
Hari ini di kampung Sejahtera kedatang tetangga baru, tepat di samping rumah Andini,
Padahal Andini sangat senang dengan tetangganya yang dulu tinggal disebelah rumah itu sebelum ia menjual rumahnya. Tapi karena suaminya sudah di PHK akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke kampung saja.
Nah yang sekarang menempati rumah tetanggaku itu, dia pasangan suami istri yang baru memiliki anak batita, usia anaknya kurang lebih dua setengah tahun begitu katanya.
Yang bikin aku sebal itu hampir setiap hari dia datang ke rumahku, ga nanggung-nanggung dia datang dari pagi sampai siang hari baru pulang, katanya bosan dirumah ga ngapa-ngapain.
Lah dia ga ngapa-ngapain terserah dia, tapi buatku itu ketika suami sudah berangkat kerja itu artinya jam kerjaku dirumah sebagai ibu rumah tangga baru dimulai.
Rutinitasku jadi terganggu, biasanya jam sebelas aku sudah selesai bebenah dan masak. Tapi karena kedatangan tetanggaku itu, aku jadi baru mulai masaknya setelah tetanggaku itu pulang.
Mungkin kalau untuk bebenah rumah terkadang masih bisa aku lakukan sambil mendengar celotehnya tetanggaku itu, tapi tentu saja tidak bisa full bebenah seperti hari-hari biasanya.
Kalau untuk masak, kini aku sengaja masaknya nanti setelah tetanggaku pulang, bukannya kenapa-kenapa hanya saja dulu setiap aku selesai masak, dia akan meminta masakanku dengan alasan dia sangat menyukai masakan yang aku masak dan jadi teringat dengan masakan ibunya.
“Mba Andini, hari ini mau masak apa?” tanya mama Ragil.
Ini menjadi awal dia mulai minta masakan yang aku masak.
“Mau masak opor ayam, kebetulan tadi Mas Anto sebelum berangkat kerja pesan minta di masakin opor ayam buat makan siang nanti.”
“Oh begitu ya.”
Aku pun mulai masak, aku memang tak menaruh curiga saat aku bilang akan masak, dan dia mengikuti aku juga sampai ke dapur dan terus mengajak aku berbincang walaupun aku agak risih dengan sikapnya.
“Hmm bau wangi opor masakan mba Andini mirip dengan masakan ibu saya, jadi kangen sama masakan ibu.” Ujarnya saat masakanku sudah matang.
“Emang iya ya?”
“Iya, mba Andini boleh ga aku minta dua potong saja ayamnya, untuk pengobat rindu.”
Inilah awal muasal ia mulai minta masakanku, jujur saja aku hanya berpikiran, bahwa ini adalah fase yang berat untuknya karena ia harus tinggal jauh dari ibunya, jadi wajar jika ia rindu akan masakan ibunya.
__ADS_1
Kejadian ini terus saja berulang setiap hari, ada saja yang ia katakan tentang masakanku, yang membuat dia pulang dengan semangkok sayuran yang aku masak dan lauknya. Sampai suatu ketika aku dengar dari tukang sayur langgananku.
“Mba, mamanya Ragil sering mba kasih masakan ya?” tanya mbok Nah tukang jualan yang sering aku datangi dan menjadi langganan aku dan juga para tetanggaku.
“Kasih masakan?” tanyaku lagi heran.
“Iya mba kasih masakan, karena dia kalau saya tawarin belanja sayur dia pasti akan bilang, kalau setiap hari dapat masakan dari mba, jadi ga perlu masak, bisa ngirit pengeluaran, katanya”
“Hah, dia bilang begitu?”
“Iya mba.”
“Emang bener ya, mba suka ngasih masakan ke dia?”
“Bukannya ngasih, tapi dia sendiri yang sering minta.” Ujarku berusaha menjelaskan.
Memang tidak ada kewajiban untukku menjelaskan pada mbok Nah, tapi aku tidak enak dengan tetangga lain yang sedang belanja juga, kesannya aku hanya mau memberi makanan ke dia, sedangkan tetangga yang rumahnya dekat denganku tidak hanya dia.
“Oh jadi dia suka minta masakan?”
Sejak saat itu aku kapok masak pas dia masih main di rumahku, konon katanya masakanku itu mengingatkan dia dengan masakan ibunya, makanya aku mengijinkan setiap dia minta masakanku, aku pikirkan sebagai pengobat rindu akan orangtuanya, eh tapi ternyata malah aku di manfaatin.
“Mba, ga masak?” tanya mama Ragil tempo hari saat pertama kalinya dia datang dan saat aku mulai tidak masak.
“Ga, saya lagi malas masak.” Ujarku sesantai mungkin.
“Oh.”
Aku langsung perhatikan nih wajahnya mama Ragil, keliatan banget tuh kalau dia kecewa karena aku ga masak.
Sesekali dia melihat ke arah jam dinding diruang tamuku, jam sudah menunjukkan diangka sebelas siang.
Sebenarnya aku pribadi paling malas masak kalau terlalu siang, hawa panas cuaca siang hari membuat aku merasa lemas.
__ADS_1
‘mudah-mudahan saja langsung pulang.’ Doaku dalam hati.
Akhirnya dia pulang juga saat jam sudah menunjukkan di angka sebelas lima belas. Mama Ragil langsung mengangkat Ragil yang sedang asyik memberantakan mainan milik anakku.
Ketika dia pulang, aku lihat dia berjalan terburu-buru ke rumahnya, gegas aku tak membuang kesempatan untuk menutup pintu dan mengunci pintu rumahku agar ia tak datang kembali.
Aku biarkan saja dahulu mainan keponakanku yang berserakan diruang tamu, biasanya semua mainan ini untuk anak anak kakak ipar yang sengaja main ke rumahku, aku berjalan dengan terburu-buru kedapur dan mengambil bahan masakan dari kulkas seperti bayam, telor, sambal goreng sisa kemarin, dan tak ketinggalan tempe.
Seperti orang yang dikejar-kejar oleh waktu, aku masak tanpa bisa santai sedikitpun, kalau biasanya masak pagi aku mengerjakan bisa sambil sesekali menscroll media sosial atau berbincang santai dengan mama Ragil tapi kini aku benar-benar fokus masak, sebelum Mas Anto pulang nanti untuk makan siang aku harus sudah selesai masak.
Esoknya saat aku belanja sayur lagi ditempat mbok Nah, mbok Nah langsung cerita padaku, seperti seorang ajudan yang memberikan laporan pada atasannya.
“Mba, kemarin mama Ragil belanja sayur siang-siang.”
“Oh ya, lama dia belanjanya mbok?”
“Ga mba, belanjanya sebentar, udah gitu buru-buru juga dia belanjanya, beli tempe sama kangkung dan bumbu-bumbu lain, kayaknya mau numis kangkung.”
“Iya mbok bisa jadi.”
“Mba, berarti dia udah ga minta masakan lagi ya?” tanya Bu Ela yang sedang berbelanja juga.
“Iya.” Aku jawab saja seperti itu sambil tersenyum, aku tak mau bilang kalau aku masaknya siang, kuatir akan sampai ke telinganya dan dia akan terus menungguku sampai aku masak.
“Kemarin itu saat mama Ragil mau bayar belanjaan dia minta saya untuk buru-buru ngasih uang kembaliannya.”
“Loh memangnya kenapa?”
“Katanya keburu suaminya pulang untuk makan siang.”
Oh pantes saja dia kemarin pulangnya buru-buru sekali, rupanya selama ini dia minta masakanku tak cukup sayur dan minta lauknya juga untuk makan siang dia bersama suaminya.
Pintar sekali tetangga baruku itu, mau makan kenyang tapi ga mau ngeluarin uang. Tabungan dia bertambah sedang jatah untukku menabung jadi berkurang, karena aku harus belanja agak banyak setiap harinya.
__ADS_1
bersambung.