Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
naskah tanpa judul


__ADS_3

Gegas aku naik ke roda dua milik bapak, dan langsung tancap gas ke kecamatan.


bapak, yang paham dengan gelagat ku tak banyak Bertanya.


ia tancap gas Dengan cepat. benar saja saat aku melihat di kaca spion mamah Ragil berbelok ke pagar rumahku, karena melihat di gembok ia berjalan lagi ke rumahnya. untungnya dia tidak melihat aku sudah lebih dahulu mengendarai roda dua.


sampai di kecamatan Andini mengantri, untungnya hanya menunggu dua antrian lagi. selesai urusan di bank. Andini meminta di antar ke toko buah buahan terlengkap di kecamatan. jarak dari rumah ke kecamatan hanya dua kilo meter.


selesai semua belanjaan Andini, dia tak pulang ke rumahnya memainkan ikut dengan bapaknya ke rumah orang tuanya.


menikmati waktu bercengkrama bersama ibu dan bapak, waktu yang sudah jarang mereka lakukan karena kesibukan masing masing. Andini sebagai seorang istri, dan orang tua Andini yang selalu mengisi waktu luang dengan berkebun.


perihal orang tua ku yang akan pergi umroh, tetap masih bisa berangkat insya Allah nanti dua bulan lagi mereka berangkat umrah.


setiap aku berada di rumah Ibu rasanya nyaman sekali selalu ada nasehat yang membuat aku berpikir lebih jernih lagi.


"nduk, tetaplah menjadi orang sabar karena sabar buahnya manis sekali" ucap ibu di kala aku merenung sendiri.


"iya buk" balas ku


Rupanya ibu tau dengan apa yang sedang aku hadapi, walau aku tak pernah bercerita kepada beliau mungkin beliau tau dari para tetangga yang lain, atau ada orang yang sengaja mengadukan kepada ibu, perihal mamah Ragil yang semakin hari semakin menjadi.


💙💙💙💙


Tak lelah bagi para orang tua Winda selalu memberikan nasehat untuk anak. anaknya Melalui nasihat tersebut diharapkan anak bisa menyerapnya dengan baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Karena kita tentunya tidak tahu seberapa lama orang tua bisa terus berada di samping anak-anaknya. Sehingga dengan memberikan nasihat, orang tua telah meninggalkan hal-hal baik untuk sang anak.


Nasihat itu bisa disampaikan oleh ayah, ibu, atau bisa juga secara bersamaan. Di mana kesemua nasihat yang mereka berikan tentu untuk kebaikan kamu agar kamu tetap melangkah di jalur yang benar.

__ADS_1


seperti sekarang mereka berkumpul untuk memberi nasehat kepada anak anaknya.


"Teruslah tersenyum, karena hidup itu indah dan ada banyak hal yang bisa disyukuri.” ucap ayah Winda


ketiga anaknya mengangguk dengan mantap.


obrolan demi obrolan memenuhi ruang depan suara canda tawa mereka, membuat yang melihat merasakan kebahagiaan keluarga kecil mereka.


"Dan satu lagi, ini terutama untuk Winda, bapak tau usia Winda, tidak muda lagi bahkan banyak orang yang selalu menganggu kamu dengan ucapannya. kamu cukup cuek Sangat sulit untuk menyuruh orang julid diam, sehingga cara yang paling efektif mengabaikan komentar buruknya." ucap Ibu Winda.


"iya ibu" balas Winda


"Memang mengabaikan suara miring sulit, lakukan cara ini secara perlahan. Jangan biarkan omongannya masuk ke perasaan dan buat sakit hati." nasehat ibu.


"betul betul betul " ucap sinta dan Santi bersamaan, menirukan sebuah kartun si kembar yang ber kepala botak


💙💙💙


Ada tetangga baru yang ngontrak di depan rumah .Maya , hanya menyebrang jalan saja berdekatan dengan pohon mangga, yang biasanya ibu ibu gunakan untuk berkumpul dan ngobrol.


"Eh-eh Bu, itu si Vina beli kulkas baru, ya?" Tanya Maya, pada Bu Wati--tetangga sebelah rumah.


"Iya kayaknya. Dia kan emang belum punya kulkas, makanya baru beli sekarang kali," Bu Wati menjawab santai.


"Alaahh, sombong banget! Orang ngontrak aja kok ya banyak gaya, palingan juga cuma kulkas kreditan, huh." Cercaku saat melihat kulkas baru tersebut sedang diturunkan dari mobil box. Betapa panasnya hati ini saat melihat tetangga baruku itu membeli kulkas baru.


"Ya Udah toh, mau kredit atau cash juga bukan urusan kita," ucap Bu Wati sok bener, bikin aku tambah panas hati.

__ADS_1


Semenjak kedatangan si tetangga baru itu, hidupku memang berubah jadi repot. Repot perhatiin si tetangga itu tentunya.


Sudah sekitar satu bulan yang lalu, mereka semua pindah ke kampung ini. Mereka mengontrak sebuah rumah petakan dan berada tepat di depan rumahku.


Tetangga baruku itu adalah sepasang suami istri, mereka mempunyai dua orang anak yang masih kecil-kecil. Semenjak kedatangan keluarga baru itu, entah mengapa diri ini menjadi penasaran dengan kehidupan mereka.


Vina nama tetangga baruku itu, dia sosok yang cukup ramah dan juga bisa dibilang dermawan. Cuma, entah kenapa rasanya hati ini malah benci saat melihat sikapnya yang sok baik pada semua orang. Aku berpikir mungkin saja karena dia tetangga baru, makanya dia baik-baik orang-orang di daerah sini, agar masyarakat sini jadi respect sama dia.


"Lihat kesana yuk, Bu!" Ajak ku pada Bu Wati, karena hati ini semakin penasaran kalau nggak mencari tahu sendiri tentang kulkas yang baru saja Vina beli. Kira-kira dia belinya cash apa kredit ya? Penasaran kan?


"Ya Udah deh, ayuk." Dan akhirnya kami pun berjalan bersisian untuk segera menuju ke rumah Vina.


Kini kami berdua sudah sampai di depan rumah Vina. Aku melihat kalau Vina sedang menandatangani sebuah nota pembelian. Mungkin aja itu tanda tangan untuk cicilan kredit kulkas barunya.


"Ehm , kulkas baru nih," sapaku pada Vina dengan senyum yang ku paksakan, padahal dalam hati panas sekali.


"Iya, Bu. Alhamdulillah baru bisa kebeli," jawabnya sok merendah.


"Alhamdulillah ya Mbak Vina, semoga kulkasnya bawa manfaat, Aamiin," ucap Bu Wati menimpali.


"Aamiin Yaa Rabbal all aamiin. Terima kasih, Bu Wati," jawabnya lagi sambil melemparkan senyum yang entah kenapa membuat aku eneg.


"Oh iya, ngomong-ngomong, berapa sebulannya Mbak?" Tanyaku kepo.


"Maksudnya apa ya, Bu?" Dia malah bertanya balik, aku menautkan kedua alis.


"Maksud saya, kulkasnya berapa cicilan perbulannya?" Aku ulangi pertanyaanku, agar si sok kaya ini bisa paham.

__ADS_1


"Hhmm, Alhamdulillah saya beli cash, Bu," mataku refleks melotot, karena rasa yang tak percaya akan ucapannya. Dasar tukang bohong.


__ADS_2