Tetangga Oh Tetangga

Tetangga Oh Tetangga
8. Ada udang di balik bakwan


__ADS_3

Ada perusahaan yang memang menerima barang sisa ekspor dan impor. Yang di jual lagi. Walau barang bekas namun masih bagus terkadang Winda, beruntung menemukan barang ball yang hampir seluruh isinya layak pakai. bahkan masih ada yang terbungkus plastiknya dengan rapih. Terkadang ketika sedang menyuruh karyawan mencuci pakaian dan menyetrikanya lagi supaya terlihat rapi, tak jarang dari karyawannya menemukan uang.


Pagi ini Matahari pagi bersinar dengan garangnya, padahal baru pukul 7 pagi sudah membuatku gerah.


Bumi ini semakin panas saja, akibat pemanasan global yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.


Efek rumah kaca, karbondioksida dari asap kendaraan dan pabrik, pembakaran hutan, pemakaian pendingin ruangan menyebabkan lapisan ozon semakin menipis sehingga bumi kita menjadi semakin panas, semua itu karena ulah manusia yang tidak mau menjaga alam ini bahkan merusaknya.


Aku segera mandi, hari minggu ini aku bisa bersantai di rumah bersama kak Santi dan ibu serta merawat bunga-bungaku dan memantau para pekerja di rumah makan Ibu,yang sudah tak terawat lagi karena terlalu sibuk bekerja.


“Nduk ... tolong ke warung Teh Diah, belikan keperluan dapur sudah pada habis.” Titah ibu.


“Baik Bu, Sinta pakai jilbab dulu.”


Ku kenakan jilbab instan lebarku, tubuhku terasa segar setelah mandi.


Jalanan yang ku lewati sudah ramai, sebagian besar di dominasi oleh anak-anak, mungkin karena hari ini hari minggu, dimanfaatkan anak-anak untuk bermain.


Warung Teh Diah terlihat ramai pengunjung pagi ini.


Setelah sampai ke warung Teh Diah, aku segera membeli kebutuhan sehari-hari.


“Teh Diah ... beli minyak satu kilo, telur satu kilo sama gula satu kilo.”


Teh Diah segera mengambil pesananku dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Ku lihat ada Bu Romlah dan Tuti anaknya sedang berbisik-bisik, sembari melihat ke arahku, aku hanya diam saja.


“ Ada lagi Neng?” Tanya Teh Diah.


“Tepung satu kilo, sabun cuci piring, garam, Emm apa lagi ya?”


“Nisa borong Kayaknya tuh?” Tiba-tiba Bu Romlah menyapaku.


“Eh Bu Romlah, cuman beli kebutuhan dapur aja.”


“Kayaknya udah gajian ni? Emang gajinya gede ya? Ehh ibu-ibu Sinta udah jadi sekretaris lo, udah kerja kantoran dia.” Bu Romlah memberi penekanan pada kata kantoran kesannya seperti mengolok-olokku.


“Alhamdulillah Neng, Teteh ikut seneng, pantes Neng Sinta jarang kelihatan di rumah baru aja tadi teteh mau nanya.” Ucap Teh Diah tulus.


“Selamat ya Sin.” Ucap ibu-ibu yang lain memberi selamat.


Aku hanya mengangguk.


“Emang kantor apaan sih Sin? palingan juga kantor-katoran.” Sela Tuti.


Belum sempat aku menjawab Bu Romlah langsung berkomentar lagi.


“Halaah ... berapa sih gaji sekretaris, palingan ntar jadi simpanan bosnya, biasanya kan gitu kalo sekretaris, trus dikasih uang, apartemen, shopping.”


“Astaghfirullah Bu Romlah, kok Bu Romlah memfitnah Sinta begitu, gak semua sekretaris yang seperti Bu Romlah bilang, coba kalau Tuti dikata-katain hal yang tidak dia lakukan, Bu Romlah marah gak?” Ucap ku tenang.

__ADS_1


“Ya marah sih,” jawab Bu Romlah.


“Sama halnya dengan saya Bu, Sinta juga marah kalo dikata-katain gitu, sabar juga ada batasnya Bu.”


“Kalo Sinta laporin ke polisi Bu Romlah bisa kena pasal pencemaran nama baik lo Bu.” Lanjut ku.


“Udah Ma, udah ... ayok kita pulang aja,”ajak Tuti.


“Iya ni Bu Romlah, mulutnya dijaga atuh, Neng Sinta kan jadi sedih, Teteh percaya kok Neng Sinta gak gitu orangnya” Bela Teh Diah.


“Emang gue pikirin.” Sahut Bu Romlah ketus.


Bu Romlah dan Tuti berlalu dihadapanku, sabar memang ada batasnya ada kalanya kita diam tak menjawab, ada kalanya juga kita harus mempertahankan harga diri kita, jangan sampai orang lain menjatuhkan marwah kita.


Aku segera pulang setelah membayar semua belanjaan yang ku beli di warung Teh Diah.


💙💙💙


Libur hari Minggu ini benar benar aku manfaatkan dengan baik menemani ibu serta bapak dan juga kakak kakakku, wekend Minggu ini kami putuskan akan pergi ke taman kota di kecamatan, taman kecil yang sejuk ada danau buatan serta banyak permainan yang bisa di mainkan anak anak. Bahkan ada pada pedagang kaki lima yang menjajakan jualnya di sana.


💙💙💙💙


Hari berlalu tak terasa aku sudah terbiasa dengan sikap dinginnya Pak Damar, mengerjakan tugas dengan cepat, tak pernah basa-basi, irit bicara, tegas dan harus tepat waktu.


Asal dia menghargai waktu shalatku saja sudah cukup, namanya juga jadi bawahan ya harus ikut semua perkataan Bosnya dalam hal pekerjaan.


Ketika sedang makan siang di kantin bersama Andina dan Cellin.


“Assalamu’alaikum Sinta.” Ucapnya sambil tersenyum.


Aku, Cellin dan Andina berpandangan heran.


“Wa’alaikumsalam.” Sahutku.


“Kok ngucapin salamnya ke Sinta doang Pak?” tanya Andina.


“Anu ... cuma mau nanyak alamat rumahnya Sinta aja dimana.”


“Memang kenapa Pak Lukman, mau ngelamar Sinta ya?” ledek Cellin.


“Cuman mau tau aja, boleh kan Sinta?”


Aku mengangguk dan memberi tahu alamat rumahku, hanya sebuah alamat ku rasa tidak masalah memberikannya.


Dari usianya dan pembawaannya ku pikir Pak Lukman sudah menikah, ternyata masih lajang juga.


Pak Lukman cukup ramah dengan karyawan lain, walaupun jabatannya lumayan tinggi tapi sikapnya sangat baik bahkan dia tak segan memberi arahan kepada karyawan yang butuh bantuan.


Berbanding terbalik dengan sikap Pak Damar.


“Jangan-jangan ada udang dibalik bakwan ni.” Ledek Cellin lagi.

__ADS_1


“Ah kamu Cellin negatif thinking aja sama saya, ya udah saya mau ke ruang Pak Damar dulu.” Ucap Pak Lukman.


“Sinta saya duluan ya.” Pak Lukman meminta izin dariku. Aku mengangguk.


Pak Lukman segera berlalu.


Terlihat Andina dan Cellin tersenyum penuh arti kepadaku. Aku tak menanggapinya.


“Pak Lukman itu temennya Pak Damar ya Ndin?” Tanyaku ingin memastikan.


“Iya, temen Pak Damar waktu kuliah dulu.”


“Ohh”


Aku tak bertanya lebih jauh lagi kepada mereka, takutnya mereka mengira aku yang bukan-bukan.


💙💙💙💙


Tak ... Tak ... Tak ... Tak ...


Bunyi sepatu high heel beradu dengan ubin terdengar dari kejauhan. Seorang perempuan cantik sedang berjalan ke arahku, Langkahnya tertata rapi bak modeling yang sedang berjalan di atas catwalk.


Ku picingkan mataku untuk melihat lebih jelas, seorang perempuan memakai dress hitam dibawah lutut tanpa lengan, rambut terurai sebahu dan ia menenteng tas branded berwarna gold kehitaman, ada kacamata hitam bertengger di atas hidungnya yang mancung.


Perempuan berwajah indo tersebut langsung masuk ke ruangan Pak Damar. Aku segera berdiri dan menghentikannya.


“Maaf Mbak, tadi Pak Damar berpesan dia tidak mau diganggu.”


Dia menatapku dari atas ke bawah, sembari menurunkan kacamatanya dan tersenyum meremehkan.


“Emang kamu belum tau siapa aku ya?” Ucapnya sinis.


“Maaf Mbak saya hanya menjalankan tugas dari Pak Damar, beliau sedang tidak mau diganggu.” Ucapku sesopan mungkin.


“Sst ... udahlah kamu tenang aja, Pak Damar gak akan marah kok sama saya” Ucapnya lagi sambil berlalu masuk ke ruangan CEO.


“Mbak ... Mbak ... “


Yah mau bagaimana lagi ia sudah langsung menerobos masuk, semoga saja Pak Damar tidak memarahiku nantinya.


Selain seorang CEO yang sukses, Pak Damar juga memiliki wajah yang tampan asli pribumi keturunan darah biru, berbadan tegap dan kharismatik.


Sudah barang tentu banyak wanita-wanita cantik yang akan menggilainya dan menggodanya.


Mungkin wanita ini salah satu penggemarnya juga. Atau dia pacar barunya pak Damar?


Mungkin saja? Ngapain juga aku memikirkan hal yang tidak penting seperti ini, buang-buang energiku saja, yang penting aku melaksanakan tugasku sebagai sekretaris dengan baik di perusahaan ini, ku rasa itu sudah cukup.


💙💙💙💙


...

__ADS_1


Syukron yang masih setia dan suka...maaf lagi klo ada kurang. jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2