💙


"Mak, aku lapar! Ambil nasi buruan," pinta Suamiku saat baru saja pulang dari tempat kerjanya. Aku mencebikkan bibir, malas.


Segera ku langkahkan kaki menuju dapur, dan mengambil nasi beserta lauknya dengan malas-malasan. Hatiku terus saja memikirkan pekerjaan suami si tetangga baru itu. Penasaran, kenapa mereka bisa be belian terus, dan hampir setiap hari.


"Loh, kok lauknya cuma ini doang, Mak?" Tanya Suamiku, sambil mengerutkan keningnya.


Suamiku hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Tapi, aku bilang ke para tetangga kalau suamiku bekerja sebagai karyawan swasta. Malu kalau sampai mereka tahu yang sebenarnya. Oleh karena itu, aku selalu menyuruh suamiku berpakaian rapi setiap berangkat kerja.


💙💙💙

__ADS_1


Hari sudah mau menjelang malam. Sebentar lagi waktu maghrib juga akan tiba. Dari kejauhan aku melihat suami tetanggaku itu sudah pulang dari tempat bekerjanya.


Eh, tapi nanti dulu, kok dia malah jalan kaki ya? Nggak naik motor gitu? Perasaan tadi pagi dia berangkat kerja bawa motor deh, apa motornya dijual ya? Buat beli kulkas, hahaha. Seketika hatiku bersorak kegirangan.


Saat ini, si suami tetanggaku itu berjalan semakin dekat ke arah rumahnya. Dan aku pun buru-buru menghampirinya.


"Baru pulang, Mas?" Tegurku, saat dia sudah hampir mau memasuki pintu pagar.


"Eh, iya nih, Bu," jawabnya sambil tersenyum manis. Membuatku semakin mengaguminya.


"Kenalin, nama saya Lidya," ucapku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan si ganteng.


"Saya Rasya, Bu. Saya permisi dulu ya?" Dia membalas jabatan tanganku, aku pun jadi senyam senyum sendiri, sangking senangnya.

__ADS_1


"Ok, Mas. Oh iya, jangan panggil saya Ibu, ya? Panggil Lidya aja." Dia mengangguk dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2