Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
Gaya elit ekonomi Sulit


__ADS_3

Semua mata tertuju padaku dan suamiku, banyak teman bisnis dari mas Farel dan kedua orang tuanya, serta teman teman bapak dan ibu selama, mereka berdua merintis usaha rumah makan. dan usaha perkebunan. Sahabat si kembar pun ikut membaur dengan uang lainnya. Menikmati hidangan yang tersedia dan ber foto di tempat yang sudah di sediakan. Semua berjalan meriah dan mewah, di saat semua orang selesai mengucapkan kata selamat, tak lama kedua mertua ku naik ke atas pelaminan, seraya mengucapkan sebuah kejutan untukku.


"Baik, hari ini dan di tempat ini. Saya akan memperkenalkan pemilik baru dari hotel, butik, salon kecantikan, dan garment yang pernah saya rintis. Dia adalah Winda desmaya, menantu kesayangan yang kini berdiri di hadapan kalian ini akan menggantikan saya melanjutkan semua bisnis itu. Mulai hari ini, semua usaha yang masih dalam kendali saya akan saya serahkan padanya." Aku terpaku, benarkah apa yang ku dengar barusan?


Ku lihat suamiku dan papah mertua, mereka tersenyum dan mengangguk yakin.


Kini mataku memandang haru wajah wanita paruh baya yang menjadi sosok ibu kedua bagiku, beliau tersenyum hangat. Senyum yang selalu membuatku betah berlama lama menatap wajahnya, tangannya terulur meraih jemariku. Sejurus kemudian kami berpelukan, saling menyalurkan kasih sayang. Di sini, di depan semua mata dan awak media yang menyaksikan. Aku dan mamah mertua mematahkan rumor tentang peran mertua julid dan menantu jahat, mungkin di luar sana ada. Tapi tidak dalam kisah hidupku. Faktanya kami, mertua dan menantu bisa saling menyayangi seperti ibu dan anak kandung. Semoga setelah mengetahui kisahku ini, akan lebih banyak lagi orang yang memiliki hubungan baik dengan mertua dan menantunya.


💙💙💙


setelah satu bulan berlaku acara pernikahan sekaligus resepsi, aku di boyong suamiku untuk tinggal di kota kecamatan, lebih ramai dari desa Temon aku tinggal dan bisa memantau semua usaha yang mertua ku amanat kan untukku.


Pagi ini Aku berencana akan pergi ke pasar untuk membeli sayur-sayuran. Bumbu-bumbu dapur juga sudah pada habis. Bagaimana tidak cepat habis, lawong Mbak Rini selalu minta ke sini.


Hari ini aku pergi sendirian ke pasar., jadi lebih tenang meninggalkan rumah kebetulan Mas Farel sedang libur kerja.


Saat aku tengah berjibaku mengeluarkan sepeda motor dari garasi, Mbak Rini lewat depan rumahku. Haduh, dia ini selalu muncul di waktu yang tidak tepat.


"Eh, mau kemana kamu, Win?" Kini dirinya berdiri di depanku.


"Ke Pasar Mbak," jawabku singkat.


"Pasti mau belanja banyak nih."


"Enggak juga sih, Mbak. Cuma mau beli sayuran sama bumbu-bumbu dapur aja," ucapku sembari men-starter motor maticku.


"Eh, tunggu, tunggu. Buru-buru amat sih Win, kayak yang mau belanja ke luar negeri aja, kamu kan cuma ke pasar becek itu! Oh ya, kebetulan kamu mau ke Pasar, Mbak nitip ya Win."


Duh nitip apaan lagi sih dia, nitip-nitip mulu kerjaannya.


"Mbak ini nitip terus, Winda bukan tempat penitipan!" tegas ku dengan raut wajah berbeda, tanda tak senang.


"Kamu tenang aja, Win, nggak banyak kok, cuma ayam se-kg sama ikan mujair se-kg."


"Uangnya mana?" tanyaku cepat, sebelum ia berhasil melarikan diri. Jangan sampai nitip-nitip, tapi nggak punya duitnya!


"Pakai uang kamu dulu ya, Win. Nanti pasti Mbak balikin kok, kamu nggak usah cemas," selorohnya sambil tersenyum, aku tahu kalau sudah begini pasti ujung-ujungnya tidak akan dia bayar.


"Ya sudah, Mbak. Winda pergi dulu," pamitku padanya seraya tersenyum penuh makna, tanpa menunggu jawabannya aku langsung tancap gas.


Lima belas menit kutempuh.


Aku sampai di pasar, bergegas aku membeli semua kebutuhan dapur yang sudah habis. Lalu bagaimana dengan pesanan Mbak Rini, dibelikan takutnya enggak bayar, enggak dibelikan nanti dia bikin kegaduhan lagi.

__ADS_1


Aha, aku punya ide yang bagus!


Setelah berkeliling pasar cukup lama, akhirnya semua barang-barang sudah terbeli semua.


∞


Saat ini aku sudah pulang dari pasar, sekarang kami bertiga tengah menikmati sate padang yang aku beli tadi. Winda dan Mas Farel nampaknya sangat lahap. Sate ini memang terkenal sangat enak, kami adalah salah satu pelanggan setianya.


Semua barang-barang yang aku beli sudah dimasukkan ke dalam tempatnya masing-masing. Tinggal pesanan Mbak Rini yang belum aku antarkan.


"Winda, ke rumah Mbak Rini ya Mas," pamitku pada Mas Farel yang sedang menonton televisi.


"Iya, Dek. hati hati ?"


💙💙💙


Setibanya di sana aku langsung mengetuk pintu rumahnya.


"Assalamualaikum, Mbak. Mbak Rini!" Aku berseru dengan suara sedikit ke-ras, takut dia tidak kedengaran.


"Walaikumsalam, sebentar! Siapa sih siang-siang gini, ganggu saja!" sahutnya dari dalam rumah.


"Eh kamu toh, Win. Kenapa?"


"Ini Mbak, titipannya. Masa lupa sih," balasku, menyodorkan bungkusan plastik tersebut.


"Eh iya, ya. Lupa aku, Winda. Kok ringan ya, Mel. Padahal kan seharusnya beratnya dua kilogram," imbuhnya mengambil bungkusan plastik itu. Kemudian, menimbang-nimbangnya.


Satu, dua dan ... dia langsung membuka bungkusan plastik tersebut. Taraa, kejutan ....


"Hah?" Mbak Rini terbengong-bengong, aku pun ingin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajahnya.


"Ada apa toh, Mbak Rini?"


"Kok isinya tempe sama terong sih, Mel. Kamu salah beli ini! Mbak kan maunya Ayam se-kg sama ikan mujair se-kg. Kok bisa berubah jauh gini sih? Enggak mungkinkan kalau di Pasar tidak ada yang jual ayam dan ikan? Kamu jangan main-main dong!" cicitnya panjang lebar ketika membuka isi kantong plastik tersebut.


Haha, rasain kamu Mbak! Mau makan enak kok, enggak mau ngasih duitnya. Enak saja mau pakai uangku. Sorry ya!


"Mela enggak salah kok, Mbak. Mela memang sengaja belikan Mbak tempe sama terong, soalnya murah. Tempe sama terong kan dapat lumayan banyak kalau beli sepuluh ribu. Ini buktinya bisa Mbak masak sampai dua hari ke depan. Sudah Mbak enggak usah bayar, Winda ikhlas dunia akhirat kok." Aku tersenyum penuh kemenangan sebelum meninggalkan rumahnya. Emang enak! Makan tuh tempe sama terong.


Dapat kudengar Mbak Rini memaki-maki aku dari rumahnya. Biarkan sajalah, untuk apa dilawan. Menghabiskan waktu dan energi saja!


∞

__ADS_1


Sudah dua hari ini, Mbak Rini mendiamkan aku. Ketika kami bertemu pun dia tidak ada saling sapa, maupun sekedar senyum. Biarlah, terserah dia saja. Lagian juga tidak ada untungnya buatku pribadi.


"Kok tumben Mbak Rini, enggak main ke sini Dek? Biasanya betah bener itu orang di sini." Mas Farel bertanya saat kami berdua sedang duduk di teras ditemani teh hangat. Sedangkan Arka ada di kamarnya, terlelap tidur.


"Enggak tau juga sih, Mas. Tapi syukur deh kalau dia enggak ke sini lagi. Yang ada nanti habis isi rumah kita dimintanya, kalau bertandang kemari terus," tuturku padanya.


"Hush enggak boleh gitu Dek, tapi ada benarnya juga ya." Ucapannya sontak membuat kami berdua terkekeh.


"Sebenarnya dia kesel kali sama aku, Mas."


"Kesal kenapa, yang ada kita kali yang kesal sama dia," cetus suamiku sambil cengengesan. Tapi memang betul, kok Mbak Rini yang ma-rah coba, seharusnya aku yang bersikap seperti itu. Ini kok kebalikannya!


Akhirnya aku pun menceritakan tentang kejadian dua hari yang lalu pada Mas Arsyad.


"Tumben kamu berani, Dek. Biasanya enggak tegaan terus sama tuh orang."


"Habisnya aku udah sebel banget sama dia."


"Jangan gitu Dek, nanti kamu disumpahi sama dia. Mbak Rini kan mulutnya pedas, kaya bon cabe level tiga puluh," imbuhnya, " Tapi Mas dukung kamu, Dek. Basmi dia dari rumah ini, bila perlu musnahkan dari muka bumi ini! Terus mau dikemanakan ya, Dek?" tambahnya, membuat kami berdua kompak tertawa ngakak. Mana kutahu mau dikemanain, dijadikan makanan b u a y a aja kali, eh.


∞


Ketika aku sedang menyiram tanaman yang ada di halaman. Tiba-tiba saja, Mbak Rini mendatangiku. Wah, kenapa nih? Apa dia mau balas dendam atau mau menyumpahi aku seperti kata Mas Farel Aku jadi bertanya-tanya dalam hati.


"Lagi nyiram bunga, Win." Dia berucap, bertanya seperti biasa, padahal kan sudah tahu lagi nyiram bunga, masih ditanya.


Sabar, sabar.


"Eh iya nih, Mbak Rini."


"Win, Mbak minta garam dong, di rumah lagi habis nih. Mau ke supermarket panas, mau ke warung kok jauh, lagian nggak level juga mau ke warung kecil gitu. Badan Mbak bisa gatal-gatal nanti karena banyak kuman bakteri, ih ji-jik," ungkapnya tak berselang lama. Ia nampak bergidik ngeri, da-sar tetangga sok paling kaya!


Halah gayanya tinggi sekali, bilang saja mau yang gratisan! Ini nih, biasanya gaya elit, ekonomi sulit.


"Mbak tunggu di sini, biar Wind yang ngambil." Kuperingati dia karena takut kalau dia masuk rumahku lagi. Bisa-bisa kosong nanti rumahku diangkutnya.


Akhirnya aku mengambil garam secukupnya, kemudian memberikannya pada Mbak Rini.


"Ini, Mbak." Segera bungkusan kecil garam berpindah tangan.


"Sedikit banget, Mel. Jangan kamu borong semua dong sifat pe-lit, ki-kir bin me-dit. Nanti kalau ada apa-apa sama kamu dan keluargamu, gimana? Pasti aku yang pertamakali akan nolongin!" semburnya, sembari berlalu dengan wajah cemberut, tanpa mengucapkan terima kasih lagi.


Apa katanya tadi? Dia yang nolongin aku? Yang ada aku yang selalu nolongin dia!

__ADS_1


"TERSERAH KAMU, MBAK! AKU NGGAK PEDULI!!!"


__ADS_2