
Suara adzan subuh berkumandang aku segera bangun untuk menunaikan panggilan Rab-ku.
Kulihat ibu sudah berada di dapur bangun dari tadi. Ahhh ibu Lia tak pernah kesiangan bangun pagi, ibu Lia benar-benar wanita tangguh yang hebat, selalu bangun pagi dan menyiapkan sarapan walau di rumah sudah Ada Art.
"mungkin kehidupan di masa lalu yang membuat nya tetap hidup sederhana seperti sekarang" gimana Sinta
Jika dulu masih berjualan ibu akan bangun jam 03:00 WIB, jika orang lain masih tidur ibu sudah sibuk di dapur, membuat adonan kue untuk di jajakan dari rumah ke rumah. ya aku tau semuanya dari cerita beliau.
“Lo ... Sinta Ibu pikir belum bangun, baru aja Ibu mau membangunkanmu.”
“Sudah Bu, Sinta udah bangun pas dengar suara adzan tadi.”
“Yo wes ibu shalat duluan yo Nduk.” Ku jawab pertanyaan ibu dengan anggukan.
Sebelum shalat subuh, aku shalat sunat qabliyah subuh dulu kemudian shalat subuh dilanjutkan membaca alma’surat ( zikir pagi sore) yang setiap hari ku amalkan.
Setelah itu ku hadiahkan surah Yasin untuk orang orang yang lebih dulu telah berpulang, semoga bisa menjadi penolong, penerang dan penyejuk di alam barzah sana.
Beberapa hari yang lalu aku masih bekerja di salah satu kampus swasta sebagai operator, dengan gaji yang tidak begitu tinggi.
Tapi sekarang sudah resign karena gajinya tidak sesuai dengan pekerjaan yang sangat berat dan tanggung jawab yang sangat besar.
Jadi, sementara menunggu panggilan kerja aku, mencoba menawarkan beberapa jualan pakaian trifshop milik kak Winda.
Dan untungnya aku masih punya tabungan untuk beberapa bulan ke depan, motor matic bekas yang selalu menemani sejak kuliah juga ku dapatkan dari menabung sedikit demi sedikit.
Kulihat Ibu sedang menungguku untuk sarapan bersama, aku duduk di samping lb Lia, orang yang menjadi pengganti orang tua ku selama berada di kota, Rupanya Bu Lia, pop membuat kan nasi goreng dengan laut telur ceplok ditemani teh manis.
“Ini sudah satu minggu setelah wawancara, apa belum ada panggilan kerja Nduk dari tempat kamu melamar pekerjaan itu,” Ibu Lia membuka percakapan.
“Astaghfirullahal a’dzim ... Sinta lupa, gak pernah cek email Sinta Bu, lagian selama ini Sinta tak pernah membuka laptop.” Ucapku sambil menepuk jidat.
“Untung ibu ingatkan Sin, siapa tau itu rejeki kamu.”
“Amin ... nanti setelah sarapan Sinta, cek Bu.”
Setelah sarapan, ku sempatkan untuk shalat dhuha sebelum melihat email, tak lupa ku hadiahkan surah Al Fatihah untuk Almarhum mendianf suaminya Bu Lia.
__ADS_1
Ku buka laptop, berharap ada email masuk dari salah satu perusahaan yang ku kirimkan surat lamaran.
Bismillah ... ada kotak masuk yang belum ku baca, langsung ku buka dan ...
“Ya Allah, Alhamdulillah wa syukurillah aku diterima kerja.”
“Ibu, Ibu, Ibu!.”
“Ada apa to Nduk bikin kaget Ibu aja.” Ibu tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Ibu aku diterima kerja Bu, aku diterima kerja.” Ucap ku girang sambil memeluk ibu.
“Alhamdulillah, ya Allah Engkau mengabulkan do’a ku,” Ibu mengucapkan syukur netranya mengembun.
“Alhamdulillah Bu, makasih do’a nya, tanpa restu darimu apalah arti hidup ini Bu.” Sekali lagi aku memeluk ibu.
“Yo wes segera balas emailnya dulu.”
“iya, iya Bu ... .”
Aku segera kembali ke laptop, ku baca sekali lagi email yang dikirim kan oleh PT. Jaya konstruksi tersebut, serasa tak percaya aku di panggil bekerja untuk jabatan sekretaris.
Aaahh berpikir positif saja, mungkin pemimpin perusahaannya punya istri yang cemburuan atau posesif, mungkin CEOnya shaleh atau bisa jadi CEO nya sudah tua, entahlah yang penting aku diterima dulu, mungkin ini rezekiku dan ibu.
Segera aku mengkonfirmasi email tersebut, untuk menandatangani kontrak di bagian HRD hari senin nanti.
Hari ini sabtu, minggu, Senin, wah lusa untung saja ibu segera mengingatkan kalau saja tidak mungkin bisa batal mendapatkan pekerjaan, mana dapat nya susah lagi.
💙💙💙
Pagi ini aku bangun pagi sekali, bukan untuk membuat setatus berjuang jualan online tapi hari ini aku akan menandatangani kontrak kerja sebagai sekretaris.
Setelah shalat subuh aku membantu ibu di dapur membuat sarapan.
“Cah Ayu ... Ibu semangat sekali hari ini.” Kata Ibu menoleh ke arahku yang baru muncul ke dapur.
“Iya ni Bu, kok Sintaa jadi deg-degan ya, perusahaan nya besar lo Bu semoga bos nya baik, kok Sinta jadi takut sendiri.”
__ADS_1
“Tenang to Nduk, ini kan baru penandatanganan kontrak belum bekerja, serahkan semua pada Allah, insyaallah Anak Ibu bisa.”
ya Bu Lia, sudah menganggap jika Sinta, adalah anaknya juga
“Makasih Ibu ku sayang, Ibu bisa aja bikin hatiku tenang” ku cium pipi ibu seperti balita yang baru diberikan mainan oleh ibunya.
Aku memang sangat dekat dengan ibu Lia, dari awal tingga di sini hanya ibu yang aku punya, apa pun ku ceritakan kepadanya.
Kulirik jam tangan pukul 06:35 WIB emmm semoga saja tidak terkena macet.
Setelah Salim pada Ibu dan mengucap salam, bismillah ... aku berangkat ke kantor, ciee rupanya aku sudah punya kantor hehe.
Ku salip mobil yang berjalan agak lambat, agar tiba di kantor lebih cepat.
Setibanya di kantor langsung menuju resepsionis dahulu, karena aku tidak tau dimana letak ruang Human Resource Departemen (HRD), ku lirik bet nama respsionis cantik itu.
“Pagi mbak Lisa,” Sapa ku ramah.
“Pagi ada yang bisa kami bantu?”
“Ruang HRD dimana ya mbak?”
“Ohhh mbak OB baru yang kemarin itu ya? Selamat ya diterima kerja disini,” ucapnya memberi selamat.
“Iya mbak,” dari pada panjang mending di di iyakan saja, toh OB juga pekerjaan yang halal.
“Tuh kan bener OB, kemarin mbak bilang interview sekretaris, mana mungkin kayak mbak jadi sekretaris di perusahaan ini.”
“Ehemm, Mbak Lisa jadi ruang HRDnya dimana?"
“Oh iya di lantai dua Mbak, trus mbak belok ke kanan.”
“Terimakasih Mbak.”
“Kembali.” Ucap resepsionis singkat.
***
__ADS_1
Terimakasih buat yang sudah suka ceritanya dana mohon maaf masih banyak kurang nya. jangan lupa like dan vote ya Kaka